Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Sunday, April 26, 2015

Jalan Baru

Hari demi hari, minggu bertemu minggu dan bulan menyambung bulan. Sudah tak ada lagi sisa-sisa pikiran mengenai Muslimah. Kuakui sebagai seorang pria, wanita adalah godaan yang mutlak di dunia ini yang harus dihadapi dengan pikiran yang bijak. Berlindung serta selalu berdoa kepada sang Khalik agar hati selalu sehat dan baik adalah doa yang tak pernah absen kuucap.

Kini keseharian dan rutinitas yang biasa kulakukan berjalan dengan baik dan lancar, setidaknya aku bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan pendidikan kuliah di tahun ini. Aku bisa berfokus pada tugas akhir sebagai mahasiswa semester delapan. Semoga saja tak ada hambatan tertentu saat pikiran dan hati sudah stabil ini, apa jadinya jika harus mengalami lagi seperti kemelut mengenai Muslimah...

Keseharian dalam bekerja dan berkomunitas aku jalani dengan penuh semangat. Di dunia maya utamanya aku terbilang rajin menyuarakan sesuatu yang kuanggap bermanfaat. Aku rajin mengecek forum-forum bisnis, forum jual beli dan sejenisnya.

Aku memang mempunyai visi misi untuk membangun sebuah usaha dan mempunyai bisnis yang baik. Menjadi seorang karyawan selamanya tentu bukan suatu tujuan. Kelak ketika sudah berumahtangga, waktuku tidak 'terbuang' di tempat kerja. Aku ingin menjalani sebuah keluarga dengan waktu yang cukup. Bisa beraktifitas lebih leluasa serta bisa menghadiri majelis-majelis ilmu adalah angan-angan yang kupendam hingga saat ini.

Mempercayakan segala sesuatu pada-NYA diiringi usaha, doa dan ikhtiar tak boleh kulewatkan. Aku bersyukur bisa ada di posisi sekarang. Jika melihat kanan dan kiri rekan, banyak yang terlihat belum baik.

Perjalanan hidup yang kutempuh amatlah penuh warna. Aku yakin ALLAH SWT telah merumuskan bagaimana perjalanan hidupku akan terus berlanjut. Tiada rencana indah seindah rencana-NYA..

Tak menyangka tak terduga tak menyapa. DIA menjawab angan-anganku dalam hati dengan menghadiran seseorang. Orang yang akan menjadi kisah baru dalam perjalanan hidupku.

Berawal dari sebuah postingan di suatu forum bisnis. Suatu postingan yang berisi menanyakan jasa pembuatan dokumen. Karena tak lazim, aku putuskan untuk menghubunginya melalui pesan pribadi untuk menanyakan perihal postingan tersebut. Dia memaparkannya maksud dan tujuan jasa pembuatan dokumen. Dapat kusimpulkan bahwa dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan penting.

Sebenarnya aku bisa saja buatkan karena bermodal menguasai suatu program desain grafis. Tetapi entah mengapa hati masih belum yakin dan mungkin ini juga kehendak-NYA.. akhirnya aku sudahi komunikasi tersebut. Untuk jaga-jaga pikirku.. aku simpan kontaknya.

Benar saja. Walaupun tak menarik perhatian, aku sempatkan untuk memantau aktifitasnya di jejaring sosial, kupikir hal yang membuatku untuk sempatkan lihat perkembangannya yakni postingan-postingan dia yang kusukai dan membuatku semakin merasa butuh 'meng-update' aktifitas terbaru darinya. Postingan tulisan bertema kajian dan materi secara jelasnya yang membuatku merasa tenteram. Berbeda dengan cara orang lain dalam memposting sejenisnya.

Seiring berjalannya waktu, komunikasi bersama dia semakin intens. Itulah awal-awal mengenai seseorang yang akan ikut mewarnai perjalanan hidupku.

Orang yang DIA hadirkan, siap menyusun kisah baru dalam perjalanan hidupku. Sebuah perjalanan perjuangan tanpa jera tanpa tapi, karena "lillah" .

Satu dari sekian banyak orang yang sudah ikut menemani kisah jejakku dalam mengarungi kehidupan.

Akupun tak sabar untuk menyaksikan dan menorehkannya melalui goresan.
Seperti apa dan bagaimana dia memainkan perannya sebagai seseorang yang DIA hadirkan..

Bagaimana caranya berkomunikasi sesuai dengan batas-batas, bagaimana caranya menyikapi orang sepertiku. Adalah sesuatu yang membuatku semakin mengerti dan memahami akan pentingnya dalam menghormati seorang wanita khususnya bersikap terhadap akhwat. Banyak hal yang dia beri.
Hingga akhirnya kuajak untuk bergabung di komunitas yang kuikuti dan ketersediaannya turut serta.

Semua itu yang membuatku tertarik.
Semua itu yang menjadi awal mula bagaimana kisah baru nan berbeda yang aku terus alami..
Semua itu yang membuatku untuk suatu ketika memutuskan sesuatu.


dan orang itu bernama.....





#BERSAMBUNG...

Tuesday, April 14, 2015

Terimakasih Muslimah

Tiba akhirnya untuk kami berempat menuju rumah Muslimah... Kami disambutnya beserta orangtuanya. Suasana saat itu amat santai dan cepat mencair. Diawal-awal kami mengobrol sekedar saling bertanya kabar dan perkembangan aktifitas, dan tentunya menanyakan keadaan adik Muslimah yang akhirnya kami lihat masih terbaring lemah tak berdaya di kamarnya.

Ibunya menceritakan bahwa si adik ini anaknya periang, rajin dan tidak bandel.. kami menyimak cerita beliau bagaimana menggambarkan anak bungsunya itu, sesekali Muslimah ikut menimpali bagaimana hubungan dia dan adiknya itu.

ilustrasi
Setelah selesai menengok di kamar adiknya, kamipun kembali ke ruang tamu lalu melanjutkan pembahasan lain. Perihal kuliah di luar negeri dan aktifitas terkinipun menjadi topik yang kami tanyakan kepada Muslimah. Dengan santai dia memaparkan. Dia menjelaskan bagaimana awal mula mencari-cari jalan untuk memperoleh beasiswa, mencari rekan di negara tujuan, mempersiapkan segala macam yang perlu dipersiapkan. Ia pun sempat menceritakan bagaimana masa-masa karantina bersama peserta lain. Perjalanan penuh hambatan dari rumah menuju tempat karantina pun tak sampai lupa ia paparkan. Kami menyimak ceritanya dengan terkagum-kagum dan kadang sesekali tertawa karena Muslimah sesekali menunjukkan sisi polosnya.

Aku yang salah seorang dari mereka hanya bisa diam dan menyimak jalannya obrolan itu. Tentu saja aku masih dihantui kemelut serta kebingungan plus rasa grogi yang sudah berakar semenjak awal . Hingga akhirnya salah seorang rekan perempuan menyinggungku , "Asep kok diem aja? ngomong dong". Kalimat itu sukses membuat lamunan dalam kebingunganku pecah. Tanpa diperintah atau direncakanan mulutku bicara dengan sendirinya "Saya sedang menyimak nih" mantap keluar dari mulutku sambil mengeluarkan mimik senyum nan percaya diri. Mereka tak tahu sebenarnya bahwa aku tak mempunyai kata-kata untuk dilontarkan.

Sesaat mendengar itu Muslimah pun berkata, "Menjadi pendengar yang baik ya" lengkap dengan senyumnya. Dan akupun hanya bisa tersenyum. Lalu obrolan pun berlanjut hingga sore hari.

Kami pun akhirnya harus menyudahi kunjungan itu, sebelum pamitan tak lupa kami bawakan oleh-oleh untuk si adik Muslimah yang tengah sakit. Lalu kami pun menyampaikan terimakasih dan doa kepada adik Muslimah.

Aku akhirnya bisa bernafas lega telah melewati hari ini dengan lancar, terlebih agenda menjenguk adik Muslimah dan pertemuan dengannya setelah sekian waktu atau setelah obrolan terakhir kami.
Aku sempat melihat mimik tersendiri dari wajahnya saat aku dan yang lain berkunjung, mungkin dia pun menyadari dan memahami sikapku yang lebih memilih banyak diam saat itu. Untunglah tidak terjadi obrolan yang tidak aku dan dia khawatirkan akan terlontar dengan sendirinya.

Entah kenapa malamnya aku menjadi merasa lega, kemelut dan kebimbangan seakan menghilang. Saat itu, aku berfikir tak mau orang seperti dia dan orang-orang lain yang kutemui dalam hidup ini yang meninggalkan kesan berbeda, aku tak ingin melupakan bagaimana hal itu bisa mewarnai perjalanan hidupku. Dan aku memutuskan untuk membuat tulisan. Dan tulisan seperti ini serta sebelumnyalah adalah hasil dari ideku malam itu.

Aku menyutujui bahwa semua orang pasti akan mengingat perjalana hidupnya, tetapi tidak semua orang dapat merekam serta mengemas kisah mereka dengan suatu cara, dan salah satu cara tersebut adalah dengan menorehkannya keadalam bentuk tulisan.

Aku yang mulai menyukai dunia menulis, bisa dikatakan bahwa perkenalan dengan Muslimah adalah salah satu pemicunya.

Terimakasih Muslimah, aku dan teman-teman lainnya terus mendoakan serta mendukung impian-impian hebatmu. Teruslah maju. Percayalah pada kehendak-NYA.. Karena segala sesuatu terjadi berkat kehendak-NYA. Termasuk keajaiban.

Salah satu hal yang bisa menolong keadaan buntu manusia adalah keajaiban.. dan keajaiban berasal dari kehendak-NYA.


Monday, April 6, 2015

1435H Terhangatku (Bagian keempat)

#Lanjutan


Aku memulai kembali beraktifitas...memulai bekerja dengan masih dipenuhi rasa khawatir di kepala yang tidak jelas kapan akan berhenti. Benar memang hari itu aku tidak bisa berkonsentrasi, beberapa rekan kerja menyadari hal itu. Kucoba ceritakan pada mereka...lalu mereka men-support agar aku bersabar dan mendoakan.

Seperti sebelumnya, aku manfaatkan jam istirahat untuk menelepon kakak dan bertanya mengenai perkembangan ibu. "Hari ini dokter spesialis akan periksa ibu dek" ucap kakakku dalam telepon.
"Dokter spesialis? kenapa baru hari ini mau diperiksa? kemarin-kemarin kemana? jadii.... pantes aja kerasa ada yang nge-ganjel.." ucapku menimpali. "Bukan gitu dek.. pas kamu nemenin ibu kebetulan hari libur, terus besoknya dokternya juga dinas di tempat lain..jadi hari ini baru diperiksa" jawab kakakku. Aku menjadi kesal.. lalu kembali berkata "Hhh... tolong pas dokternya mau periksa ibu, temenin pastiin ada hasil, terus dari hasil itu harus ada langkah apa selanjutnya... gimana prosedurnya... pastiin ga ada yang terlewat.. ". Kakakku menjawab "iya-iya dek.. yaudah entar sore dikabarin lagi."

Aku dibuat makin tidak sabar, hasilnya semakin "ga konek" ketika bekerja. Sampai-sampai aku menabrak dinding kaca yang kukira tidak ada. Lalu menjadi "plin-plan". Kacau hariku saat itu, berharap segera selesai dan mendapat kabar kejelasan mengenai penanganan ibu.

Hingga tiba akhirnya jam pulang, aku segera hubungi kakak. "Gimana sih, katanya mau ngabarin?" kumulai obrolan tanpa sapa . Kakakku lalu menjelaskan, "Tadi sudah diperiksa dokter.. hasilnya besok ibu harus dioperasi untuk memeriksa organ usus, maaf dek tadi kakak kecapaian jadi lupa ngabarin kamu dengan segera.. sekarang ibu sedang tidur, sudah diperiksa suster juga dikasih asupan.. kamu bisa tenang, nanti besok kalau bisa jangan hubungi kakak dulu mungkin bakal sibuk, kakak janji akan ngabarin jika sudah ada hasil ya". Mendengar penjelasan dari kakakku itu, aku memang sedikit lega, tetapi bersamaan dengan itu bertambahlah rasa khawatir karena besok ibuku dijadwalkan untuk operasi.

Tapi walaubagaimanapun hari itu sangat terasa berbeda, ketika aku sudah sampai di kontrakan.. beraktifitas menyibukkan diri. Temanku melihat dan berkata "Sep.. mata loe kenapa? dari tadi kaya habis nangis aja..?!". Aku jelaskan bahwa fikiran sedang tak karuan karena rasa khawatir mengenai kondisi ibu . Temanku lalu ikut berempati dan berusaha menghiburku.

Aku berharap besoknya proses jalannya operasi ibuku lancar tanpa ada sesuatu kendala sekecil apapun. Dan kakakku bisa maksimal dalam mendampingi ibu disana serta segera memberi kabar untukku untuk menghapus kemelut fikiran yang tak karuan ini.



#Bersambung





Blogroll