Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Tuesday, December 2, 2014

Maka Dekatilah {bagian terakhir}

Alhamdulillah wa syukurillah....

terimakasih untuk semua.
Rasanya tak ada kalimat awalan yang pantas selain berucap syukur dan menyebut.. nama-NYA..

. . . . . .


"Apa yang telah dimulai, maka selesaikanlah"
-anonim-

Memaknai kalimat diatas bisa diketahui dengan mudah apa artinya, jika telah memulai sesuatu (apapun) maka sebaiknya diselesaikan.Kalimat itu sengaja kujadikan motivasi untuk memberanikan diri dalam menulis kelanjutan tulisan sebelumnya (baca: kisah nyata)..

Perlu diketahui, amat sulit melanjutkannya loh.. >.< karena.... ah! sudahlah lanjutkan saja membacanya.

Diceritakan sebelumnya tentang obrolan di Social Messengger yang mendiskukisan bagaimana saya meminta pendapat dan konsultasi atas segala perkara hati, dimana saat itu orang yang saya mintai pendapatnya adalah seseorang yang kuanggap pantas lebih-lebih paham mengenai perkara yang kuutarakan tentunya ditinjau dari sudut pandang agama (Islam).

Perkara itu ialah ... ah! tak usah diperjelas. Teman-teman bisa baca ditulisan sebelumnya saja :D

~~~

Memang benar setelah obrolan itu selesai, akhirnya saya menemui titik ketenangan, titik keseimbangan antara hati dan pikiran menjadi satu, dimana bisikan-bisikan negatif tak bisa masuk, dimana segala potensi yang membuat pribadi seseorang goyah tak dijumpai dan dimana kondisi terbaik untuk menjalani hidup terbuka lebar.. Dimana segala perkara hati, gundah gulana, risau menghantui dan galau mengungguli serta semangat hidup yang tiada dihati..
semuanya telah terlewati.. dengan perjuanganku ini sepenuh hati  dan....  Seorang diri. jreeng..!
aaah!!

Lagi-lagi saya belum serius melanjutkan tulisan ini.. 
Inilah mengapa tadi kukatakan amat sulit .

Tapi walau bagaimanapun cerita bersambung sebelumnya harus dilanjutkan dan diakhiri.

Akhirnya mau gimana lagi? sepertinya harus pakai ritual khusus untuk meneruskan tulisan ini.. Ritualnya adalah dengan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, berharap pada pandangan gelap muncul secercah cahaya yang bisa menuntun untuk melanjutkan tulisan ini. Ternyata benar, saya menemukan sebuah petunjuk. Petunjuknya yaitu "bagaimana kenyataan sebenarnya dalam tulisan itu?"Oke.. Dilihat dari tulisan sebelumnya lalu dikonversikan kedalam dunia nyata, akhirnya saya bisa melanjutkan cerita ini. Dimulai dari petunjuk ritual itu, bagaimana kenyataan sebenarnya?Ini cerita dimasa lalu.. mungkin saya harus mengajak para pembaca 'menyelam' lebih jauh kebelakang lebih jauh dimasa lalu. Saya akan coba Flash Back. Dimasa sebelum saya berkonsultasi dengan beliau (pada cerita sebelumnya).




------- Berikut cerita masa lalu itu -------

begin the flash back

. . . . . . . . .

Suatu malam, saat itu saya sedang asyik berkutat dengan hp berdiskusi disuatu grup WA. seperti pada umumnya obrolan-obrolan grup membahas tentang perkembangan grup, agenda grup, rencana kedepan, sharing seputar member dan sebagainya.


Ditengah diskusi, admin grup menambahkan anggota baru dibarengi ucapan penyambutan..
Kurang lebih seperti ini obrolannya:



.....
.....

.....


admin menambahkan 08x-xxx-xxx-xx



admin:
"selamat datang Muslimah.. silahkan perkenalan diri :)"



member A :
"welcome mba Muslimah..."


member B : "selamat datang mba Muslimah.."


member C : "ahlan wa sahlan teteh Muslimah.. :) ga nyangka bisa ketemu disini"


SAYA : (silent reader dadakan)



member S : "selamat datang Muslimah.. silahkan isi biodatanya ya.. seperti format "
(dibarengi format data yang mesti diisi oleh member baru)
*sekretaris grup



MUSLIMAH :
"assalamualaikum.. perkenalkan nama saya Muslimah...,...,...., dan seterusnya "
(memperkenalan diri sesuai format)



member D :
"waah! hebat sekali mba backgroundnya"



member C :
"teteh emang hebat ajarin dong, bener-bener  top deh"



SAYA: (masih silent reader)
*cukup kaget juga membaca profil member ini dengan background beserta sederet aktifitasnya yang menurutku ga mudah menjumpai banyak orang seperti ini



member A :
"wah mba Muslimah top (y)



MUSLIMAH :
"makasih semuanya, saya masih miskin ilmu.. harus banyak belajar dari semuanya, mohon kerjasamanya :)"
.....
.....
~



Akhirnya Muslimah menjadi bagian dari grup bersama saya dan member-member lainnya.
Keesokan harinya saya coba untuk mengobrol dengannya.
Kebetulan saya punya rencana untuk membangun bisnis dan sedang mencari partner untuk menjadi tim dalam bisnisnya nanti.



saya:
"Assalamualaikum...
(perkenalan diri beserta maksud)
*cukup panjang saya jelaskan disini maksud tujuan terutama mencari partner bisnis, karena baru perkenalan dan belum bertemu maka saya uraikan secara lengkap



*perlu diketahui saya cukup berani langsung mengajak untuk berpartner dengan Muslimah ini, dilihat dari profil perkenalan digrup.. saya bisa pastikan sangat mungkin orang lain akan hilang 'nyalinya' untuk berpartner dengan Muslimah.



*masih berkutat di WA saya menunggu respon Muslimah ini, lumayan juga menunggu responnya... wajar saja  mungkin dia sedang tidak pegang hp atau masih mempelajari ajakan saya. 



*akhirnya muncul balasannya



Muslimah :
"wa'alaikumsalam.. inshaa Allah ya kak :) "



Saya :
"apa itu artinya mau dengan ajakan saya?"



Muslimah :
"mudah-mudahan ya kak"



Saya:
"ah yang bener ni? kenal dan ketemu aja belum... kok langsung mau sih?"



Muslimah:
"mungkin ini sudah ketentuan-NYA kak.."



Saya :
"sebelum dan sesudahnya makasih banyak deh... saya banyak kurangnya lho"



Muslimah:
"Muslimah lebih banyak kurangnya kak.. ada hal yang kakak bisa dan muslimah ga bisa.. saling kerjasama ya kak :)"


Saya:
"tapi.. tapi.. kan saya masih ga percaya.. bisa-bisanya langsung mau ikut ajakan saya yang tiba-tiba kirim chat begini.. siapa tau saya cuma iseng atau bahkan lebih dari itu.. kok langsung mau gitu.. tau gak sebenernya ajakan ini saya kirim secara acak ke kontak dihape saya... dan cuma Muslimah yang respon bahkan langsung mau.. yang lain ngerespon aja kagak.. padahal kan baru aja gabung digrup itu kemaren.. "



Muslimah:
"Mungkin ini ketetapan-NYA kak..lagian aku juga suka bisnis"


Saya:
"sekali lagi terimakasih ya.. sumpah deh masih ga percaya.. hmm jadi gini nih rencana saya untuk memulai bisnis kita.. kebeteluan saya ingin sekali menghidupkan usaha keluarga dulu yang sempat booming.. saya pikir harus mencari partner siapapun itu yang penting mau menerima kekurangan saya.. "

.....
.....

Malam itu kami mencair dalam diskusi dan gak nyangka bisa langsung akrab, saya menuangkan berbagai pemikiran tentang rencana bisnis yang akan dilakukan. Muslimah meresponnya dengan baik dan tertarik sambil berbicara sedikit tentang kehidupannya.


Akhirnya kami sepakat bertemu disuatu tempat untuk berdiskusi dan mematangkan rencana bisnis yang akan kami lakukan. Sambil menunggu hari yang disepakati, rasa ingin tahu saya semakin meningkat.. Saya akhirnya mengerahkan segala kemampuan IT untuk searching all about her .
Hasilnya saya terkagum-kagum... Dia adalah seorang trainer nasional yang sudah tidak asing ditelinga, setidaknya dilingkungan kampusnya, seorang aktivis suatu organisasi, mempunyai bisnis oleh-oleh khas daerah, juga aktif disebuah yayasan yatim piatu sebagai pengajar dan seterusnya rentetan berbagai kegiatan yang ia lakukan.


Saya menyesal..! "Kalau tau gini, mending ga usah cari tahu.." gumam dalam hati. Bagaimanapun ia adalah sosok yang 'sempurna'.. saya hanya seorang karyawan biasa yang mencoba bisnis sampingan. Pikirku saat itu, entah mengapa langsung mencaci maki diri sendiri dengan membanding-bandingkan dengan Muslimah.


....

Tiba juga hari yang disepakati, singkat cerita saya sudah berada ditempat lebih awal dari perjanjian. Sambil menunggu Muslimah datang, saya duduk didepan teras suatu bangunan.. Beberapa saat  ada panggilan telepon..


tolelot lotelot tolet lotet *dering telepon



Saya: 
"...ha hallo..?"



Penelepon :
 "Hallo.. Assalamualaikum.."



Saya:
 "Iya.. Wa'alaikumsalam.. siapa ya?"

Penelepon: 
 "Ini Muslimah kak.. kakak dimana? "

Saya : 

"Owh Muslimah.. saya diteras dekat tangga nih"
*ternyata dia memakai nomer lain untuk menelepon, pantas saya kebingunan

  Muslimah : 
"oke kak, eh kakak yang mana itu disitu banyak orang... kakak coba berdiri"

  Saya :
"I..iya. nih saya berdiri" *sambil clingak-clinguk melihat sekitar

  Muslimah :
"Hai kakak nih aku dibelakang kakak.."



Saya :
"owh itu kamu ya.."
*saya balik kanan dan melihat seseorang berhijab  syar'i warna ungu berjarak sekitar 7 meter..

Muslimah: .. :) 
*menutup telepon




Singkat kata, kami sudah berdiskusi mengenai rencana bisnis. Diskusi kami berjalan dengan lancar, kami sepakat untuk membangun suatu bisnis dan untuk menuju kearah itu harus diperlukan beberapa tahap lagi agar bisnis yang kami akan bangun bisa terealisasi.
Itulan awal pertemuan dengan Muslimah.. Hari-hari berikutnya komunikasi kami berjalan dengan lancar, baik digrup maupun secara personal.
Juga perkembangan diskusi bisnis kami semakin intens dan terbuka lebar untuk menjadi kenyataan.

Sudah dua bulan terlewati. Semuanya berjalan baik.

Suatu hari Muslimah mengabariku bahwa setelah wisuda nanti ia akan melanjutkan kuliah diluar negeri. Mendengar hal itu.. Sontak saja pikiranku menjadi tak menentu. Bagaimana tidak? Kan baru saja kenal lalu menjadi partner.. Semuanya berjalan baik dan tinggal sedikit lagi.

 "Jika Muslimah pergi begitu saja.. Bagaimana.. Bagaimana ini..?!"

Apa yang mesti kuperbuat, apa yang...  "aahh..!! Aku tak tahu..!"

"padahal sudah tahap ini, tinggal sedikit lagi bisnis kami akan jadi kenyataan.. tapi kenapa harus begini...!"  Hatiku menjerit.

Menangaapi hal itu.. Aku hanya bisa berkata sewajarnya tanpa melibatkan sisi emosi dalam hati.. 
Yang keluar dari mulutku justru sebaliknya,  bukan seperti kemelut dihati..


"Owh bagus deh.. Gak aneh kok orang seperti kamu melanjutkan kuliah diluar negeri.. Insya Allah saya selalu mendoakan dan mendukung jalan karirmu.."
".........Tapi gimana dengan bisnis kita..?"


Muslimah menjawab dengan tenang.. 


  "Ah kakak nih.. Aku orang biasa.. Makasih banyak ya kak.. saling mendoakan yang terbaik ya :) "
"Sepertinya gitu deh bisnis kita.. tapi kakak gausah khawatir, toh nanti aku juga bakal balik lagi.. lagian cuma 2 tahun.. ga ada apa-apanya segitu.. Aku punya beberapa rekan bisnis juga.. Insya Allah sebelum pamitan.. Aku akan kenalin mereka ke kakak.. Nanti kakak bekerjasama aja dengan mereka ya.. kakak juga bisa ambil alih bisnis aku yang oleh-oleh itu. :) "

"Ya.."
Jawabku singkat.


Hari-hari berikutnya kujalani agak berbeda, tentu saja karena efek dari obrolan mengejutkan dari Muslimah.. Aktifitasku semakin tak bergairah.. Sedikit demi sedikit perasaan hilang fokus.. Terutama disaat bekerja. Sosok Muslimah kini menghantui hari-hariku. "Aku semakin menderita..!!"
ya penyakit hati muncul.

Singkat kata.. Beberapa hari menjelang kepergian Muslimah.. Aku sudah dikenalkan oleh beberapa rekan bisnisnya.. Mereka menyambut baik dan mendukung langkah Muslimah serta perkenalan denganku.

Menghitung hari jelang kepergiannya.. Aku bisa bilang "Hidupku 'kacau' "
Setiap waktu dipikiran hanya ada sosok Muslimah..  Kemana mata memandang, bayangan Muslimah selalu terlihat.
Muslimah.. Muslimah.. dan Muslimah menguasai diriku.
Penyakit hati ini pun sudah akut.

"Aku sudah tak tahan lagi..!"
 
Akhirnya kuputuskan untuk berkonsultasi dengan seorang ustadz.
Semalaman kami tanya jawab mengenai bagaimana kumengenal hingga akhirnya hidupku seperti ini (penyakit hati yang kuderita). Beliau banyak memberikan pencerahan sampai akhirnya menyarankan untuk memilih dari dua pilihan...

" Buang jauh-jauh segala hal mengenai akhwat.. yaa akhi.."
atau
"Khitbah dia........."


Dihadapkan dengan dua pilihan itu, jujur kuakui tak bisa merespon apapun.




"Terimakasih ustadz.."




Tinggal hitungan jari,  hari menjelang kepergian Muslimah.. Kurenungi dan pikir matang-matang atas apa yang telah dialami.. Aku berusaha lebih mendekatkan diri PadaNYA, berpuasa, meningkatkan sunnah dan sebagainya. Sampai akhirnya memutuskan suatu hal.

Sehari menjelang terakhir kali dapat menjumpai Muslimah.. Aku meminta untuk berkunjung kerumahnya, dalam rangka silaturahim dengan orangtuanya.. Muslimah membolehkan dengan senang hati.

Singkat kata, kami sudah berada diruang tamu dan sudah ngobrol ringan.

Saya:
"Jadi.. sudah fix pamitan nih lusa ?"

Muslimah:
"Insya Allah kak. mohon doanya ya :)"

Saya:
"Insya Allah.. Ngomong-ngomong Ibu kemana?"

Muslimah:
"Sebentar kak, dipanggil dulu ya"

Beberapa saat muncullah Ibunya.. Saya bersalaman dilanjut memperkenalkan diri.
Kami pun larut dalam obrolan ringan dan santai.. Didalam obrolan akhirnya bisa kuketahui bahwa ayahnya masih diluar kota karena urusan pekerjaan. Saat itu saya lebih banyak mengobrol dengan ibunya, Muslimah berada disamping beliau sambil berkutat dengan hpnya, dia senyum-senyum sendiri.. Entah apa yang dilakukan dengan hpnya sehingga membuatnya senyum seperti itu. Tapi saya gak peduli  Jujur saat itu curi-curi pandang (melihat Muslimah) disaat mengobrol dengan ibunya..
Akhirnya kumenemui sisi dimana dia terlihat manis.
Dalam hati kuberkata "Duh Muslimah kamu itu.....manis sekali".


Tanpa terasa waktu petang datang, saya berpamitan untuk pulang.

"Terimakasih bu.. maaf sudah merepotkan"  ucap saya.

"ah nda apa-apa..namanya juga silaturahim" Beliau menanggapi.


Singkat kata saya sudah sampai dirumah.. Malamnya kumerenung. "Andai saja tadi ada ayahnya.. mungkin sudah..." ucap dalam hati.

Kuambil hp lalu jari jemari mulai mengetik.. yaa kali ini akan kuutarakan tentang apa yang kurasakan selama ini semenjak mengenal Muslimah.


Semuanya aku tuangkan kedalam sebuah pesan .. Bagaimana mengenal hingga hari-hari dipenuhi sosok bayangan Muslimah.. Jujur saja pasti akan menyesal jika tak mengutarakan ini.
Pesan itu hanya sekedar apa yang kurasakan.. Tanpa menuntut apapun, tetapi tentu kusiap 'bertanggung jawab' dengan penyampaian pesan ini.

Juga didalamnya kusampaikan bahwa jika saja tadi ada ayah Muslimah.. mungkin sudah kuutarakan langsung.

Cukup lama menunggu balasan darinya.. Melewati malam,  hingga pagi harinya baru kulihat sudah ada balasan.

Jawaban Muslimah...

"Sepertinya saat ini belum ada niatan kearah itu.. dua tahun lagi ga tau akan seperti apa.. Aku serahkan sepenuhnya padaNYA... Maaf"
...

Entah mengapa setelah membaca jawaban darinya.. Akhirnya plong perasaanku.. Tak peduli apapun responnya.. Hal yang penting adalah aku sudah berani untuk mengutarakan dan telah melewati fase-fase 'penderitaan' ini.

Mungkin hikmah yang bisa kuambil adalah saat ini Allah masih sayang dan belum mengizinkan untuk menikah, banyak hal yang harus kuperbaiki. Kuakui juga jika saja umpamanya Muslimah merespon dengan jawaban yang mengarah ke pernikahan.. "Sumpah gak tau harus gimana.."

Ternyata rencana Allah memang terbaik, hari-hari setelah obrolan terakhir pada saat itu.. Semuanya berangsur normal dan membaik.. Aaah terimakasih ya Allah Engkau telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kali ini.

Ada rasa kebanggaan dalam hati yaitu mungkin saya orang pertama yang mengutarakan ini kepada Muslimah. Kuyakin dia takkan melupakan ini. Juga aku bangga pada diriku yang telah berani mengutarakan kepada wanita sholehah seperti dia.

Kini dia sudah pergi.

"Sampai bertemu lain waktu Muslimah.. semoga sukses jalan karirmu"

"Sampai bertemu dua tahun lagi.. entah kita sebagai rekan.. atau lainnya"


Jika kelak kita berpartner kembali, hanya berpartner bisnis..Tentu aku sangat senang dan  sudah jelas berarti kamu bukan jodohku.

Tetapi jika kenyataan berkata lain... Tentu saja kuserahkan semuanya pada Allah.
Yang jelas saat ini dan seterusmua, kuselalu berusaha memperbaiki diri.

 . . . . .

---------------------------------------------------------------------------
end flash back



Hingga saat ini, saya melakukan aktifitas sehari-hari berjalan lancar tanpa dihantui 'sesuatu' dalam flash back tadi. Ini adalah suatu prestasi tersendiri  bagi saya, gimana enggak ? ada dua hal yang bikin 'menderita'. Pertama, bagaimana berjuang menghadapi ujian dariNya yang saya ceritakan melalui tulisan ini dan tulisan sebelumnya DAN kedua, bagaimana mengingat, membayangkan, menjiwai lalu 'mengalami' lagi hal itu untuk membuat tulisan ini.

"boleh kan saya anggap sebagai prestasi?"

Yah.. Setidaknya semua itu sudah terlewati. Kisah singkat ini sudah usai.

Muslimah sudah jauh disana, melewati ribuan bahkan jutaan mil laut.. juga terpaut jutaan kilometer dari daratan.. atau mungkin ratusan ribu knot kecepatan angin.. Serta...
Ah..! cukup.


Kita harus bisa saling menyemangati teman-teman dan rekan mengenai jalan hidup, mengenai karir, mengenai keyakinan dan mengenai semuanya. Dengan orang lain kita bisa belajar sesuatu, dengan diri sendiri bisa belajar percaya diri dan dengan semuanya kita belajar hidup.

Hidupku hanya untuk Allah.. matiku hanya untuk Allah.
Segala sesuatu hanya untuk Allah.

Begitu juga dengan Muslimah.


--TAMAT--

0 comments:

Post a Comment

Blogroll