Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Monday, November 23, 2015

Jalan Baru (Bagian 3)

Aisyah... kuberanikan ta'aruf denganmu...

@sahwani12 

Bagi seorang lelaki apabila dilanda oleh gelombang pikiran yang mengganggu, terutama mengenai seorang wanita. Dalam hal ini seorang akhwat bernama Aisyah yang "sukses" menghantui kehidupanku dengan dahsyatnya.

Tiada waktu selain kepastian salah satunya berinteraksi dengamu Aisyah, apapun yang dapat dibahas kami bahas sampai-sampai kutenggelam dalam khayalan mengenaimu. Komunikasi yang intens dan kekhawatiran akan apa yang kualami menjadi zina hati dan pikiran, menjadi dosa. Maka kucoba untuk menepisnya dengan berpuasa serta mengurangi komunikasi dengannya. Akan tetapi, tetap saja hari-hariku masih diganggu oleh sosoknya.

"Aisyah... dengarlah.. jangan sampai kejadian yang sama seperti Muslimah terulang kembali.."

Tidakkah saat ini kusedang menghadapi berbagai pekerjaan yang harus kuselesaikan. Bagaimana mungkin aku bisa menyelesaikan skripsiku dengan keadaan seperti ini. Belum lagi rutinitas utamaku.

Yang teringat, terlintas serta kutahu adalah jika sudah menghindari, lalu berpuasa untuk membentengi diri dari hasutan fitnah wanita. Cara terakhir adalah dengan menikahinya. Tapi bagaimana mungkin dengan keadaan seperti ini aku bisa menikah? Akupun sudah pernah sekali mengalami ini dan kujadikan masa lalu yang terlewati. Tentang Muslimah yang sudah benar-benar kulupa tanpa membekas sedikitpun.

Tapi hal yang sama terjadi lagi dan kali ini kau Aisyah, seandainya saja kau tahu bagaimana menderitanya saat itu.

Hal yang sama akan kulakukan juga padamu Aisyah.

Saat hatiku sudah mantap, telah kususun bagaimana cara mengutarakan niat. Melalui media yang sering kami pakai untuk komunikasi kuutarakan semua yang kualami.

Pesan untukmu Aisyah:

Aisyah.. aku ingin jujur kepadamu..
Aku terkena penyakit hati dan itu karena sosokmu..


Kau tahu kan kalau aku hanya seorang mahasiswa akhir yang juga pekerja biasa, ibadahku pas-pas'an. Aku bersyukur punya umi yang selalu mendidik dalam hal agama. Tahukah kau Aisyah? Dari cara kau mengingatkan sholat, aku langsung teringat umi, kalian mirip!

Jadi begini Aisyah.. aku ga mau terus2an kehidupanku dihantui sosokmu.. Aku sudah berusaha dan akan terus berusaha membentengi diri. Tetapi jika masih saja, aku bakal utarakan tuk berniat khitbah dirimu..

Aku tak mau syetan terus menggangguku!

Seperti yangg kulakukan kepada Muslimah. Walaupun dia "menolak", aku sudah utarakan saja itu sudah cukup. Tak ada lagi sisa2 penyakit hati.


Nah untukmu Aisyah, jika memang aku terus mengalami penyakit hati ini bersamaan dengan usahaku terus membentenginya,akan kulakukan sperti yang kulakukan kepada Muslimah.

Tetapi..
saat ini diriku sedang menempuh skripsi.. akhir tahun diperkirakan wisuda, aku bukan sedang pesimis, aku hanya ingin sampaikan bahwa jika menikah setelah skripsi selesai itu sudah membuat diriku sdikit plong.


aku juga memiliki rencana tentang membangun kerajaan bisnis bersama istriki kelak..

Maaf Aisyah, jika kau tak sanggup selama itu.. mohon dirimu menghilanglah atau menjaub dari jaungkauanku.

Jika kau sanggup, aku juga masih pesimis.. karena mungkin saat nanti akhirnya kita bertatap muka dirumahmu..

Maaf Aisyah, jika sudah tak kuat, aku pasti blak_blakan.

Satu lagi Aisyah, aku bukan sok pede tapi sudahi main kode2an.

Maaf juga Aisyah.. Maafkan aku..


Abaikan pesanku ini jika kau sedang dalam proses taaruf atau lebih dari itu / sudah menemukan calon pendamping.

--Kang Asep--


"Huuuffttt..!" Aku menarik nafas panjang sesaat setelah mengirim pesan itu.

Terlihat sudah terbaca pesan ku olehnya. Segera kumatikan handphone, rasanya belum siap untuk membaca balasannya. Tapi akhirnya aku beranikan untuk menghidupkan lagi, ternyata masih belum dibalas olehnya.

Aku tunggu lagi sampai ada balasan. Ah mungkin tidak secepat itu dia membalasnya. Aisyah butuh waktu dan sedang mempelajari pesanku yang dirangkai apa adanya.

Kusudahi menunggu jawaban darinya, kupilih untuk menyibukkan diri dengan melakukan sesuatu. Dan sampai pada akhirnya sudah ada jawaban darinya.

Jawaban Aisyah . . . .



#BERSAMBUNG

penasep.blogspot.com

Monday, July 13, 2015

Jalan Baru (bagian 2)

Aisyah namamu


"Kamu sudah sholat?"
"Belum.."
"Kalau begitu jamaah yuk?"
"He'em"

Kamipun sholat bersama, tak kusangka kau rela menungguku pulang dari bekerja dan tak mau melewatkan beribadah bersama aku suaminya.

Disebuah rumah sederhana, kami mengarungi rumah tangga sebagai pasangan baru. Entah rasa syukur seperti apa yang pantas kuucap, Allah menganugerahkan istri sholehah sepertinya. Yang selalu menyejukkan dikala aku merasa penat, yang selalu mengingatkan dikala aku lupa serta selalu sabar terhadap berbagai masalah dan kekuranganku.

Seperti biasa kami menyempatkan dalam sehari untuk saling bertilawah secara bergantian, satu sama lain saling mengoreksi bacaan. Diantara kami tidak ada yang merasa paling benar, tentunya sebagai seorang imam aku harus memastikan bahwa bacaanku haruslah baik karena aku sadar  akan kewajibanku untuk mengajari dan membina. Aku bersyukur setidaknya membaca ayat suci tak menemui kesulitan.

"Terimaksih umi.. terimakasih bapak ustadz a, b, c, ... , " terucap dalam hati ketika momen belajar membaca kalam-NYA semenjak kecil selalu teringat.

Kami sangat menikmati kegiatan yang satu ini, saling mendengarkan, saling mengoreksi dan terkadang dibumbui tawa kecil. Begitu indah ibadah dalam bingkai rahmat dan ridho-NYA.

Kusaksikan saat dia membaca, kuperhatikan bacaannya. Namun kali ini kuperhatikan wajah polosnya, dia terus membaca dan kuterus menatapnya.

"Inilah istriku" gumamku dalam hati.

Entah mengapa sesaat kemudian pandanganku menjadi gelap, wajahnya yang kutatap perlahan mengilang.

"Astaghfirullah..!"

Aku tersentak kaget, Pandanganku kembali jelas sedikit-demi sedikit. Perlahan aku atur nafas, lalu ku senderkan badan pada dinding. Kucoba mencerna, barulah tersadar ternyata aku tertidur dan mengalami mimpi, mimpi yang belum pernah kualami selama ini.

Kulihat waktu menunjukkan hampir tengah malam, kuarahkan pandanganku pada sekeliling. Terlihat ada tumpukan baju, botol air mineral dan sebuah laptop yang masih menyala lengkap dengan tugas akhir kuliahku yang belum selesai. Aku baru ingat, aku mengalami kebuntuan saat mengerjakan tugas itu, lalu mencoba berhenti sejenak dan membuka ponsel. Entah apa yang kulakukan, ternyata terakhir aku telah ngobrol dengan seseorang. Dan akhirnya tertidur.

Orang yang kumaksud adalah dia yang akhir-akhir ini intens berkomunikasi denganku, banyak hal yang membuatku tertarik untuk terus mengobrol dengannya. Cara komunikasinya menurutku yang santun,lewat ketikan demi ketikan berbeda dari orang-orang yang pernah mengobrol denganku. Meskipun kami belum saling mengetahui secara langsung atau bertemu. Rasanya aku menikmati bisa saling membahas suatu hal untuk dibicarakan dengannya.

Cukup lama kami berkomunikasi, hingga pada akhirnya syetan mulai masuk diantara kami. Jalanya komunikasi mulai berubah, terkadang diantara kami ikut terpengaruh dengan sedikit berkata-kata yang seharusnya kami tak semestinya katakan.

Kaupun mulai menjauh dariku, mengurangi komunikasi denganku tak merespon sapaanku.
Hal itu membuatku berpikir, ini memang wajar. Komunikasi antara lawan jenis memang tak seharusnya mengalir tanpa batas. Kau adalah wanita baik-baik, akupun merasa bukan orang yang tak baik.

Aisyah, namamu Aisyah. Sosok yang hadir dalam kehidupan baruku, sosok yang mengisi hari-hariku walau sekedar menjadi teman ngobrol melalui media. Dengan kepolosanku aku berpikir sederhana. Hanya ada satu cara yang benar untuk terus bisa berkomunikasi denganmu bahkan bukan hanya komunikasi.

Satu cara yang entah kupikir nekad atau berani. Setidaknya kepolosanku dalam hal ini berniat baik.

Aisyah, semoga kau menyadari ini. Semua kepolosanku ini akan kuandalkan.

Tak salah jika kunamai kau dengan Aisyah.



#bersambung

Wednesday, June 17, 2015

1435H Terhangatku ~(-the_last-)~

Ketika ibu menjalani masa pemulihan di rumah, banyak kerabat dan saudara yang datang menjenguk. Hampir setiap hari ada saja yang datang, kebanyakan dari mereka mengutarakan keheranan atau bingung, bagaimana mungkin ibuku bisa secara drastis sehat. Jika melihat dari awal ketika sakit, amat terasa lama berjuang untuk melawan penyakit yang diderita. Ibuku hanya bisa berkata kepada setiap pengunjung yang datang bahwa kesabaran dan berpasrah atas segala ujian dan cobaan yang Allah berikan hendaknya selalu ditanamkan dalam diri. Bukan berarti ketika sedang kondisi tak baik, bisa mengurangi kedekatan kepada sang Khalik,  justru sebaliknya keadaan semacam itu jadikanlah sebagai momentum untuk lebih mendekat kepada Allah SWT.

Boleh jadi Allah sedang rindu kepada hamba-NYA maka dengan memberikan keadaan semacam itu (sakit) menjadikan hubungan antara sang pencipta dengan ciptaan-NYA semakin dekat. Atau juga sebagai ajang dalam menempuh "kenaikan kelas" dimata-NYA. Itulah kurang lebih apa yang ibuku katakan kepada setiap orang yang menjenguknya.

Aku sendiri melihat apa-apa yang dilontarkan ibu setiap saat hampir semuanya bernilai dakwah, aku sangat sayang dan cinta kepada ibu. Seorang ibu yang terlihat biasa tetapi bukan ibu biasa dimata-NYA kuyakin itu. Sebagai anaknya aku harus mencurahkan segala rasa bakti dan doa kepada ibu. Sosok ibu dari dulu hingga detik ini dan sampai kapanpun telah menjadi motivasi dalam setiap perbuatan yang kulakukan. Sebuah alasan atas dasar berbagai tindakan, karena ibu!

Dalam satu bulan Ramadhan di tahun 1435H sebagian besar perhatian pada kondisi sakitnya ibu serta suka cita atas kesembuhan sang ibu. Aku harap di tahun berikutnya yakni  1436H (tahun ini) kami sekeluarga dapat menikmati bulan suci itu tanpa ada sesuatu yang kurang.

Aku ingin ibu menyaksikan bagaimana diriku menjalani setiap fase kehidupan terutama memulai kehidupan baru. Berbagai bekal dari beliau aku sangat butuhkan. Ketika aku mengalami suatu keadaan begini dan begitu, nasehat dan perkataan ibu seperti apa, yang aku ingin dengar. Tentunya tak mungkin selalu dan selamanya.

Pada akhirnya Alhamdulillah di tahun ini, ibuku dalam keadaan sehat. Tiada rasa syukur yang paling tinggi selain mensyukuri keadaan ibu yang baik.


-selesai-

Monday, June 8, 2015

1435H Terhangatku ( Bagian Ke enam)

....

Hari itu adalah hari yang kacau, amat kacau. Menunggu kabar mengenai jalannya operasi yang dilakukan ibuku merupakan hal yang menyiksa. Seharian terasa seperti sepanjang tahun.

ilustration
Hingga sampai aku selesai bekerja dan pulang. Masih saja kakakku belum mengabari, aku akhirnya berencana akan menghubungi langsung ketika nanti sudah tiba di kontrakan. Tapi, ketika aku hubungi pada sore hari, nomor telepon kakakku tak bisa dihubungi. Aku sudah tak tahu harus mengeluarkan ekspresi apa. Aku hanya bisa menunggu, aku hanya bisa berdoa dari sini semoga tidak terjadi apa-apa pada ibu.

Aku terpaksa hanya ditemani gelapnya malam untuk meratapi rasa khawatir dan terlelap dalam doa. Semoga Allah melindungi ibu disana.

Keesokan harinya aku bekerja seperti biasa, aku harus berkhusnudzon mengenai perkara ini. Aku harus memahami bagaimana kakakku mengurus segalanya, karena dia juga anak ibu sekaligus kakak kandungku. Aku tak bisa terus egois dan aku harus percaya.

Tak sampai pada siang hari disela-sela melakukan pekerjaan, ponselku berdering dan kulihat nama kakakku menghubungi. Segera kuangkat.

"Dek..!! dek..! sukses..!! sukses!!"

"Apa yang sukses?!"

"Itu.. operasi ibu, lancaaarr..! hhaa"

"Oowwh.. iyaaa.. (Alhamdulillah) "

"Maaf dek.. baru ngabarin.. kemaren itu sibuk banget ngurus semuanya.. ibu sudah boleh pulang.."

"Iya teh... berarti udah ga apa-apa lagi ya..?"

"Udah plong,, seger.. pokoknya udah jauh beda ibu keliatannya.."

"Syukur Alhamdulillah ... nanti pulang deh"

"Jangan sekarang, pas libur kerja aja.. ga repot lagi kalau di rumah"

"Yasudah , makasih teh.. "


Alhamdulillah Allah masih sayang pada ibuku, doa-doa terijabah dan rasa bingung lepaslah sudah.
Allah masih memberikan kesempatan kepada ibuku untuk mencicipi indahnya Ramadhan melalui berbagai ibadah. Melantunkan kalam-kalam-NYA serta mendengar lantunan aya-ayat-NYA yang terkadang sesambil menjelang tertelap biasa dilakukan. Termasuk mendengarkanku dari jauh lewat pengeras suara sebuah Musholla disetiap malam.


Hari demi hari dalam beraktifitas, aku jalani dengan lebih baik dan penuh semangat.







#bersambung


Monday, May 18, 2015

Tunggulah Aku


Setiap embun pagi selalu sama, murni, bersih, menyejukkan.
Air yang mengalir dengan bebasnya.
Angin yang berhembus sesukanya.

Berbeda dengan perasaan kita.

Seperti awan yang berubah sewaktu-waktu.
Terkadang berarak dengan indahnya, melayang melindungi semua di bawahnya dari terik matahari. Tapi tekadang juga berubah menjadi hitam pekat mencambuk segalanya dengan petir, kemudian mengguyur derasnya.
Lalu memantulkan keindahan yang berwarna saat semua di bawahnya masih basah.

Setapak jalan di bukit-bukit,  naik turun bergelombang, terkadang berujung buntu lengkap dengan jurangnya.
Juga terkadang membuat bingung dengan banyaknya jalan baru seperti lorong-lorong gua yang berjejeran, dan itu harus dipilih.

Seperti itulah kita.

Detik berdetik tanpa henti, resah melihat waktu yang terus bergerak semantara diantara kita tidak pernah terjadi kejelasan. Tatap mata bertemu, senyum malu-malu, pura-pura menghindar. Pura-pura bertanya kabar. Merah merona ketika nama terucap. Saling membayangkan dan tersenyum sendiri. Oh sungguh indah dunia.

Aku tahu diantara kita saling menjaga diri. Tidak banyak hal yang bisa kau lakukan selain menungguku. Tidak lebih dari itu. Sebab diantara kita bukanlah siapa-siapa.
Perasaan yang kita miliki tidak lantas membuat kita menjadi saling memiliki kan?

Sebab setiap perasaan memerlukan tindakan. Dan tindakan itu haruslah bertujuan. Bila aku menujumu, ingatkan aku untuk berpaling kepada Tuhan lewat matamu. Bertanyalah kabar tentang ibadahku. Bantu aku menjadi pantas.

Diantara kita tercipta hamparan berwujud jarak. Meski pada kenyataannya kita bertemu dan saling sapa setiap hari. Berada dalam satu tempat yang sama. Jarak yang akan hilang dengan beberapa ikrar kata.

Lalu mengenai waktu, seperti kita tahu, tidak pernah bisa diajak berkompromi. Tapi akan kucoba untuk berteman dengannya lalu kuajak untuk memihak kita. Akan kutemui pemilik waktu.
Selagi itu, diantara kita tetap diam.










Cukup curahkan segala harapan hanya padaNYA..

Aku ingin mengatakan sesuatu.

Akan terdengar penuh tantangan dan perjuangan. Sekaligus menjadi bentuk harapan.

Aku kini dalam perjalanan..
bersama dan seizin pemilik waktu,

jadi..

"Tunggulah Aku"







Sunday, April 26, 2015

Jalan Baru

Hari demi hari, minggu bertemu minggu dan bulan menyambung bulan. Sudah tak ada lagi sisa-sisa pikiran mengenai Muslimah. Kuakui sebagai seorang pria, wanita adalah godaan yang mutlak di dunia ini yang harus dihadapi dengan pikiran yang bijak. Berlindung serta selalu berdoa kepada sang Khalik agar hati selalu sehat dan baik adalah doa yang tak pernah absen kuucap.

Kini keseharian dan rutinitas yang biasa kulakukan berjalan dengan baik dan lancar, setidaknya aku bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan pendidikan kuliah di tahun ini. Aku bisa berfokus pada tugas akhir sebagai mahasiswa semester delapan. Semoga saja tak ada hambatan tertentu saat pikiran dan hati sudah stabil ini, apa jadinya jika harus mengalami lagi seperti kemelut mengenai Muslimah...

Keseharian dalam bekerja dan berkomunitas aku jalani dengan penuh semangat. Di dunia maya utamanya aku terbilang rajin menyuarakan sesuatu yang kuanggap bermanfaat. Aku rajin mengecek forum-forum bisnis, forum jual beli dan sejenisnya.

Aku memang mempunyai visi misi untuk membangun sebuah usaha dan mempunyai bisnis yang baik. Menjadi seorang karyawan selamanya tentu bukan suatu tujuan. Kelak ketika sudah berumahtangga, waktuku tidak 'terbuang' di tempat kerja. Aku ingin menjalani sebuah keluarga dengan waktu yang cukup. Bisa beraktifitas lebih leluasa serta bisa menghadiri majelis-majelis ilmu adalah angan-angan yang kupendam hingga saat ini.

Mempercayakan segala sesuatu pada-NYA diiringi usaha, doa dan ikhtiar tak boleh kulewatkan. Aku bersyukur bisa ada di posisi sekarang. Jika melihat kanan dan kiri rekan, banyak yang terlihat belum baik.

Perjalanan hidup yang kutempuh amatlah penuh warna. Aku yakin ALLAH SWT telah merumuskan bagaimana perjalanan hidupku akan terus berlanjut. Tiada rencana indah seindah rencana-NYA..

Tak menyangka tak terduga tak menyapa. DIA menjawab angan-anganku dalam hati dengan menghadiran seseorang. Orang yang akan menjadi kisah baru dalam perjalanan hidupku.

Berawal dari sebuah postingan di suatu forum bisnis. Suatu postingan yang berisi menanyakan jasa pembuatan dokumen. Karena tak lazim, aku putuskan untuk menghubunginya melalui pesan pribadi untuk menanyakan perihal postingan tersebut. Dia memaparkannya maksud dan tujuan jasa pembuatan dokumen. Dapat kusimpulkan bahwa dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan penting.

Sebenarnya aku bisa saja buatkan karena bermodal menguasai suatu program desain grafis. Tetapi entah mengapa hati masih belum yakin dan mungkin ini juga kehendak-NYA.. akhirnya aku sudahi komunikasi tersebut. Untuk jaga-jaga pikirku.. aku simpan kontaknya.

Benar saja. Walaupun tak menarik perhatian, aku sempatkan untuk memantau aktifitasnya di jejaring sosial, kupikir hal yang membuatku untuk sempatkan lihat perkembangannya yakni postingan-postingan dia yang kusukai dan membuatku semakin merasa butuh 'meng-update' aktifitas terbaru darinya. Postingan tulisan bertema kajian dan materi secara jelasnya yang membuatku merasa tenteram. Berbeda dengan cara orang lain dalam memposting sejenisnya.

Seiring berjalannya waktu, komunikasi bersama dia semakin intens. Itulah awal-awal mengenai seseorang yang akan ikut mewarnai perjalanan hidupku.

Orang yang DIA hadirkan, siap menyusun kisah baru dalam perjalanan hidupku. Sebuah perjalanan perjuangan tanpa jera tanpa tapi, karena "lillah" .

Satu dari sekian banyak orang yang sudah ikut menemani kisah jejakku dalam mengarungi kehidupan.

Akupun tak sabar untuk menyaksikan dan menorehkannya melalui goresan.
Seperti apa dan bagaimana dia memainkan perannya sebagai seseorang yang DIA hadirkan..

Bagaimana caranya berkomunikasi sesuai dengan batas-batas, bagaimana caranya menyikapi orang sepertiku. Adalah sesuatu yang membuatku semakin mengerti dan memahami akan pentingnya dalam menghormati seorang wanita khususnya bersikap terhadap akhwat. Banyak hal yang dia beri.
Hingga akhirnya kuajak untuk bergabung di komunitas yang kuikuti dan ketersediaannya turut serta.

Semua itu yang membuatku tertarik.
Semua itu yang menjadi awal mula bagaimana kisah baru nan berbeda yang aku terus alami..
Semua itu yang membuatku untuk suatu ketika memutuskan sesuatu.


dan orang itu bernama.....





#BERSAMBUNG...

Tuesday, April 14, 2015

Terimakasih Muslimah

Tiba akhirnya untuk kami berempat menuju rumah Muslimah... Kami disambutnya beserta orangtuanya. Suasana saat itu amat santai dan cepat mencair. Diawal-awal kami mengobrol sekedar saling bertanya kabar dan perkembangan aktifitas, dan tentunya menanyakan keadaan adik Muslimah yang akhirnya kami lihat masih terbaring lemah tak berdaya di kamarnya.

Ibunya menceritakan bahwa si adik ini anaknya periang, rajin dan tidak bandel.. kami menyimak cerita beliau bagaimana menggambarkan anak bungsunya itu, sesekali Muslimah ikut menimpali bagaimana hubungan dia dan adiknya itu.

ilustrasi
Setelah selesai menengok di kamar adiknya, kamipun kembali ke ruang tamu lalu melanjutkan pembahasan lain. Perihal kuliah di luar negeri dan aktifitas terkinipun menjadi topik yang kami tanyakan kepada Muslimah. Dengan santai dia memaparkan. Dia menjelaskan bagaimana awal mula mencari-cari jalan untuk memperoleh beasiswa, mencari rekan di negara tujuan, mempersiapkan segala macam yang perlu dipersiapkan. Ia pun sempat menceritakan bagaimana masa-masa karantina bersama peserta lain. Perjalanan penuh hambatan dari rumah menuju tempat karantina pun tak sampai lupa ia paparkan. Kami menyimak ceritanya dengan terkagum-kagum dan kadang sesekali tertawa karena Muslimah sesekali menunjukkan sisi polosnya.

Aku yang salah seorang dari mereka hanya bisa diam dan menyimak jalannya obrolan itu. Tentu saja aku masih dihantui kemelut serta kebingungan plus rasa grogi yang sudah berakar semenjak awal . Hingga akhirnya salah seorang rekan perempuan menyinggungku , "Asep kok diem aja? ngomong dong". Kalimat itu sukses membuat lamunan dalam kebingunganku pecah. Tanpa diperintah atau direncakanan mulutku bicara dengan sendirinya "Saya sedang menyimak nih" mantap keluar dari mulutku sambil mengeluarkan mimik senyum nan percaya diri. Mereka tak tahu sebenarnya bahwa aku tak mempunyai kata-kata untuk dilontarkan.

Sesaat mendengar itu Muslimah pun berkata, "Menjadi pendengar yang baik ya" lengkap dengan senyumnya. Dan akupun hanya bisa tersenyum. Lalu obrolan pun berlanjut hingga sore hari.

Kami pun akhirnya harus menyudahi kunjungan itu, sebelum pamitan tak lupa kami bawakan oleh-oleh untuk si adik Muslimah yang tengah sakit. Lalu kami pun menyampaikan terimakasih dan doa kepada adik Muslimah.

Aku akhirnya bisa bernafas lega telah melewati hari ini dengan lancar, terlebih agenda menjenguk adik Muslimah dan pertemuan dengannya setelah sekian waktu atau setelah obrolan terakhir kami.
Aku sempat melihat mimik tersendiri dari wajahnya saat aku dan yang lain berkunjung, mungkin dia pun menyadari dan memahami sikapku yang lebih memilih banyak diam saat itu. Untunglah tidak terjadi obrolan yang tidak aku dan dia khawatirkan akan terlontar dengan sendirinya.

Entah kenapa malamnya aku menjadi merasa lega, kemelut dan kebimbangan seakan menghilang. Saat itu, aku berfikir tak mau orang seperti dia dan orang-orang lain yang kutemui dalam hidup ini yang meninggalkan kesan berbeda, aku tak ingin melupakan bagaimana hal itu bisa mewarnai perjalanan hidupku. Dan aku memutuskan untuk membuat tulisan. Dan tulisan seperti ini serta sebelumnyalah adalah hasil dari ideku malam itu.

Aku menyutujui bahwa semua orang pasti akan mengingat perjalana hidupnya, tetapi tidak semua orang dapat merekam serta mengemas kisah mereka dengan suatu cara, dan salah satu cara tersebut adalah dengan menorehkannya keadalam bentuk tulisan.

Aku yang mulai menyukai dunia menulis, bisa dikatakan bahwa perkenalan dengan Muslimah adalah salah satu pemicunya.

Terimakasih Muslimah, aku dan teman-teman lainnya terus mendoakan serta mendukung impian-impian hebatmu. Teruslah maju. Percayalah pada kehendak-NYA.. Karena segala sesuatu terjadi berkat kehendak-NYA. Termasuk keajaiban.

Salah satu hal yang bisa menolong keadaan buntu manusia adalah keajaiban.. dan keajaiban berasal dari kehendak-NYA.


Monday, April 6, 2015

1435H Terhangatku (Bagian keempat)

#Lanjutan


Aku memulai kembali beraktifitas...memulai bekerja dengan masih dipenuhi rasa khawatir di kepala yang tidak jelas kapan akan berhenti. Benar memang hari itu aku tidak bisa berkonsentrasi, beberapa rekan kerja menyadari hal itu. Kucoba ceritakan pada mereka...lalu mereka men-support agar aku bersabar dan mendoakan.

Seperti sebelumnya, aku manfaatkan jam istirahat untuk menelepon kakak dan bertanya mengenai perkembangan ibu. "Hari ini dokter spesialis akan periksa ibu dek" ucap kakakku dalam telepon.
"Dokter spesialis? kenapa baru hari ini mau diperiksa? kemarin-kemarin kemana? jadii.... pantes aja kerasa ada yang nge-ganjel.." ucapku menimpali. "Bukan gitu dek.. pas kamu nemenin ibu kebetulan hari libur, terus besoknya dokternya juga dinas di tempat lain..jadi hari ini baru diperiksa" jawab kakakku. Aku menjadi kesal.. lalu kembali berkata "Hhh... tolong pas dokternya mau periksa ibu, temenin pastiin ada hasil, terus dari hasil itu harus ada langkah apa selanjutnya... gimana prosedurnya... pastiin ga ada yang terlewat.. ". Kakakku menjawab "iya-iya dek.. yaudah entar sore dikabarin lagi."

Aku dibuat makin tidak sabar, hasilnya semakin "ga konek" ketika bekerja. Sampai-sampai aku menabrak dinding kaca yang kukira tidak ada. Lalu menjadi "plin-plan". Kacau hariku saat itu, berharap segera selesai dan mendapat kabar kejelasan mengenai penanganan ibu.

Hingga tiba akhirnya jam pulang, aku segera hubungi kakak. "Gimana sih, katanya mau ngabarin?" kumulai obrolan tanpa sapa . Kakakku lalu menjelaskan, "Tadi sudah diperiksa dokter.. hasilnya besok ibu harus dioperasi untuk memeriksa organ usus, maaf dek tadi kakak kecapaian jadi lupa ngabarin kamu dengan segera.. sekarang ibu sedang tidur, sudah diperiksa suster juga dikasih asupan.. kamu bisa tenang, nanti besok kalau bisa jangan hubungi kakak dulu mungkin bakal sibuk, kakak janji akan ngabarin jika sudah ada hasil ya". Mendengar penjelasan dari kakakku itu, aku memang sedikit lega, tetapi bersamaan dengan itu bertambahlah rasa khawatir karena besok ibuku dijadwalkan untuk operasi.

Tapi walaubagaimanapun hari itu sangat terasa berbeda, ketika aku sudah sampai di kontrakan.. beraktifitas menyibukkan diri. Temanku melihat dan berkata "Sep.. mata loe kenapa? dari tadi kaya habis nangis aja..?!". Aku jelaskan bahwa fikiran sedang tak karuan karena rasa khawatir mengenai kondisi ibu . Temanku lalu ikut berempati dan berusaha menghiburku.

Aku berharap besoknya proses jalannya operasi ibuku lancar tanpa ada sesuatu kendala sekecil apapun. Dan kakakku bisa maksimal dalam mendampingi ibu disana serta segera memberi kabar untukku untuk menghapus kemelut fikiran yang tak karuan ini.



#Bersambung





Monday, February 9, 2015

1435H Terhangatku {bagian ke Tiga}

Aku keluar dari ruangan itu, kutinggalkan ibu yang memang hanya bisa terbaring. Suasana ramai malam ini semakin mengental dan meyakinkan bahwa aku ini benar-benar berada di rumah sakit, tempat dimana ibuku dirawat. Sembari mencari makanan di luar... perjalananku selangkah demi selangkah dihiasi oleh orang-orang yang sama kondisinya sepertiku, kulihat sesekali tiap menyisiri tiap blok terdapat para keluarga yang menjenguk sanak saudaranya.. mereka terlihat lelah.. terduduk dan ada yang terbaring di pelataran hingga terlelap.. terlihat sepanjang teras ruang perawatan. Lalu tak kalah juga dengan jalanan berlantai tegel keramik yang kutapaki , diramaikan dengan lalu-lalang para suster, pegawai dan tentunya didominasi oleh para penjenguk. Dan aku salah satu dari mereka. Ditambah lagi bahwa ini adalah malam pertama di bulan Ramadhan... lantunan ayat suci ikut mewarnai pendengaran semua orang di sini. Seakan ikut ingin membantu kami dengan mengingatkan bahwa pencipta kami selalu ada dan memperhatikan diamanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisi makhluk ciptaanNYA. Dan akupun menyelipkan doa dalam hati semoga Ibu segera pulih.

Aku membeli makanan seadanya lalu kembali, beberapa potong bacang lengkap dengan gorengannya kubawa guna menemani malam ini. Saat itu aku tak terlalu bernafsu makan. Aku hanya ingin selalu menjaga ibu dengan sisa waktu yang  kumiliki. Malam ini kucurahkan semua perhatian kepada sosok malaikat yang membesarkanku.

Aku nikmati makanan yang kubeli tadi sambil berbincang hangat bersama ibu, rasanya tak ada momen bahagia nan indah selain saat ini. Kami berbicara banyak hal, seakan tak terjadi apa-apa. Terkadang ibu menunjukkan senyumnya. Kami larut dalam obrolan di malam ini hingga waktu memberitahu bahwa saatnya untuk ibu terlelap.

"ma.. sekarang tidur ya... udah jam segini.."

"iya nak.. kamu juga ya.."

Kuperhatikan ibu terlelap dengan tenangnya. Telihat jelas kerut kulitnya, kantung matanya, rambutnya yang telah ditumbuhi uban... menandakan betapa keras perjuangan beliau selama ini, perjuangan membesarkan anak-anaknya tanpa seorang suami. Sesekali aku menitikkan air mata, ingin rasanya berbicara dengan sosok ayah. Sosok imam di keluarga yang wajahnya kuingat melalui sebuah poto, karakternya yang kutahu melalui cerita-cerita anggota keluarga serta keuletannya dalam beribadah yang terkadang ibu beritahu dalam keseharianku. Hanya melalui orang lain aku membayangkan sosok ayah, yaa karena aku telah ditinggalnya sejak berusia empat tahun. Bahkan aku sampai lupa bagaimana masa kanak-kanak ketika beliau masih hidup.

"wahai ayah... lihatlah perjuangan istrimu ini.. ibu mengemban semua amanah sebagai kepala keluarga serta ibu rumah tangga.."

"ya Rabb jangan KAU biarkan wanita tangguh ini terbaring tak berdaya di tempat seperti ini... "

Tanpa terasa.. bola mata terasa semakin berat, tubuh ini mulai berontak meminta haknya untuk istirahat.. aku baringkan diri di lantai dengan beralaskan kain di samping ranjang ibuku terbaring. Lantunan ayat suci mengantarkanku melelapkan diri.


29 Juni 2014

"nak.. nak.. bangun.. bangun.."

Sayup-sayup terdengan suara dalam keadaanku antara terlelap setengah sadar hingga perlahan membuka mata, ternyata ibuku..beliau memberitahu bahwa saatnya sahur. Aku membangunkan diri perlahan, mengumpulkan energi. Kuraih sebuah botol berisi air lalu kutenggak.

Sedikit demi sedikit kuhabiskan beberapa potong bacang yang telah dingin yang kusisihkan semalam. Bagiku ini sudah cukup, aku tak terlalu memprioritaskan apa yang kumakan.

"ma.. tidur lagi ya.. makasih udah ngebangunin.. sekarang udah ga papa"

"yaudah.. jangan lupa siap-siap sholat subuh.."

Kuperhatikan ibuku mulai terlelap lagi, dengan kondisi masih dalam keadaan sakit beliau tetap tidak lupa waktu-waktu penting, terutama ibadah. Padahal ini hari pertama puasa, beliau sudah sejauh ini membangunkanku untuk sahur. Aku berpikir tidak semua orang yang sedang sakit memikirkan ini, memikirkan dan mengingatkan orang lain untuk suatu hal, aku rasa orang yang sedang sakit setidaknya berpikir bagaimana agar dirinya sendiri sehat secepat mungkin.

"ma.. aku bangga padamu.." dalam hati.

Kumandang adzan mengiringi langkahku untuk menunaikan sholat. Dalam duduk penuh khusyuk, kupastikan doa terbaik untuk ibu terucap.

Suasana rumah sakit lambat laut mulai semakin ramai, diiringi cahaya mentari dan kokok ayam dari berbagai arah. Aku terduduk disamping tempat ibuku membaringkan diri. Hingga beliau mulai bangun.

"nak.. apa kau hari ini ada suatu acara?"

"......sepertinya ada ma.. sekitar jam delapan.."

"kalau begitu siap-siap pulang saja.. nanti kakakmu yang gantikan jaga disini.."

Aku teringat bahwa hari ini ada suatu acara yang sudah direncanakan, aku bisa sedikit lega karena kakakku pagi ini akan datang. Acara yang akan kuhadiri adalah perkumpulan yang baru aku masuki, sebuah komunitas bisnis. Kebetulan juga pertemuan pertama, kupikir setidaknya aku luangkan waktu untuk mengetahui apakah perkumpulan itu berguna bagiku. Terbesit dalam benak aku ingin membangun sebuah usaha, kelak suatu saat tidak lagi terpenjara waktu didunia kerja, angan-angan yang selama ini aku jaga. Itulah alasan kuat mengapa kulibatkan diri disuatu perkumpulan yang bertemakan bisnis atau usaha, berharap menjadi batu loncatan awal dimana aku bisa memulai sebuah usaha.

Setibanya kakakku di sini, aku pamit untuk pulang berganti pakaian lalu menuju tempat dimana acara itu berlangsung. Kuikuti dengan seksama, hingga pada suatu momen giliranku untuk  mengenalkan diri.. tak lupa kuutarakan kepada semua yang hadir disana, aku mohon doa semuanya untuk kesehatan ibuku.

Hingga siang menjelang sore, kuikuti acara itu sampai selesai. Sore hari seusai ashar.. kukabari kakakku bahwa aku hendak kesana. Aku ingin berbuka puasa ditemani ibu.

Setibanya kembali ditempat ibu, aku mulai kembali memeriksa segala sesuatu di ruangan itu. Kucek semua perlengkapan medis yang melekat pada tubuh ibuku. Kupastikan semuanya dalam kondisi baik. Setelah itu aku kembali duduk di samping ibu.

Menjelang berbuka puasa, seseorang datang menghampiriku.

"...mas..nih ada sedikit qurma.. monggo dicoba untuk buka puasa.."

"eeh iya, terimakasih banyak.. mas juga jenguk seseorang?"

"iya.. istri saya kebetulan diwarat di sebelah"

"begitu ya.. semoga lekas sehat ya mas"

"makasih ya dek.." sahut ibuku.

''iya terimakasih.. mas.. bu.."


Kumandang adzan sudah terdengar, mengantarkan aku dan semua orang di tempat ini membatalkan puasa.. puasa pertama di rumah sakit.

Rasanya cepat sekali, besok aku sudah harus kembali bekerja. Malam ini aku pun sudah harus pergi ke tempat dimana aku mengontrak.

Sisanya aku percayakan kepada kakakku untuk menjaga ibu. Dan selanjutnya keseharianku akan diwarnai lagi oleh kekhawatiran mengenai perkembangan ibu, sebuah tanda tanya yang akan terus tertanam sebelum ibuku pulih.


#Bersambung.......







#Bukan Penulis
#Hanya berbagi dengan tulisan
PenAsep.blogspot.com


Blogroll