Yaa Muqallibal Qulub.....
Tsabbit Qolbi 'aladinik....
Tsabbit Qolbi 'aladinik....
Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati...
tetapkanlah hati kami pada agamaMU..
___
Mungkin memang benar, penyakit hati setiap insan memang beragam. Hanya sang pemilik hati sekaligus pencipta hati yang berhak untuk mau diapakan hati ciptaanNya. Terpaan dan terjangan badai ke arah hati selalu menyerang kepada siapa saja yang rentan goyah dan lemah. Walau sudah kokoh dan pernah menang.. lalu akhirnya mampu melihat hamparan kemenangan.
Namun tetap saja DIA meluapkan rasa sayangnya dengan kembali lagi melatih hambaNYA dengan segala kuasa daya.. Termasuk kuasa akan Qalbu.
Dan.. Aku sudah pernah lulus dari ujian tentang hati, ujian paling sulit kategori hati... Ujian itu tentang penyakit hati. Tapi tak pernah kubayangkan bahwa akan merasakan lagi secepat ini. Rasanya masih belum lama terakhir kali kualami penyakit hati, seakan tak percaya akan merasakan lagi memori-memori yang sangat menyiksa nanti.
"aaaah..!"
"Ya Aziz.. Berilah kekuatan kepada hambaMU ini"
"Jangan dulu.. jangan sekarang.. sekarang masih banyak... sekarang ini posisiku sedang tak menentu.. jangan KAU biarkan hati ini akan jadi tak menentu juga"
Itulah ancaman yang paling kutakuti, ancaman yang akan menghantui. Ketika penyakit hati singgah maka semuanya bisa berubah. Jangan sampai goyah walaupun aku ini lemah, jika hidupku kembali berubah maka selesai sudah.
Kini ku hanya bisa pasrah serta tak boleh menyerah, kapan terjangan dan goncangan itu akan singgah. Aku tak habis pikir bahwa ini nyata. Kuharap ini mimpi tapi aku sudah bisa merasakan ini dan ternyata ini benar-benar terjadi.
Memori-memori yang terkunci seakan punya kekuatan untuk bangkit dan menampakkan diri dengan segala pesona yang tersimpan di dalamnya. Dan aku harus menyaksikannya.
Aku harus menderita lagi dan mengalami lagi bagaimana ketika itu aku hampir saja lupa diri.
Skenario-skenario terburuk terus melintas di kepalaku. Berbagai kemungkinan yang siap terjadi seiring dengan kedatangnya.
Lagi dan lagi orang itu yang menjadi bahan ujian dariNya untukku. Kenapa harus dia?
"Kenapa harus Muslimah?"
"Muslimah kini kembali............"
Tak sempat terpikir olehku hal ini akan terjadi, secara mengejutkan dia kembali. Rasanya aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Setelah perpisahan saat itu, aku pikir tak mengkin secepat ini dia kembali dan ada kesempatan sekedar menemuinya. Kupikir kami sudah mulai fokus pada kehidupan masing-masing. Aku dengan aktifitas sehari-hari, lalu dia dengan kuliahnya di luar negeri sana.
Kini pikiranku dilanda kebingungan tak menentu.. Ini bukan seperti yang dulu, ini bukan penyakit hati. Sebuah tanda tanya besar dalam kepalaku.
"Mengapa Muslimah kembali ?"
Kemelut dalam kepalaku terus berusaha mencerna kejadian ini, mencari-cari jawaban dari tanda tanya besar ini. Seakan semua saraf dalam tubuhku bekerjasama mendukung otak untuk mengeksploitasi daya pikirku lalu menemukan jawabannya, untuk paling tidak berhipotesis yang paling mungkin tentang kembalinya Muslimah.
"aaah..mengapa sampai sejauh ini?"
Pemikiranku ini menjadi sumber dari berbagai penderitaan yang kurasa. Potongan-potongan obrolan bersamanya mulai keluar membayangi lagi kemanapun aku memandang, momen-momen bersamanya dari awal hingga akhir... semuanya terus bergantian merasuki hari-hari dalam kehidupanku, menutupi arah pandangku dan merusaknya serta mulai mengganggu kehidupanku lagi.
"Sampai kapan ini akan berakhir?"
Aku tak mau ini terus tejadi, aku tak mau ini terus menyiksa diri. Aku harus mencari tahu mengapa dia kembali, perkara apa yang membuatnya sampai melakukan ini. Aku harus mencari tahu untuk menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertama kali aku ketahui dia kembali kuingat melalui suatu grup suatu forum di sosial media. Seperti aku mengenalnya pertama kali, ya di media itu awal kami bertemu dan 'berpisah'. Kini aku ingat bagaimana kami memulai komunikasi, bagaimana kami setuju untuk memulai bisnis dan bagaimana dia mengakhiri bisnis kami..... Serta bagaimana diriku mengutarakan isi hati ini... lalu dia pergi. Dan sekarang kembali.
Dia memberitahu akan kepulangannya melalui forum itu... Aku dan teman-teman pun terkejut. Beberapa teman bertanya kepadanya. Lalu dia pun menjelaskan... Tanya jawab berlangsung saat itu. Aku ikut menyaksikan...tanpa melibatkan diri. Tak perlu aku meluapkan rasa penasaran. Cukup teman-teman saja yang mewakiliku untuk bertanya. Jadi aku tak harus memperbanyak pertanyaan lagi. Cukup aku saksikan saja tanya jawab itu. Hingga akhirnya kutemukan apa yang membuatnya sampai harus kembali, dari penjelasannya di forum itu dapat aku ambil satu kata yang menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini. "Sakit".
Aku alihkan pandanganku di layar ponsel lalu kutinggalkan tanya jawab yang masih berlangsung saat itu.
Rasa penasaran sudah hilang, namun sesuatu yang baru muncul mengitari kepalaku. Momen-momen yang menyenangkan berputar dalam setiap apa yang kubayangkan. Bak sebuah film, aku seperti menonton sendiri bagaimana pesonanya yang sederhana membuatku tak bisa berhenti berpikir tentangnya.
Kami masih terjalin komunikasi di media itu, aku tahu walaupun antar negara.. tetap masih dapat menjalin komunikasi di media itu, seperti halnya aku dan Muslimah serta rekan-rekan di forum itu.
Pada akhirnya dia kembali setidaknya untuk waktu yang cukup, karena suatu perkara. Di forum itu kami sepakat untuk menengok adik dari Muslimah yang terserang suatu penyakit. Yaa benar.. Muslimah kembali karena adiknya yang jatuh sakit, awalnya kukira terjadi sesuatu dengan dia ternyata adiknya yang menjadi penyebab dari kepulangan Muslimah.
Hari H telah direncanakan untuk menjenguk sekaligus bertemu Muslimah dan keluarganya. Kami di forum itu tak bisa semua turut serta, jadi kami telah memutuskan untuk siapa saja yang bersedia dan dapat meluangkan waktu. Akhirnya empat orang-lah yang terdiri dari dua lelaki dan dua perempuan lalu aku salah satu dari mereka.
Kemelut dalam pikiran seakan bangkit lagi.. "Sikap seperti apa yang akan kulakukan ketika bertemu dengannya?"
"Sadarkah kau Muslimah?"
#Bersambung
"Kenapa harus Muslimah?"
"Muslimah kini kembali............"
Tak sempat terpikir olehku hal ini akan terjadi, secara mengejutkan dia kembali. Rasanya aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Setelah perpisahan saat itu, aku pikir tak mengkin secepat ini dia kembali dan ada kesempatan sekedar menemuinya. Kupikir kami sudah mulai fokus pada kehidupan masing-masing. Aku dengan aktifitas sehari-hari, lalu dia dengan kuliahnya di luar negeri sana.
Kini pikiranku dilanda kebingungan tak menentu.. Ini bukan seperti yang dulu, ini bukan penyakit hati. Sebuah tanda tanya besar dalam kepalaku.
"Mengapa Muslimah kembali ?"
Kemelut dalam kepalaku terus berusaha mencerna kejadian ini, mencari-cari jawaban dari tanda tanya besar ini. Seakan semua saraf dalam tubuhku bekerjasama mendukung otak untuk mengeksploitasi daya pikirku lalu menemukan jawabannya, untuk paling tidak berhipotesis yang paling mungkin tentang kembalinya Muslimah.
"aaah..mengapa sampai sejauh ini?"
Pemikiranku ini menjadi sumber dari berbagai penderitaan yang kurasa. Potongan-potongan obrolan bersamanya mulai keluar membayangi lagi kemanapun aku memandang, momen-momen bersamanya dari awal hingga akhir... semuanya terus bergantian merasuki hari-hari dalam kehidupanku, menutupi arah pandangku dan merusaknya serta mulai mengganggu kehidupanku lagi.
"Sampai kapan ini akan berakhir?"
Aku tak mau ini terus tejadi, aku tak mau ini terus menyiksa diri. Aku harus mencari tahu mengapa dia kembali, perkara apa yang membuatnya sampai melakukan ini. Aku harus mencari tahu untuk menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertama kali aku ketahui dia kembali kuingat melalui suatu grup suatu forum di sosial media. Seperti aku mengenalnya pertama kali, ya di media itu awal kami bertemu dan 'berpisah'. Kini aku ingat bagaimana kami memulai komunikasi, bagaimana kami setuju untuk memulai bisnis dan bagaimana dia mengakhiri bisnis kami..... Serta bagaimana diriku mengutarakan isi hati ini... lalu dia pergi. Dan sekarang kembali.
Dia memberitahu akan kepulangannya melalui forum itu... Aku dan teman-teman pun terkejut. Beberapa teman bertanya kepadanya. Lalu dia pun menjelaskan... Tanya jawab berlangsung saat itu. Aku ikut menyaksikan...tanpa melibatkan diri. Tak perlu aku meluapkan rasa penasaran. Cukup teman-teman saja yang mewakiliku untuk bertanya. Jadi aku tak harus memperbanyak pertanyaan lagi. Cukup aku saksikan saja tanya jawab itu. Hingga akhirnya kutemukan apa yang membuatnya sampai harus kembali, dari penjelasannya di forum itu dapat aku ambil satu kata yang menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini. "Sakit".
Aku alihkan pandanganku di layar ponsel lalu kutinggalkan tanya jawab yang masih berlangsung saat itu.
Rasa penasaran sudah hilang, namun sesuatu yang baru muncul mengitari kepalaku. Momen-momen yang menyenangkan berputar dalam setiap apa yang kubayangkan. Bak sebuah film, aku seperti menonton sendiri bagaimana pesonanya yang sederhana membuatku tak bisa berhenti berpikir tentangnya.
Kami masih terjalin komunikasi di media itu, aku tahu walaupun antar negara.. tetap masih dapat menjalin komunikasi di media itu, seperti halnya aku dan Muslimah serta rekan-rekan di forum itu.
Pada akhirnya dia kembali setidaknya untuk waktu yang cukup, karena suatu perkara. Di forum itu kami sepakat untuk menengok adik dari Muslimah yang terserang suatu penyakit. Yaa benar.. Muslimah kembali karena adiknya yang jatuh sakit, awalnya kukira terjadi sesuatu dengan dia ternyata adiknya yang menjadi penyebab dari kepulangan Muslimah.
Hari H telah direncanakan untuk menjenguk sekaligus bertemu Muslimah dan keluarganya. Kami di forum itu tak bisa semua turut serta, jadi kami telah memutuskan untuk siapa saja yang bersedia dan dapat meluangkan waktu. Akhirnya empat orang-lah yang terdiri dari dua lelaki dan dua perempuan lalu aku salah satu dari mereka.
Kemelut dalam pikiran seakan bangkit lagi.. "Sikap seperti apa yang akan kulakukan ketika bertemu dengannya?"
"Sadarkah kau Muslimah?"
#Bersambung




