Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Monday, December 22, 2014

1435H Terhangatku {bagian ke Dua}

........

Esok paginya.. Suasana masih belum pasti, dalam kepalaku masih bercampur aduk. Keadaan ibuku makin parah, kudengar dari kakakku setidaknya sudah pernah mencoba berobat ke dokter beberapa hari sebelum ini tetapi tak ada perubahan. Ibu memang sering sakit-sakitan.

Aku dan kakakku melanjutkan pembicaraan semalam, kami harus memprioritaskan yang utama.


Kakak: "Dek jadi hari ini, pokoknya ibu harus segera dikasih penanganan yang pantes.."

Saya: "Iya.. haduuh gimana sih, kenapa ibu dalam keadaan ini sampe gak makan tiga hari segala..??!"

Kakak : "Kamu tahu sendiri.. ibu itu makannya susah, apalagi pas sakit kaya gini.. bilangnya gak nafsu.."

Saya:"Pokoknya pagi ini harus ada asupan buat ibu.."

Kakak: "Ya.. sekarang kamu berangkat ke rumah dokter itu yang semalem kita omongin.."

Saya: "kalau gitu saya berangkat dulu .."

Kakak: "ya.."


Pagi itu aku berangkat untuk menjemput dokter, kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kawasan tempat tinggalku.
Setibanya disana, kuketuk pintu rumah.

Saya: "Assalamualaykum.."Dokter: "Waalaykumsalam.. ada perlu apa?"Saya: "saya dari RT sebelah.. anak dari Ibu Umi.. mas dokter yang pernah periksa ibu saya?"Dokter: "ooh Ibu Umi itu.. iya sekitar seminggu yang lalu pernah berbobat disini, emang kenapa kang?"

Saya: "Itu, sekarang Ibu saya keadaannya gawat, bisa segera kesana mas ? saya bonceng naik motor.."Dokter: "Iya bisa.."Saya: "mas ada infus kan?"Dokter: "Infus ?! buat apa?"Saya: "Ibu saya sudah tiga hari belum ada asupan makanan...jadi.."Dokter: "Tiga hari?? Oke-oke.. kita berangkat"

Kami pun menuju segera menuju rumah, setelah tiba dirumah, dokter itu langsung memeriksa keadaan ibu.. Hal yang wajar jika beliau terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa ibu saya benar selama tiga hari tak ada asupan makanan.. terlihat dari kondisi ibu yang lemah.


Sambil terus ngobrol dengan ibu dan yang lain, mas dokter  memasang infus dengan hati-hati. Tentu saja mataku ikut mengawasi setiap pekerjaan yang beliau lakukan.

Seusai memasang infus, dokter itu menerangkan tata cara mengganti botol infus apabila telah habis isinya. Dokter itu juga berpesan, walaupun sudah terpasang infus, ibu harus tetap ada asupan makanan walaupun sesendok bubur. Aku mengerti maksudnya dan akan memastikan itu.


Dokter:  "Oke.. sudah selesai nih, jangan lupa ya ibu tolong utamakan asupan makanan dari mulut, akang juga tolong dampingi.."Saya: "Iya mas, yaudah saya antar kembali ke rumah.."


Selama perjalanan aku terus diingatkan mengenai kondisi ibu juga penanganannya. Dan akupun simak perkataannya.


Saya "Terimakasih ya mas dokter.. saya bisa sedikit lega.."Dokter: "Iya sama-sama kang.. jangan lupa yang saya sampein tadi"Saya: "Akan saya ingat mas, jadi berapa semuanya?"Dokter: "Infus ya.. terus vitamin, ... ,, ... ,  jadi sekian kang"Saya: "ya.. boleh saya minta no.hp mas? Jika ada sesuatu yang perlu saya tanyakan gitu"Dokter: "08xxxxxx kalau ada apa-apa telpon aja kang"Saya: "Terimakasih ya mas, kalau gitu saya pamit ya.."Dokter: "iya.. makasih juga udah anter jemput .."

Saya: "sama-sama ya mas.. Assalamulaikum.."Dokter: "Wa'alaikumsalam.."

Setelah beberapa jam berlalu... kondisi ibuku terlihat membaik, sudah bisa duduk walau masih diranjang. Dan sudah mau menerima suapan makanan dari mulut meskipun masih sedikit.


Hingga sore hari, tiba saatnya aku untuk berangkat ke kontrakan. Tak rela rasanya harus pergi dengan kondisi ibu yang belum sehat total, kakakku berjanji untuk selalu mendampingi ibu dan memberitahu bahwa aku harus fokus pada pekerjaan. Jarak tempat bekerja dari rumah yang cukup lumayan itulah yang melatarbelakangi diriku untuk ngontrak.

Sudah tentu kemelut dipikiran masih tergambar jelas meskipun aku sudah menetap kembali dikontrakan serta ketika beraktifitas kerja. Rasa khawatir mengenai kesehatan ibu selalu mendominasi isi kepala. 


Senin 23 Juni 2014...

Mau tidak mau inilah aktifitasku, sehari-hari dengan kegiatan yang monoton. Mengabdi sebagai pegawai di perusahaan. Dan akhir pekan diisi dengan belajar di bangku kuliah. Aku berpikir inilah fase yang harus kulalui.

Hari ini semuanya berjalan normal, hanya saja status 'siaga' selalu tertanam didalam kepalaku. Yang kumaksud adalah mengenai ibu di rumah. Perasaan was-was sebagai seorang anak yang ibunya sedang sakit tentu meluap-luap sepanjang hari.

Aku tak tahan lagi, kumanfaatkan waktu istirahat dihari bekerja untuk menelpon kakakku dirumah. Kakakku mengerti dan menenangkan aku bahwa ia selalu mengawasi ibu dan memastikan perawatannya sesuai dengan anjuran dokter. Ia juga terus meyakinkanku untuk tetap fokus bekerja seperti biasanya.
Akupun juga diyakinkan lagi melalui telepon oleh ibuku bahwa beliau baik-baik saja dan kakakku selalu mendampingi disana.

Hingga besoknya keadaan masih sama.. Semuanya sama seperti sebelumnya, aku juga menghubungi lagi kakakku dan menanyakan hal yang sama. Dan hasilnya tetap sama seperti kemarin.
Aku diminta untuk tetap fokus pada pekerjaan seperti biasa.

Hal ini pun sama dengan keesokan harinya. Tetapi menjelang sore hari, kakakku menghubungiku bahwa ibu mengeluh kesakitan dibagian perut. Ia berencana untuk membawa ibu ke sebuah klinik untuk diperiksa mengenai keluhan ibu yang baru tersebut, tetapi kakakku meminta agar aku tak usah repot-repot datang. Semuanya masih dalam pengawasan. Jadi aku tak perlu pulang.


Kamis 26 Juni 2014...

Aku melewati hari ini dengan tanpa semangat, gimana enggak? Ibu kembali mengeluh kesakitan dan dalam penanganan dokter baru. Sementara aku disini tak bisa berbuat apa-apa sambil terus dihantui kekhawatiran sepanjang hari.

Akupun kembali menghubungi kakak dirumah, ia mengatakan bahwa ibu telah diperiksa dan sudah dibuatkan resep obat oleh dokter di klinik. Ia kembali meminta agar aku tetap bekerja seperti biasa dan akan terus mendampingi ibu. Ibu sudah dirumah lagi.

Aku tak bisa membantah kakakku ini, ia adalah kakak tertua dikeluargaku. Meskipun kini ia telah berkeluarga dan mempunyai dua anak, rasa sayang dan cintanya kepada ibu tetap tertanam. Aku juga menyadari itu bahwa ibu memang sosok pahlawan bagi semua anaknya. Beliau mendidik para anaknya dengan seorang diri. Kami semua amat menyayangi ibu.

Besoknya pun tetap sama, ibu masih menjalani perawatan dirumah dengan mengikuti arahan dokter klinik untuk memastikan bahwa obat yang diberikan harus rutin dikonsumsi.

Tetapi malam harinya muncul lagi hal yang baru, ibu kembali mengeluh ditambah memuntahkan obat yang telah dikonsumsi. Kakakku berinisiatif untuk membawa lagi ke klinik. Kali ini kakakku meminta untuk pemeriksaan pada ibu secara menyeluruh. Semua fasilitas peralatan di klinik itu digunakan. Hasilnya cukup membuat kami terkejut, diagnosa menunjukkan ada masalah di sistem pencernaan pada bagian usus. Pihak klinik merekomendasikan untuk rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang sesuai.

Kakakku memberitahukan hal itu lewat telepon. Kali ini aku memaksa untuk pulang. Ia memahami ini, tetapi memohon aku untuk mengerti bahwa saat itu sudah larut malam. Keluarga dirumah memastikan pendampingan ibu. Juga, kakakku yang lain telah datang. Aku sebagai anak yang paling bungsu harus rela menahan diri lagi. Dihadapkan dengan semua kakak yang sudah ikut ambil bagian dalam perawatan ibu, aku hanya bisa tanya jawab lewat telepon.

Dan malam itupun aku tak bisa tidur, "ahhh gimana mau tidur??!" jeritku dalam hati.
Dan yang bisa kulakukan hanya berdoa memohon agar ibu segera diberi kesehatan.


Sabtu 28 Juni 2014..

Pagi-pagi sekali kutelepon kakak untuk memastikan rencana membawa ibu ke rumah sakit, ia mengatakan bahwa semua ia yang urus dan prioritas utama adalah penanganan ibu secepatnya. Ia akan memberitahu jika ada sesuatu hal yang harus kuketahui. Aku sudah tak sabar ingin mendampingi ibu. Kebetulan hari itu aku bekerja setengah hari, jadi bisa segera menuju rumah sakit.

Kali ini akan kumanfaatkan waktu hanya untuk mengawasi dan mendampingi ibu yang sedang dirawat. Aku tidak masuk kuliah dan untuk hari senin aku minta izin cuti. Dua hari bisa kujadikan totalitas untuk selalu berada disisi ibu.

Setibanya waktu pulang kerja, segera kumenuju rumah tentunya dengan menunaikan sholat dzuhur dahulu serta mendoakan kesehatan ibu.

Rasanya meluap-luap ingin segera bertemu, aku mengendarai motor lebih kencang dari biasanya. Meskipun aku tau bahwa berbahaya, "mau gimana lagi?" rasa rindu sudah tak terbendung. Perjalanan itu tak terasa lama bagiku mungkin Allah memudahkannya. Tujuanku rumah sakit tempat ibu dirawat, kakakku sebelumnya memberitahu dimana lokasi rinci tempat ibu dirawat seperti lokasi kamar, nomor kamar dan rutenya. Kakakku memberitahu itu via sms.

Setibanya di rumah sakit aku langsung menuju kamar tempat ibu berada. Disana sudah ada kakakku. Ibuku tersenyum ketika sesaat melihat kedatanganku.

Ibu: "dek.. tenangkan pikiranmu.. ibu nda apa-apa.. :) "
Saya: "gimana mau tenang? wong sudah di rumah sakit gini terus mesti dirawat, artinya kan ga normal.."

Kakak: "yaudah.. teteh pulang dulu ya, kamu temenin ibu disini.. dari pagi teteh disini.. tuh diatas meja ada surat-surat dari klinik ama surat-surat rumah sakit.." *keluar menuju pintu




Saya: "iya teh.. saya gantiin nemenin ibu disini.."

Ibu : "duduk nak.. tuh ada minuman, kamu belum makan?"

Saya: "gampang ma.."


Akupun akhirnya menemani ibu, kuperiksa surat-surat diatas meja. Semuanya kuteliti dengan seksama, ada beberapa gambar-gambar seperti hasil rontgen. Rupanya itu adalah gambar diagnosa dari klinik beberapa hari lalu mengenai penyakit ibu, banyak istilah medis yang tidak kuketahui dalam keterangan gambar itu. Yang jelas bentuk gambar seperti usus sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa disana letak rasa sakit yang ibu elu-elukan.


Selanjutnya kuperiksa surat-surat yang lain. Ada semacam kartu yang berisi biodata ibuku, lalu ada juga yang berisi seperti kolom-kolom pengecekan harian. Semuanya aku baca. Dengan bermodalkan surat-surat tersebut, aku bisa mengetahui status ibuku disini.

Setelah selesai dengan mempelajari surat-surat tadi, aku mengecek alat-alat medis yang menempel pada ibu. Dimulai dari botol infus, selang infus, ranjang, selimut dan keadaan ruangan.

Melihat tingkahku yang seperti itu, ibuku hanya tersenyum. Setelah aku bisa menguasai kedaan kamar tempat ibu dirawat, kini giliran ruangan informasi yang akan aku datangi. Aku bermaksud memastikan semuanya dalam keadaan baik dan aku harus mengetahui semuanya gambaran penanganan ibu disana.

Setelah dirasa cukup, aku kembali duduk menemani ibu sambil ngobrol ringan.


Ibu : "nak nanti malam kan sudah mulai tarawih... entar kamu pulang, sholat jamaah disana ya, biar kakakmu yang lain gantiin kamu, kamu jangan lupa doain ibu.."
Saya: "iya..ma.. sehabis tarawih, saya kesini lagi. Saya mau tidur disini aja nemenim ma.."


Ibu: "... :) "


Tak terasa, waktu petang sudah datang beriringan dengan kumandang adzan. Aku pun menunaikan sholat maghrib di rumah sakit itu, setelah selesai aku bersiap-siap pulang. Kakakku yang lain telah tiba untuk menggantikanku menemani ibu.


Saya: "Kak.. tuh diatas meja ada surat-surat rumah sakit dan perawatan rutin. Jangan lupa nanti jam tujuh malam jadwalnya ibu dapet makanan, klo ga ada hubungi suster yang ada diruang sebelah. Terus juga pastiin setelah makan, suster perawat untuk mengecek tekanan darah ibu, ngecek infus, semuanya dicek. Terus juga pasttin ibu ngabisin makanan. *sambil pergi menuju pintu

Kakak ke-2 :  "Oooh.. iya dek......"

Ibu: "..:)"


Setibanya di rumah, aku lekas mandi dan bersiap-siap berangkat untuk shalat Isya dan Tarawih berjamaah.
Malam bulan Ramadhan yang cukup berbeda bagiku, tahun yang cukup berbeda kali ini. Dimana suasana bulan yang sungguh penuh berkah, diiringi dengan ujian yang menimba ibu dan kami sekeluarga. Biasanya setiap tahun kami dengan semangat sholat tarawih berjamaah, namun tahun ini berbeda ceritanya. Ibu, semua anaknya harus membagi waktu untuk bergantian menemani beliau.

Setidaknya aku memiliki dua hari untuk bisa secara langsung menemani ibu. Disisi lain, melewati dan merasakan malam pertama di bulan yang mulia berdua bersama ibu itu, aku bisa menikmatinya. Kami mengobrol apapun yang ada dibenak diri masing-masing, seakan ibu sedang tidak sakit walaupun kami berada diruangan pasien.

Aku sampai terkantuk-kantuk malam itu, yah baru kuingat bahwa semenjak pagi aku tak memberikan kesempatan pada raga untuk istirahat. Dimulai dari bekerja sampai malam ini, sungguh melelahkan jika dipikirkan. Namun, fokus pikiran yang tertuju pada ibu-lah yang seakan rasa lelah menjadi hilang.


Ibu: "nak..sekarang kamu harus makan, cari makanan diluar sana terus tidur disini."

Saya: "iya ma..nanti sekalian juga beli buat sahur nanti.."



#Bersambung










Thursday, December 4, 2014

Refleksi 2013 ~ 2014

"Seperti biasa tiap pergantian tahun baru semua orang mempunyai harapan-harapan dengan tujuan akan tercapai apa-apa yang belum tercapai ditahun sebelumnya, rencana-rencana serta berbagai skejul yang telah dibungkus secara rapih.."

bagaimana dengan diriku? Apa yang mesti diucapkan atau pernyataan apa yang perlu dilontarkan agar seirama dengan kebanyakan orang…??

perlu waktu untuk merenungkan hal ini pikirku, namun tak terlalu lama. Dimalam akhir tahun kuhabiskan malam dengan mengunjungi suatu tempat yang menurutku menjadi tempat “pelarian” jikalau pikiran terasa bosan atau tak ada agenda kegiatan. Tempat itu entah mengapa telah menjadi rumah kedua bagi diriku.

Disana aku duduk sambil “memantengin” layar laptop. Detik demi detik , menit demi menit serta jam demi jam.. kusimak pergantian waktu menuju akhir tahun dengan menonton lewat jejaring social ini. Yaa ! kuperhatihan semua orang terlihat sibuk mengabarkan apa yang mereka lakukan agar melewati momen ini tak begitu saja , pikirku demikian. Beberapa dari mereka tentu ada yang kukenal secara baik dan ada juga yang belum sama sekali bertemu. Tapi itu tak penting. Kembali lagi kepada diriku, masih berpikir apa yang mesti kuucapkan atau apa saja yang pantas guna memaknai momen ini?

sejenak kulihat kanan dan kiri, teman-temanku juga terlihat melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Hanya sedikit berbeda, mereka terlihat lebih memilih untuk mencari bahan untuk menghibur diri di internet.
Kuajak mereka untuk menonton filem yg ada dalam laptop yg kubawa, mereka mengiyakan dan kami pun mulai menonton. Sengaja kupilih filem yang memuat hikmah tentang “semangat, perjuangan, pantang menyerah,kesabaran, keberanian dan keyakinan” nilai yang bisa diambil dari filem itu.
kami hanyut dalam suasana filem sampai hujan yang turun dan bahkan pergantian tahun melintas sementara kami masih menonton. Ternyata begitu saja melewati. Wah!



saat pikiranku sadar bahwa telah melewati pergantian tahun , diriku berusaha berpikir lebih dalam dan jauh lebih dalam lagi seakan bertanya kepada diriku yang lain.

“Bagaimana ini? tahun telah terlewati.. apa yang kulakukan atau apa yang mesti kupikirkan??”
sejenak menenangkan agar lebih tenang, seakan diriku yang lain menjawab, “Laah!! Memangnya kenapa? Pergantian tahun memangnya ada yang harus kamu perbuat? Apa manfaatnya ? atau apa wajibnya ? jangan berpikir tentang waktu yang berganti, tapi pikirkan dirimu dengan waktu yang terus bergulir ini !!? seberapa berguna dirimu bagi semua? Bicara waktu, kamu juga tahu sesungguhnya semua orang dalam kerugian?? Sebagai pikiranmu ,aku sarankan dirimu perbaikilah dirimu, perbanyak bersyukur!!”

jleb! Semua kebingungan terjawab seketika..

waktu telah memasuki dini hari, setelah usai aku segera pulang kerumah. Sepanjang jalan yang sunyi sepi dihiasi hujan yang terus berguyur. Tak ada suara petasan, tak ada suara terompet , sepanjang jalan kanan kiri terlihat beberapa orang meneduh dari air hujan, aku terus melaju sambil diikuti hujan. Menambah kental tentang suasana yang baru kualami.. yaa hanya mengalami suatu pemikiran.
Esok pagi dihari pertama awal tahun, dalam rumah. Kucoba merangkumcdalam pikiranku mengenai kejadian apa semenjak malam terakhir diakhir tahun sampai hari pertama diawal tahun. Setelah mantap, kubuat tulisan ini , kubuat tulisan ini yang bisa kuanggap sebagai refleksi pergantian tahun.
Lalu apa intinya tulisan ini sampai pada kalimat saat ini? Kuakui belum ada suatu klimaks atau apapun sebutannya. Karena ini bukan cerita umum tentang penokohan, apapaun itu .

Kulihat suasana kehidupan isi rumah, ada ibu yang sibuk didapur, keponakan yang asyik menonton film kartun serta kaka perempuan yang sibuk dengan warung sayur mayur bahan pokok.
dari merekalah kudapat inti dari tulisan ini, yaitu tentang apa yang mesti diperhatikan dalam tahun yang baru. Lho? Bukannya pemandangan seperti ini adalah hal yang biasa?? Setiap hari memang begitu? Yaa memang benar. Terkadang apa yang terlihat itu tak seperti yang terlihat, kita perlu melihat dari sisi yang lain.

tahun yang baru telah hadir, apa yang telah dialami selama tahun sebelumnya kita perlu bersyukur.
Yaa teringat saat pergolakan pemikiran semalam, kata bersyukur menjadi penutup atas kebingunganku semalam.
Terkadang perlu mengalami suatu hal untuk menyadarkan akan pentingnya bersyukur.
sampai saat ini diriku masih bisa melihat ibu dan keluarga dalam keadaan sehat, dan yang terpenting masih bisa untuk melakukan bersyukur serta minta maaf.
Kita tak pernah bisa membayangkan bagaimana jika hidup tanpa keluarga? Tanpa orang yang dicnta dan disayangi, Adakah semangat ??
coba tengok, satu dua tiga tetangga disekitar, bagaimana keadaan mereka? Mungkin ada yang telah kehilangan anggota keluarga, mungkin juga hidup tak lebih baik dari kita. Dari yang terdekat saja bisa menyadari akan pentingnya bersyukur. Lalu tentang merasa bukan siapa-siapa didunia ini. Dan tidak ada apa-apanya dibandingkan DIA.

Tak akan ada habisnya jika menafsirkan arti bersyukur dalam kehidupan sehari-hari. Akan berhubungan dengan semua hal.
Kita tak pernah tau kapan Allah akan merenggut hal-hal indah dari hidup kita dengan berupa ujian dan cobaan.
Sampai hal itu akan tiba, perbanyaklah bersyukur dan mohon ampun. Berbaktilah selagi mereka masih ada.
Alhamdulillah
Terimakasih karena masih bisa mengingat akan pentingya syukur.


Wallahu’alam bisshowab.
Asep Sahwani
{bukan penulis, hanya berusaha 'mengikat' tiap momen dengan tulisan}
*diposting facebook pada : 1 Januari 2014 pukul 11:55

Tuesday, December 2, 2014

Maka dekatilah.. {Bagian Pertama}

Assalamualaikum. wr wb.


Beberapa waktu belakangan saya sudah jarang menulis cerita melalui media ini, banyak yang ingin saya tulis dan bagikan. Semoga kedepannya sang waktu dapat lebih memihak saya untuk sekedar memainkan jari jemari ini yang sudah agak lama tak menari.. satu dari sekian banyak kisah, ungkapan, pengalaman dsb inilah salah satunya yang akan dan telah saya bagi.Masih banyak antrian-antrian tulisan-tulisan untuk segera diberi kesempatan agar bisa terposting dan kemudian dapat disimak.Tentunya dengan harapan ada secuil faedahnya. (belagak penulis beneran) 

Pada kesempatan kali ini, saya bercerita tentang sebuah obrolan di media "Instant Messengger"{IM} bernama Whatsapp. Sebuah socmed perpesanan instan paling sederhana dan paling efektif menurut saya dalam penggunaannya.Obrolan ini bertema mengenai curhatan saya kepada seseorag yang saya anggap lebih dewasa dalam segala hal, meskipun belum bertemu sama sekali secara langsung. Hanya sebatas ngobrol saja via IM tersebut.

perbincangan ini belum lama terjadi, sekitar beberapa hari setelah Idul Fitri.
berikut obrolannya tanpa saya lebih atau kurangi satu hurufpun. hehe :)

saya:          Assalamualaikum. wr. wb


beliau:     Wa'alaikum salam warahmatullaahi wa barakaatuh
               Apakabar kng Asep?
               Taqabbalallaahu minna waminkum
               Met lebaran. *telat heh


saya:     Alhamdulillah...
            Maaf atas segala kesalahan saya.. Met lebaran juga
            Ada yg mau saya tanyakan nih.. Pak

beliau:      Gak ada yg salah kok :)
               Boleh. Kalo bs sy jwb



saya:      
Apakah segala kebingunan yg membuat seseorang menjadi gundah gulana..
                Dan segala perkara hati yg datang . Bagaimana kaitannya dg ilmu Islam?

beliau:  Hmmm..
           Banyak faktor yg menyebabkan hati gundah.
           Diantaranya jauh dari ilmu Allah dan bergelimang dg dosa.
           Obatnya adalah istighfar, dzikir dan menuntut ilmu
           Setiap manusia tidak ada yg lepas dari dosa. Disadari atau tidak. Kecuali para nabi yg dijaga oleh Allah

           Maka kita membutuhkan muhasabah setiap saat. Introspeksi. Terutama menjelang tidur.
           Ttg hal2 apa saja yg telah kita perbuat hari ini.Bisa jadi salah satu dari sekian perbuatan kita ada yg menyakiti orang lain.
           Atau Mlnggar hak2 Allah.
           Salah satu obatnya adalah dzikir.  Allah memberikan penjelasan ttg fungsi dzikir. Yaitu menenangkan hti dan jiwa yg gundah.



saya:            Alhamdulillah.. Dapat pencerahan
                   Mungkin saya akan tanya lagi nih yg lebih spesifik...
                             *sebelum sempat bertanya, beliau sudah melanjutkan pemaparannya melalui dalil*

beliau:      {الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ} [الرعد : 28]

           "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.  Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." QS Ar Ra'd: 28



saya:    
 Apa benar segala perkara hati datang dari Allah? Jika benar, akhir2 ini pikiran saya dibuat 'tersiksa' oleh bayang2...              Maaf jika pertanyaan saya konyol... Singkat kata, keseharian sy terganggu oleh pikiran ttg bayangan sosok seorang akhwat..

             Bagaimana pendapat bapak?
             Bagaimana menyikapinya?


beliau:   Sy bukan ahli dlm hal ini. Anggap aja ini berbagi saran.
            Keinginan hati utk melakukan hal2 yg Allah ridhoi, bisa jd itu ilham. Petunjuk yg datang dari Allah.
            Tp jika hasrat yg muncul di hati itu justru keinginan yg dimurkai Allah, mk itu dari nafsu dan setan. Harus diperangi jngan dibiarkan.
            Setan dan jin menggoda kita melalui hati. Seperti dlm surat Annas yg sudah hafal kita baca: yuwaswisu fii shuduurin naas.
            Memberi was-was dan bisikan dlm dada manusia.

            Yg perlu kita lakukan adlh berusaha menghilangkanny.
            Melupakan sosok akhwat tsb, dan tidak berkomunikasi dan berinteraksi dg akhwat tsb. Atau akhwat dan wanita pd umumnya.

            Rasulullah bersabda yg artinya "tidKlah aku tinggalkan fitnah bagi laki2 yg lebih besar drpd fitnah wanita"
            Yg bisa ditempuh lainnya adalah berpuasa.
            Karna puasa bisa menjadi benteng antara kita dg setan

            Dan solusi lain yg lebih bagus adalah: nikahi akhwat tsb. Niscaya hilang gangguannya. Bagaimana? Menarik kan?



saya:      Waah..
             Inti dari yg ingin saya benar2 pelajari adalah memang cara menyikapi hal ini.
             Terlepas dari apakah ini berasal dari godaan syetan maupun Ilham.

beliau:    Sederhana. Jika siap menikah, nikahi dia. Itu solusi yg Rasulullaah anjurkan.
             Jika tidak, berpuasalah dan jauhi interaksi dg akhwat.


saya:  
  Sy tak bisa apa2 lagi jika sudah dihadapkan dg 2 solusi itu, makin bingun dibuatnya...             Bukan berarti siap tak siap... Sy butuh lebih keyakinan apakah ini memang kehendakNYA atw bukan...

Yg kedua, sangat mustahil hidup dg tnpa interaksi dg akhwat didunia ini.


beliau:
Rasulullah bersabda:
           "Hai para pemuda, siapa saja diantara kalian yg siap menikah, maka menikahlah.
            Dan jika belum mampu maka berpuasalah, ..."
            Jika sudah berkeinginan, apalagi akhwatnya mau, maka mohon pada Allah dg beristikharah. Insyallaah hilang gundahnya
            Banyak ibadah pd Alllah jg mendatangkan pertolongan Allah.
            Menuntut ilmu Allah jg mendatNgkan kemudahan dr Allah.

            Inti semua itu adalah BERTAQWA. Maka Allah akan memberikan solusi bagi permasalahnnya dan memberi rizki dari arah yg tak disangka2.



saya:       Penjelasan barusan sudah menjawab tanda tanya dari yg akan sy utarakan skrg.
           Bgaimana jika saya kurang pede? Pesimis dll?

beliauوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

         "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
          Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS At Thalaq 2-3)

           Pertama, pastikan perbaiki diri dulu di hadapan Allah.
           Allah akan mudahkan urusan kita. Termasuk masalah PD.

          Selebihnya silahkan ikhtiar dg cara2 syar'i. Menghubungi orangtuanya utk mengutarakan maksud, misalnya.
          Wallaahu a'lam.

          Bisa jadi saran n masukan saya kurang tepat. Tp itu yg sedikit saya pernah tau.


saya:  
benar. 
Tapi selama proses memantapkan diri dalam rangka meminta kemudahan...
           Bgmn jika ada kekhawatiran jika akhwat itu sudah 'keduluan' oleh org lain?

          Ga. Gak., smua penjelasan pak ustad mencerahkan pikiran saya kok

beliau:   Bisa diatasi dg mengkhitbah lbh dulu. :)
            Dan jika ternyata didahului orang, ikhlaskan. Allah belum mentakdirkan utk kita. Maka jauhi angan2 berlebihan ttg akhwat tsb :)



saya:      Bisa dijelaskan mengkhitbah yag dimaksud?


beliau:    Camkan ayat ini:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُم

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu."(QS Al Baqarah 216ْ)

             Itu tentang jodoh dan taqdir.

             Jangan letakkan di hati. Jika hilang lbh mudah menerima. Jika wanita sudah bercokol dlm hati, maka itu namanya fitnah wanita.
             Mengotori hati.

             Khitbah artinya melamar
             Datangi orangtuanya. Nyatakan keinginan utk menikahi dlm waktu dekat, bukan tunangan yg masih tidak jelas berbulan2.

             Jgn khawatirkan rezeki, Allah menjamin setiap rizki anak adam. Jika kita miskin maka Allah akan mencukupi.
             Orang gila saja dijamin rizkinya oleh Allah hingga bisa hidup berhari2 bahkan bertahin2. Kita lebih utama utk tidak khawatir.
             Semoga membantu. :)

saya:     Subhanallah..
            Mungkin sy akan mulai dari mohon petunjuk.. Ttg perkara hati ini. Terimakasih banyak pak ustad...

beliau
Silahkan pilih yg paling mudah. Yg penting kerjakan dg sungguh dan ikhlas.
            Saya bukan ustadz, sy jg msh bljr ngaji. sy hanya mnyampaikan yg pernah sy dengar dan ingat
            Dan ini jg pengingat utk pribadi saya. Jd jgn merasa dinasihati ya:)



Belum ada obrolan lagi setelah ini, baik saya maupun beliau untuk sekedar ngobrol santai.. Mungkin karena beliau yang berpikir saya sedang "berikhtiar" sehingga jangan-lah diganggu dulu.. Atau mungkin saya yang memang belum siap menghubungi beliau, tentu karena belum mendapatkan "sesuatu" dari ikhtiar yang dilakukan.. Mau jawab apa jika disinggung? hehe.
Beberapa waktu setelah obrolan ini saya mantapkan untuk mendinginkan kepala terlebih dahulu dan memohon petunjukNYA atas segala perkara hati yang tak menentu........ yang "mengganggu" ini...

Sampai akhirnya ada obrolan lagi dan saya sudah tak "mengalami" lagi perkara hati ini, mungkin entah karena sudah mendapat suatu petunjuk atau mungkin yang lainnya.... tentunya cerita selengkapnya ada pada tulisan selanjutnya.. :D


#bersambung...

Maka Dekatilah {bagian terakhir}

Alhamdulillah wa syukurillah....

terimakasih untuk semua.
Rasanya tak ada kalimat awalan yang pantas selain berucap syukur dan menyebut.. nama-NYA..

. . . . . .


"Apa yang telah dimulai, maka selesaikanlah"
-anonim-

Memaknai kalimat diatas bisa diketahui dengan mudah apa artinya, jika telah memulai sesuatu (apapun) maka sebaiknya diselesaikan.Kalimat itu sengaja kujadikan motivasi untuk memberanikan diri dalam menulis kelanjutan tulisan sebelumnya (baca: kisah nyata)..

Perlu diketahui, amat sulit melanjutkannya loh.. >.< karena.... ah! sudahlah lanjutkan saja membacanya.

Diceritakan sebelumnya tentang obrolan di Social Messengger yang mendiskukisan bagaimana saya meminta pendapat dan konsultasi atas segala perkara hati, dimana saat itu orang yang saya mintai pendapatnya adalah seseorang yang kuanggap pantas lebih-lebih paham mengenai perkara yang kuutarakan tentunya ditinjau dari sudut pandang agama (Islam).

Perkara itu ialah ... ah! tak usah diperjelas. Teman-teman bisa baca ditulisan sebelumnya saja :D

~~~

Memang benar setelah obrolan itu selesai, akhirnya saya menemui titik ketenangan, titik keseimbangan antara hati dan pikiran menjadi satu, dimana bisikan-bisikan negatif tak bisa masuk, dimana segala potensi yang membuat pribadi seseorang goyah tak dijumpai dan dimana kondisi terbaik untuk menjalani hidup terbuka lebar.. Dimana segala perkara hati, gundah gulana, risau menghantui dan galau mengungguli serta semangat hidup yang tiada dihati..
semuanya telah terlewati.. dengan perjuanganku ini sepenuh hati  dan....  Seorang diri. jreeng..!
aaah!!

Lagi-lagi saya belum serius melanjutkan tulisan ini.. 
Inilah mengapa tadi kukatakan amat sulit .

Tapi walau bagaimanapun cerita bersambung sebelumnya harus dilanjutkan dan diakhiri.

Akhirnya mau gimana lagi? sepertinya harus pakai ritual khusus untuk meneruskan tulisan ini.. Ritualnya adalah dengan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, berharap pada pandangan gelap muncul secercah cahaya yang bisa menuntun untuk melanjutkan tulisan ini. Ternyata benar, saya menemukan sebuah petunjuk. Petunjuknya yaitu "bagaimana kenyataan sebenarnya dalam tulisan itu?"Oke.. Dilihat dari tulisan sebelumnya lalu dikonversikan kedalam dunia nyata, akhirnya saya bisa melanjutkan cerita ini. Dimulai dari petunjuk ritual itu, bagaimana kenyataan sebenarnya?Ini cerita dimasa lalu.. mungkin saya harus mengajak para pembaca 'menyelam' lebih jauh kebelakang lebih jauh dimasa lalu. Saya akan coba Flash Back. Dimasa sebelum saya berkonsultasi dengan beliau (pada cerita sebelumnya).




------- Berikut cerita masa lalu itu -------

begin the flash back

. . . . . . . . .

Suatu malam, saat itu saya sedang asyik berkutat dengan hp berdiskusi disuatu grup WA. seperti pada umumnya obrolan-obrolan grup membahas tentang perkembangan grup, agenda grup, rencana kedepan, sharing seputar member dan sebagainya.


Ditengah diskusi, admin grup menambahkan anggota baru dibarengi ucapan penyambutan..
Kurang lebih seperti ini obrolannya:



.....
.....

.....


admin menambahkan 08x-xxx-xxx-xx



admin:
"selamat datang Muslimah.. silahkan perkenalan diri :)"



member A :
"welcome mba Muslimah..."


member B : "selamat datang mba Muslimah.."


member C : "ahlan wa sahlan teteh Muslimah.. :) ga nyangka bisa ketemu disini"


SAYA : (silent reader dadakan)



member S : "selamat datang Muslimah.. silahkan isi biodatanya ya.. seperti format "
(dibarengi format data yang mesti diisi oleh member baru)
*sekretaris grup



MUSLIMAH :
"assalamualaikum.. perkenalkan nama saya Muslimah...,...,...., dan seterusnya "
(memperkenalan diri sesuai format)



member D :
"waah! hebat sekali mba backgroundnya"



member C :
"teteh emang hebat ajarin dong, bener-bener  top deh"



SAYA: (masih silent reader)
*cukup kaget juga membaca profil member ini dengan background beserta sederet aktifitasnya yang menurutku ga mudah menjumpai banyak orang seperti ini



member A :
"wah mba Muslimah top (y)



MUSLIMAH :
"makasih semuanya, saya masih miskin ilmu.. harus banyak belajar dari semuanya, mohon kerjasamanya :)"
.....
.....
~



Akhirnya Muslimah menjadi bagian dari grup bersama saya dan member-member lainnya.
Keesokan harinya saya coba untuk mengobrol dengannya.
Kebetulan saya punya rencana untuk membangun bisnis dan sedang mencari partner untuk menjadi tim dalam bisnisnya nanti.



saya:
"Assalamualaikum...
(perkenalan diri beserta maksud)
*cukup panjang saya jelaskan disini maksud tujuan terutama mencari partner bisnis, karena baru perkenalan dan belum bertemu maka saya uraikan secara lengkap



*perlu diketahui saya cukup berani langsung mengajak untuk berpartner dengan Muslimah ini, dilihat dari profil perkenalan digrup.. saya bisa pastikan sangat mungkin orang lain akan hilang 'nyalinya' untuk berpartner dengan Muslimah.



*masih berkutat di WA saya menunggu respon Muslimah ini, lumayan juga menunggu responnya... wajar saja  mungkin dia sedang tidak pegang hp atau masih mempelajari ajakan saya. 



*akhirnya muncul balasannya



Muslimah :
"wa'alaikumsalam.. inshaa Allah ya kak :) "



Saya :
"apa itu artinya mau dengan ajakan saya?"



Muslimah :
"mudah-mudahan ya kak"



Saya:
"ah yang bener ni? kenal dan ketemu aja belum... kok langsung mau sih?"



Muslimah:
"mungkin ini sudah ketentuan-NYA kak.."



Saya :
"sebelum dan sesudahnya makasih banyak deh... saya banyak kurangnya lho"



Muslimah:
"Muslimah lebih banyak kurangnya kak.. ada hal yang kakak bisa dan muslimah ga bisa.. saling kerjasama ya kak :)"


Saya:
"tapi.. tapi.. kan saya masih ga percaya.. bisa-bisanya langsung mau ikut ajakan saya yang tiba-tiba kirim chat begini.. siapa tau saya cuma iseng atau bahkan lebih dari itu.. kok langsung mau gitu.. tau gak sebenernya ajakan ini saya kirim secara acak ke kontak dihape saya... dan cuma Muslimah yang respon bahkan langsung mau.. yang lain ngerespon aja kagak.. padahal kan baru aja gabung digrup itu kemaren.. "



Muslimah:
"Mungkin ini ketetapan-NYA kak..lagian aku juga suka bisnis"


Saya:
"sekali lagi terimakasih ya.. sumpah deh masih ga percaya.. hmm jadi gini nih rencana saya untuk memulai bisnis kita.. kebeteluan saya ingin sekali menghidupkan usaha keluarga dulu yang sempat booming.. saya pikir harus mencari partner siapapun itu yang penting mau menerima kekurangan saya.. "

.....
.....

Malam itu kami mencair dalam diskusi dan gak nyangka bisa langsung akrab, saya menuangkan berbagai pemikiran tentang rencana bisnis yang akan dilakukan. Muslimah meresponnya dengan baik dan tertarik sambil berbicara sedikit tentang kehidupannya.


Akhirnya kami sepakat bertemu disuatu tempat untuk berdiskusi dan mematangkan rencana bisnis yang akan kami lakukan. Sambil menunggu hari yang disepakati, rasa ingin tahu saya semakin meningkat.. Saya akhirnya mengerahkan segala kemampuan IT untuk searching all about her .
Hasilnya saya terkagum-kagum... Dia adalah seorang trainer nasional yang sudah tidak asing ditelinga, setidaknya dilingkungan kampusnya, seorang aktivis suatu organisasi, mempunyai bisnis oleh-oleh khas daerah, juga aktif disebuah yayasan yatim piatu sebagai pengajar dan seterusnya rentetan berbagai kegiatan yang ia lakukan.


Saya menyesal..! "Kalau tau gini, mending ga usah cari tahu.." gumam dalam hati. Bagaimanapun ia adalah sosok yang 'sempurna'.. saya hanya seorang karyawan biasa yang mencoba bisnis sampingan. Pikirku saat itu, entah mengapa langsung mencaci maki diri sendiri dengan membanding-bandingkan dengan Muslimah.


....

Tiba juga hari yang disepakati, singkat cerita saya sudah berada ditempat lebih awal dari perjanjian. Sambil menunggu Muslimah datang, saya duduk didepan teras suatu bangunan.. Beberapa saat  ada panggilan telepon..


tolelot lotelot tolet lotet *dering telepon



Saya: 
"...ha hallo..?"



Penelepon :
 "Hallo.. Assalamualaikum.."



Saya:
 "Iya.. Wa'alaikumsalam.. siapa ya?"

Penelepon: 
 "Ini Muslimah kak.. kakak dimana? "

Saya : 

"Owh Muslimah.. saya diteras dekat tangga nih"
*ternyata dia memakai nomer lain untuk menelepon, pantas saya kebingunan

  Muslimah : 
"oke kak, eh kakak yang mana itu disitu banyak orang... kakak coba berdiri"

  Saya :
"I..iya. nih saya berdiri" *sambil clingak-clinguk melihat sekitar

  Muslimah :
"Hai kakak nih aku dibelakang kakak.."



Saya :
"owh itu kamu ya.."
*saya balik kanan dan melihat seseorang berhijab  syar'i warna ungu berjarak sekitar 7 meter..

Muslimah: .. :) 
*menutup telepon




Singkat kata, kami sudah berdiskusi mengenai rencana bisnis. Diskusi kami berjalan dengan lancar, kami sepakat untuk membangun suatu bisnis dan untuk menuju kearah itu harus diperlukan beberapa tahap lagi agar bisnis yang kami akan bangun bisa terealisasi.
Itulan awal pertemuan dengan Muslimah.. Hari-hari berikutnya komunikasi kami berjalan dengan lancar, baik digrup maupun secara personal.
Juga perkembangan diskusi bisnis kami semakin intens dan terbuka lebar untuk menjadi kenyataan.

Sudah dua bulan terlewati. Semuanya berjalan baik.

Suatu hari Muslimah mengabariku bahwa setelah wisuda nanti ia akan melanjutkan kuliah diluar negeri. Mendengar hal itu.. Sontak saja pikiranku menjadi tak menentu. Bagaimana tidak? Kan baru saja kenal lalu menjadi partner.. Semuanya berjalan baik dan tinggal sedikit lagi.

 "Jika Muslimah pergi begitu saja.. Bagaimana.. Bagaimana ini..?!"

Apa yang mesti kuperbuat, apa yang...  "aahh..!! Aku tak tahu..!"

"padahal sudah tahap ini, tinggal sedikit lagi bisnis kami akan jadi kenyataan.. tapi kenapa harus begini...!"  Hatiku menjerit.

Menangaapi hal itu.. Aku hanya bisa berkata sewajarnya tanpa melibatkan sisi emosi dalam hati.. 
Yang keluar dari mulutku justru sebaliknya,  bukan seperti kemelut dihati..


"Owh bagus deh.. Gak aneh kok orang seperti kamu melanjutkan kuliah diluar negeri.. Insya Allah saya selalu mendoakan dan mendukung jalan karirmu.."
".........Tapi gimana dengan bisnis kita..?"


Muslimah menjawab dengan tenang.. 


  "Ah kakak nih.. Aku orang biasa.. Makasih banyak ya kak.. saling mendoakan yang terbaik ya :) "
"Sepertinya gitu deh bisnis kita.. tapi kakak gausah khawatir, toh nanti aku juga bakal balik lagi.. lagian cuma 2 tahun.. ga ada apa-apanya segitu.. Aku punya beberapa rekan bisnis juga.. Insya Allah sebelum pamitan.. Aku akan kenalin mereka ke kakak.. Nanti kakak bekerjasama aja dengan mereka ya.. kakak juga bisa ambil alih bisnis aku yang oleh-oleh itu. :) "

"Ya.."
Jawabku singkat.


Hari-hari berikutnya kujalani agak berbeda, tentu saja karena efek dari obrolan mengejutkan dari Muslimah.. Aktifitasku semakin tak bergairah.. Sedikit demi sedikit perasaan hilang fokus.. Terutama disaat bekerja. Sosok Muslimah kini menghantui hari-hariku. "Aku semakin menderita..!!"
ya penyakit hati muncul.

Singkat kata.. Beberapa hari menjelang kepergian Muslimah.. Aku sudah dikenalkan oleh beberapa rekan bisnisnya.. Mereka menyambut baik dan mendukung langkah Muslimah serta perkenalan denganku.

Menghitung hari jelang kepergiannya.. Aku bisa bilang "Hidupku 'kacau' "
Setiap waktu dipikiran hanya ada sosok Muslimah..  Kemana mata memandang, bayangan Muslimah selalu terlihat.
Muslimah.. Muslimah.. dan Muslimah menguasai diriku.
Penyakit hati ini pun sudah akut.

"Aku sudah tak tahan lagi..!"
 
Akhirnya kuputuskan untuk berkonsultasi dengan seorang ustadz.
Semalaman kami tanya jawab mengenai bagaimana kumengenal hingga akhirnya hidupku seperti ini (penyakit hati yang kuderita). Beliau banyak memberikan pencerahan sampai akhirnya menyarankan untuk memilih dari dua pilihan...

" Buang jauh-jauh segala hal mengenai akhwat.. yaa akhi.."
atau
"Khitbah dia........."


Dihadapkan dengan dua pilihan itu, jujur kuakui tak bisa merespon apapun.




"Terimakasih ustadz.."




Tinggal hitungan jari,  hari menjelang kepergian Muslimah.. Kurenungi dan pikir matang-matang atas apa yang telah dialami.. Aku berusaha lebih mendekatkan diri PadaNYA, berpuasa, meningkatkan sunnah dan sebagainya. Sampai akhirnya memutuskan suatu hal.

Sehari menjelang terakhir kali dapat menjumpai Muslimah.. Aku meminta untuk berkunjung kerumahnya, dalam rangka silaturahim dengan orangtuanya.. Muslimah membolehkan dengan senang hati.

Singkat kata, kami sudah berada diruang tamu dan sudah ngobrol ringan.

Saya:
"Jadi.. sudah fix pamitan nih lusa ?"

Muslimah:
"Insya Allah kak. mohon doanya ya :)"

Saya:
"Insya Allah.. Ngomong-ngomong Ibu kemana?"

Muslimah:
"Sebentar kak, dipanggil dulu ya"

Beberapa saat muncullah Ibunya.. Saya bersalaman dilanjut memperkenalkan diri.
Kami pun larut dalam obrolan ringan dan santai.. Didalam obrolan akhirnya bisa kuketahui bahwa ayahnya masih diluar kota karena urusan pekerjaan. Saat itu saya lebih banyak mengobrol dengan ibunya, Muslimah berada disamping beliau sambil berkutat dengan hpnya, dia senyum-senyum sendiri.. Entah apa yang dilakukan dengan hpnya sehingga membuatnya senyum seperti itu. Tapi saya gak peduli  Jujur saat itu curi-curi pandang (melihat Muslimah) disaat mengobrol dengan ibunya..
Akhirnya kumenemui sisi dimana dia terlihat manis.
Dalam hati kuberkata "Duh Muslimah kamu itu.....manis sekali".


Tanpa terasa waktu petang datang, saya berpamitan untuk pulang.

"Terimakasih bu.. maaf sudah merepotkan"  ucap saya.

"ah nda apa-apa..namanya juga silaturahim" Beliau menanggapi.


Singkat kata saya sudah sampai dirumah.. Malamnya kumerenung. "Andai saja tadi ada ayahnya.. mungkin sudah..." ucap dalam hati.

Kuambil hp lalu jari jemari mulai mengetik.. yaa kali ini akan kuutarakan tentang apa yang kurasakan selama ini semenjak mengenal Muslimah.


Semuanya aku tuangkan kedalam sebuah pesan .. Bagaimana mengenal hingga hari-hari dipenuhi sosok bayangan Muslimah.. Jujur saja pasti akan menyesal jika tak mengutarakan ini.
Pesan itu hanya sekedar apa yang kurasakan.. Tanpa menuntut apapun, tetapi tentu kusiap 'bertanggung jawab' dengan penyampaian pesan ini.

Juga didalamnya kusampaikan bahwa jika saja tadi ada ayah Muslimah.. mungkin sudah kuutarakan langsung.

Cukup lama menunggu balasan darinya.. Melewati malam,  hingga pagi harinya baru kulihat sudah ada balasan.

Jawaban Muslimah...

"Sepertinya saat ini belum ada niatan kearah itu.. dua tahun lagi ga tau akan seperti apa.. Aku serahkan sepenuhnya padaNYA... Maaf"
...

Entah mengapa setelah membaca jawaban darinya.. Akhirnya plong perasaanku.. Tak peduli apapun responnya.. Hal yang penting adalah aku sudah berani untuk mengutarakan dan telah melewati fase-fase 'penderitaan' ini.

Mungkin hikmah yang bisa kuambil adalah saat ini Allah masih sayang dan belum mengizinkan untuk menikah, banyak hal yang harus kuperbaiki. Kuakui juga jika saja umpamanya Muslimah merespon dengan jawaban yang mengarah ke pernikahan.. "Sumpah gak tau harus gimana.."

Ternyata rencana Allah memang terbaik, hari-hari setelah obrolan terakhir pada saat itu.. Semuanya berangsur normal dan membaik.. Aaah terimakasih ya Allah Engkau telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kali ini.

Ada rasa kebanggaan dalam hati yaitu mungkin saya orang pertama yang mengutarakan ini kepada Muslimah. Kuyakin dia takkan melupakan ini. Juga aku bangga pada diriku yang telah berani mengutarakan kepada wanita sholehah seperti dia.

Kini dia sudah pergi.

"Sampai bertemu lain waktu Muslimah.. semoga sukses jalan karirmu"

"Sampai bertemu dua tahun lagi.. entah kita sebagai rekan.. atau lainnya"


Jika kelak kita berpartner kembali, hanya berpartner bisnis..Tentu aku sangat senang dan  sudah jelas berarti kamu bukan jodohku.

Tetapi jika kenyataan berkata lain... Tentu saja kuserahkan semuanya pada Allah.
Yang jelas saat ini dan seterusmua, kuselalu berusaha memperbaiki diri.

 . . . . .

---------------------------------------------------------------------------
end flash back



Hingga saat ini, saya melakukan aktifitas sehari-hari berjalan lancar tanpa dihantui 'sesuatu' dalam flash back tadi. Ini adalah suatu prestasi tersendiri  bagi saya, gimana enggak ? ada dua hal yang bikin 'menderita'. Pertama, bagaimana berjuang menghadapi ujian dariNya yang saya ceritakan melalui tulisan ini dan tulisan sebelumnya DAN kedua, bagaimana mengingat, membayangkan, menjiwai lalu 'mengalami' lagi hal itu untuk membuat tulisan ini.

"boleh kan saya anggap sebagai prestasi?"

Yah.. Setidaknya semua itu sudah terlewati. Kisah singkat ini sudah usai.

Muslimah sudah jauh disana, melewati ribuan bahkan jutaan mil laut.. juga terpaut jutaan kilometer dari daratan.. atau mungkin ratusan ribu knot kecepatan angin.. Serta...
Ah..! cukup.


Kita harus bisa saling menyemangati teman-teman dan rekan mengenai jalan hidup, mengenai karir, mengenai keyakinan dan mengenai semuanya. Dengan orang lain kita bisa belajar sesuatu, dengan diri sendiri bisa belajar percaya diri dan dengan semuanya kita belajar hidup.

Hidupku hanya untuk Allah.. matiku hanya untuk Allah.
Segala sesuatu hanya untuk Allah.

Begitu juga dengan Muslimah.


--TAMAT--

Sunday, November 2, 2014

1435H… terhangat-ku


 
……
Semua umat Islam diseluruh dunia pasti gembira dan bersuka cita ketika hendak menjumpai bulan Ramadhan, tak terkecuali aku. Dengan segala kapasitas dan kuantitas pada bulan itu serta pesonanya adalah alasan mengapa semua umat islam bergembira menyambut kedatangan bulan penuh Rahmat tersebut.
Akupun demikian, ikut larut dalam euphoria kedatangan bulan ramadhan khususnya ditahun ini. Tiada rasa syukur yang pantas kupanjatkan selain rasa syukur karena masih diberi kesempatan merasakan bulan Ramadhan ditahun ini.
Adalah hal terindah dan sangat bahagia ketika di hari pertama melaksanakan ibadah puasa dan berbuka puasanya  bersama keluarga dirumah. Hampir semua orang pasti mengutamakan ini.

Dan Dari sinilah kisahku dimulai..
Hingga saat ini momen Ramadhan kemarin masih membekas dipikiranku dan hal ini takkan kulupa, sungguh takkan kulupa seumur hidupku. Banyak pelajaran yang kudapat..
Sebenarnya aku sangat bingung harus mulai dari mana.. karena kisah yang kualami ini terasa secara perlahan demi perlahan. Ibarat dalam sebuah pilem, aku adalah orang yang disiksa secara perlahan tanpa menyadari kapan siksaan itu dimulai dan berakhir. Aku sudah berpikir dalam untuk mulai menulis dari bagian yang mana untuk bisa masuk ke cerita sesungguhnya. Dan aku akhirnya mendapatkan satu kata untuk memulainya..

kata tersebut ialah “IBU”.
Membaca dan mendengar kata IBU , aku langsung terbayang sosok ibu. Beliaulah alasan mengapa dan apa yang kukerjakan hingga detik ini. Semua karena beliau.

Disaat aku berusia empat tahun hingga saat ini, beliaulah yang selalu mendidik dan mengurus tanpa menunjukkan betapa luar biasanya tantangan melakukan hal itu seorang diri, tentunya juga termasuk kakakku yang lain. Amat banyak yang sudah beliau lakukan untuk masa depan semua anaknya.
Hingga saat ini-pun beliau masih terus selalu memikirkan semua anaknya diusia yang kubilang “cukup”.
Maka dari segala hal mengenai beliau kujadikan alasan untuk terus berjuang.

Kembali kecerita…
~~
Jumat 13 Juni…
Dimulai hari itu aku mengetahui bahwa ibu sedang kurang fit, bisa kudengar dari suara batuknya. Tetapi beliaupun menganggap bahwa hanya batuk biasa sehingga  tak mudah menyerah hanya karena itu, segala aktifitas harus dihentikan. Memang bisa kulihat dan kuyakini juga bahwa penyakit kecil bisa hilang kalau dibawa aktifitas fisik sepanjang hari. Hingga malam untuk waktunya istirahat telah tiba, seisi rumahpun menutup aktifitasnya.

Dipagi hari semuanya baik-baik saja. Aku pergi bekerja dan ibu dengan aktifitasnya. Kebetulan aku bekerja setengah hari jadi bisa segera pulang kerumah untuk mempersiapkan diri serta segala sesuatu  untuk berangkat kuliah. Perlu teman-teman ketahui diakhir pekan adalah jadwalku untuk kuliah.
Setiba dirumah kudapati ibuku tengah berbaring dikamarnya, yah tentu saja kupikir wajar karena “jam segini” waktu yang pas untuk rehat sejenak ditengah hari. Sampai akhirnya kakak perempuanku memberitahu bahwa ibu tengah berbaring sejak tadi pagi, beliau harus menghentikan aktifitasnya karena keadaan badan yang terasa “gak enak”. Padahal sebelum itu tadi pagi tampak segar bugar.
Aku kaget lalu menghampiri beliau untuk ngobrol. Kami mengobrol biasa, ibuku terlihat bahwa tidak sedang sakit, bahkan menunjukkan senyum yang mencerminkan bahwa tidak ada hal mengkhawatirkan yang sedang terjadi. Walaupun sekarang kuketahui bahwa senyum itu palsu.

Beliaupun menyuruhku untuk segera pergi kuliah dan aku iyakan perintahnya.
Hingga petang menuju malam aku habiskan hari itu dikampus, setidaknya sekitar jam 7 malam aku mendapat telepon dari kakakku. Setelah menerima telepon, aku langsung beranjat ke parkiran motor dikampus sambil mengucap salam ke teman-teman disana untuk pulang lalu langsung  “kugeber” motor menuju suatu tempat.
Setibanya didepan sebuah Klinik, aku masuk diklinik itu untuk mencari informasi. Yah , obrolan ditelepon dengan kakakku tadi  itu mengenai tempat klinik yang melayani atau menyediakan perlengkapan USG dan Rontgen, harus kupastikan dapat tempatnya karena kakakku memberitahu bahwa keadaan ibu makin memburuk sehingga membuat kakakku langsung berfikir penyakit ibu harus segera diketahui secepatnya. Mendengar hal itu ditelepon, wajar saja jika aku sontak langsung “geber” motor dari kampus menuju klinik.
Sempat juga kutelepon teman yang kuanggap punya informasi yang sedang kucari. Hingga sampai kutanyakan bahwa Rumah Sakit mana yang buka disaat ini (sabtu malam) atau esoknya.

Setelah kurasa cukup dapat informasi, aku langsung menuju rumah. Saat itu bisa kuketahui ibu makin parah, terdengar suara keluhan terus menerus menahan sakit. Reflek dalam hati kuberdoa, “Ya Allah kuatkan, angkat penyakit ibuku, jaga jiwa raganya, beri kekuatan, lindungi selalu…” tanpa henti dalam hati.
Kemudian kutemui kakakku dan langsung membahas keadaan ibu. Inti dari obrolan kami adalah mengenai tempat-tempat mana yang bisa melayani pasien dihari libur, klinik mana yang sarananya lengkap hingga dokter mana yang bisa dipanggil kerumah.

Hingga obrolan ini terus berlangsung sambil sesekali menengok ibu dikamarnya untuk terus berkomunikasi. Sampai malam yang larut akhirnya kami harus menghentikan obrolan ini. Aku tidur tak jauh dari kamar ibuku, dimana posisinya bisa memantau keadaan beliau walau kusambil istirahat dilantai berlapis kasur lantai. Malam terus berjalan, suara keluhan demi keluhan ibuku terus terdengar.
Perasaanku kacau, sedih, khawatir, was-was dan sebagainya . Tentu saja aku terus berucap doa dalam hati untuk kesehatan beliau. Aku meminta doa semua teman-temanku, kukirimi mereka sms untuk mohon doa, semua media yang bisa kuakses, aku postingkan berharap doa dari siapa saja yang membaca demi tujuan kesehatan ibu.
Malam itu kuhabiskan dengan memohon doa kepada teman-temanku. Sampai akhirnya aku tak sadar mulai tertidur kapan.

#bersambung…

Tuesday, October 28, 2014

Kembalinya Muslimah

Yaa Muqallibal Qulub.....
Tsabbit Qolbi 'aladinik....


Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati...
tetapkanlah hati kami pada agamaMU..


___

Mungkin memang benar, penyakit hati setiap insan memang beragam. Hanya sang pemilik hati sekaligus pencipta hati yang berhak untuk mau diapakan hati ciptaanNya. Terpaan dan terjangan badai ke arah hati selalu menyerang kepada siapa saja yang rentan goyah dan lemah. Walau sudah kokoh dan pernah menang.. lalu akhirnya mampu melihat hamparan kemenangan.

Namun tetap saja DIA meluapkan rasa sayangnya dengan kembali lagi melatih hambaNYA dengan segala kuasa daya.. Termasuk kuasa akan Qalbu.

Dan.. Aku sudah pernah lulus dari ujian tentang hati, ujian paling sulit kategori hati... Ujian itu tentang penyakit hati. Tapi tak pernah kubayangkan bahwa akan merasakan lagi secepat ini. Rasanya masih belum lama terakhir kali kualami penyakit hati, seakan tak percaya akan merasakan lagi memori-memori yang sangat menyiksa nanti.

"aaaah..!"
"Ya Aziz.. Berilah kekuatan kepada hambaMU ini"
"Jangan dulu.. jangan sekarang.. sekarang masih banyak... sekarang ini posisiku sedang tak menentu.. jangan KAU biarkan hati ini akan jadi tak menentu juga"

Itulah ancaman yang paling kutakuti, ancaman yang akan menghantui. Ketika penyakit hati singgah maka semuanya bisa berubah. Jangan sampai goyah walaupun aku ini lemah, jika hidupku kembali berubah maka selesai sudah. 
Kini ku hanya bisa pasrah serta tak boleh menyerah, kapan terjangan dan goncangan itu akan singgah. Aku tak habis pikir bahwa ini nyata. Kuharap ini mimpi tapi aku sudah bisa merasakan ini dan ternyata ini benar-benar terjadi.
Memori-memori yang terkunci seakan punya kekuatan untuk bangkit dan menampakkan diri dengan segala pesona yang tersimpan di dalamnya. Dan aku harus menyaksikannya.
Aku harus menderita lagi dan mengalami lagi bagaimana ketika itu aku hampir saja lupa diri.

Skenario-skenario terburuk terus melintas di kepalaku. Berbagai kemungkinan yang siap terjadi seiring dengan kedatangnya.

Lagi dan lagi orang itu yang menjadi bahan ujian dariNya untukku. Kenapa harus dia?

"Kenapa harus Muslimah?"

"Muslimah kini kembali............"


Tak sempat terpikir olehku hal ini akan terjadi, secara mengejutkan dia kembali. Rasanya aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Setelah perpisahan saat itu, aku pikir tak mengkin secepat ini dia kembali dan ada kesempatan sekedar menemuinya. Kupikir kami sudah mulai fokus pada kehidupan masing-masing. Aku dengan aktifitas sehari-hari, lalu dia dengan kuliahnya di luar negeri sana.

Kini pikiranku dilanda kebingungan tak menentu.. Ini bukan seperti yang dulu, ini bukan penyakit hati. Sebuah tanda tanya besar dalam kepalaku.

"Mengapa Muslimah kembali ?" 

Kemelut dalam kepalaku terus berusaha mencerna kejadian ini, mencari-cari jawaban dari tanda tanya besar ini. Seakan semua saraf dalam tubuhku bekerjasama mendukung otak untuk mengeksploitasi daya pikirku lalu menemukan jawabannya, untuk paling tidak berhipotesis yang paling mungkin tentang kembalinya Muslimah.

"aaah..mengapa sampai sejauh ini?"

Pemikiranku ini menjadi sumber dari berbagai penderitaan yang kurasa. Potongan-potongan obrolan bersamanya mulai keluar membayangi lagi kemanapun aku memandang, momen-momen bersamanya dari awal hingga akhir... semuanya terus bergantian merasuki hari-hari dalam kehidupanku, menutupi arah pandangku dan merusaknya serta mulai mengganggu kehidupanku lagi.

"Sampai kapan ini akan berakhir?"

Aku tak mau ini terus tejadi, aku tak mau ini terus menyiksa diri. Aku harus mencari tahu mengapa dia kembali, perkara apa yang membuatnya sampai melakukan ini. Aku harus mencari tahu untuk menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Pertama kali aku ketahui dia kembali kuingat melalui suatu grup suatu forum di sosial media. Seperti aku mengenalnya pertama kali, ya di media itu awal kami bertemu dan 'berpisah'. Kini aku ingat bagaimana kami memulai komunikasi, bagaimana kami setuju untuk memulai bisnis dan bagaimana dia mengakhiri bisnis kami..... Serta bagaimana diriku mengutarakan isi hati ini... lalu dia pergi. Dan sekarang kembali.

Dia memberitahu akan kepulangannya melalui forum itu... Aku dan teman-teman pun terkejut. Beberapa teman bertanya kepadanya. Lalu dia pun menjelaskan... Tanya jawab berlangsung saat itu. Aku ikut menyaksikan...tanpa melibatkan diri. Tak perlu aku meluapkan rasa penasaran. Cukup teman-teman saja yang mewakiliku untuk bertanya. Jadi aku tak harus memperbanyak pertanyaan lagi. Cukup aku saksikan saja tanya jawab itu. Hingga akhirnya kutemukan apa yang membuatnya sampai harus kembali, dari penjelasannya di forum itu dapat aku ambil satu kata yang menjawab tanda tanya besar di kepalaku ini. "Sakit".

Aku alihkan pandanganku di layar ponsel lalu kutinggalkan tanya jawab yang masih berlangsung saat itu. 

Rasa penasaran sudah hilang, namun sesuatu yang baru muncul mengitari kepalaku. Momen-momen yang menyenangkan berputar dalam setiap apa yang kubayangkan. Bak sebuah film, aku seperti menonton sendiri bagaimana pesonanya yang sederhana membuatku tak bisa berhenti berpikir tentangnya.

Kami masih terjalin komunikasi di media itu, aku tahu  walaupun antar negara.. tetap masih dapat menjalin komunikasi di media itu, seperti halnya aku dan Muslimah  serta rekan-rekan di forum itu.

Pada akhirnya dia kembali setidaknya untuk waktu yang cukup, karena suatu perkara. Di forum itu kami sepakat untuk menengok adik dari Muslimah yang terserang suatu penyakit. Yaa benar.. Muslimah kembali karena adiknya yang jatuh sakit, awalnya kukira terjadi sesuatu dengan dia ternyata adiknya yang menjadi penyebab dari kepulangan Muslimah.




Hari H telah direncanakan untuk menjenguk sekaligus bertemu Muslimah dan keluarganya. Kami di forum itu tak bisa semua turut serta, jadi kami telah memutuskan untuk siapa saja yang bersedia dan dapat meluangkan waktu. Akhirnya empat orang-lah yang terdiri dari dua lelaki dan dua perempuan lalu aku salah satu dari mereka.


Kemelut dalam pikiran seakan bangkit lagi.. "Sikap seperti apa yang akan kulakukan ketika bertemu dengannya?"


"Sadarkah kau Muslimah?"




#Bersambung


Blogroll