........
Esok paginya.. Suasana masih belum pasti, dalam kepalaku masih bercampur aduk. Keadaan ibuku makin parah, kudengar dari kakakku setidaknya sudah pernah mencoba berobat ke dokter beberapa hari sebelum ini tetapi tak ada perubahan. Ibu memang sering sakit-sakitan.
Aku dan kakakku melanjutkan pembicaraan semalam, kami harus memprioritaskan yang utama.
Kakak: "Dek jadi hari ini, pokoknya ibu harus segera dikasih penanganan yang pantes.."
Saya: "Iya.. haduuh gimana sih, kenapa ibu dalam keadaan ini sampe gak makan tiga hari segala..??!"
Kakak : "Kamu tahu sendiri.. ibu itu makannya susah, apalagi pas sakit kaya gini.. bilangnya gak nafsu.."
Saya:"Pokoknya pagi ini harus ada asupan buat ibu.."
Kakak: "Ya.. sekarang kamu berangkat ke rumah dokter itu yang semalem kita omongin.."
Saya: "kalau gitu saya berangkat dulu .."
Kakak: "ya.."
Pagi itu aku berangkat untuk menjemput dokter, kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kawasan tempat tinggalku.
Setibanya disana, kuketuk pintu rumah.
Saya: "Assalamualaykum.."Dokter: "Waalaykumsalam.. ada perlu apa?"Saya: "saya dari RT sebelah.. anak dari Ibu Umi.. mas dokter yang pernah periksa ibu saya?"Dokter: "ooh Ibu Umi itu.. iya sekitar seminggu yang lalu pernah berbobat disini, emang kenapa kang?"
Saya: "Itu, sekarang Ibu saya keadaannya gawat, bisa segera kesana mas ? saya bonceng naik motor.."Dokter: "Iya bisa.."Saya: "mas ada infus kan?"Dokter: "Infus ?! buat apa?"Saya: "Ibu saya sudah tiga hari belum ada asupan makanan...jadi.."Dokter: "Tiga hari?? Oke-oke.. kita berangkat"
Kami pun menuju segera menuju rumah, setelah tiba dirumah, dokter itu langsung memeriksa keadaan ibu.. Hal yang wajar jika beliau terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa ibu saya benar selama tiga hari tak ada asupan makanan.. terlihat dari kondisi ibu yang lemah.
Sambil terus ngobrol dengan ibu dan yang lain, mas dokter memasang infus dengan hati-hati. Tentu saja mataku ikut mengawasi setiap pekerjaan yang beliau lakukan.
Seusai memasang infus, dokter itu menerangkan tata cara mengganti botol infus apabila telah habis isinya. Dokter itu juga berpesan, walaupun sudah terpasang infus, ibu harus tetap ada asupan makanan walaupun sesendok bubur. Aku mengerti maksudnya dan akan memastikan itu.
Dokter: "Oke.. sudah selesai nih, jangan lupa ya ibu tolong utamakan asupan makanan dari mulut, akang juga tolong dampingi.."Saya: "Iya mas, yaudah saya antar kembali ke rumah.."
Selama perjalanan aku terus diingatkan mengenai kondisi ibu juga penanganannya. Dan akupun simak perkataannya.
Saya: "Terimakasih ya mas dokter.. saya bisa sedikit lega.."Dokter: "Iya sama-sama kang.. jangan lupa yang saya sampein tadi"Saya: "Akan saya ingat mas, jadi berapa semuanya?"Dokter: "Infus ya.. terus vitamin, ... ,, ... , jadi sekian kang"Saya: "ya.. boleh saya minta no.hp mas? Jika ada sesuatu yang perlu saya tanyakan gitu"Dokter: "08xxxxxx kalau ada apa-apa telpon aja kang"Saya: "Terimakasih ya mas, kalau gitu saya pamit ya.."Dokter: "iya.. makasih juga udah anter jemput .."
Saya: "sama-sama ya mas.. Assalamulaikum.."Dokter: "Wa'alaikumsalam.."
Setelah beberapa jam berlalu... kondisi ibuku terlihat membaik, sudah bisa duduk walau masih diranjang. Dan sudah mau menerima suapan makanan dari mulut meskipun masih sedikit.
Hingga sore hari, tiba saatnya aku untuk berangkat ke kontrakan. Tak rela rasanya harus pergi dengan kondisi ibu yang belum sehat total, kakakku berjanji untuk selalu mendampingi ibu dan memberitahu bahwa aku harus fokus pada pekerjaan. Jarak tempat bekerja dari rumah yang cukup lumayan itulah yang melatarbelakangi diriku untuk ngontrak.
Sudah tentu kemelut dipikiran masih tergambar jelas meskipun aku sudah menetap kembali dikontrakan serta ketika beraktifitas kerja. Rasa khawatir mengenai kesehatan ibu selalu mendominasi isi kepala.
Senin 23 Juni 2014...
Mau tidak mau inilah aktifitasku, sehari-hari dengan kegiatan yang monoton. Mengabdi sebagai pegawai di perusahaan. Dan akhir pekan diisi dengan belajar di bangku kuliah. Aku berpikir inilah fase yang harus kulalui.
Hari ini semuanya berjalan normal, hanya saja status 'siaga' selalu tertanam didalam kepalaku. Yang kumaksud adalah mengenai ibu di rumah. Perasaan was-was sebagai seorang anak yang ibunya sedang sakit tentu meluap-luap sepanjang hari.
Aku tak tahan lagi, kumanfaatkan waktu istirahat dihari bekerja untuk menelpon kakakku dirumah. Kakakku mengerti dan menenangkan aku bahwa ia selalu mengawasi ibu dan memastikan perawatannya sesuai dengan anjuran dokter. Ia juga terus meyakinkanku untuk tetap fokus bekerja seperti biasanya.
Akupun juga diyakinkan lagi melalui telepon oleh ibuku bahwa beliau baik-baik saja dan kakakku selalu mendampingi disana.
Hingga besoknya keadaan masih sama.. Semuanya sama seperti sebelumnya, aku juga menghubungi lagi kakakku dan menanyakan hal yang sama. Dan hasilnya tetap sama seperti kemarin.
Aku diminta untuk tetap fokus pada pekerjaan seperti biasa.
Hal ini pun sama dengan keesokan harinya. Tetapi menjelang sore hari, kakakku menghubungiku bahwa ibu mengeluh kesakitan dibagian perut. Ia berencana untuk membawa ibu ke sebuah klinik untuk diperiksa mengenai keluhan ibu yang baru tersebut, tetapi kakakku meminta agar aku tak usah repot-repot datang. Semuanya masih dalam pengawasan. Jadi aku tak perlu pulang.
Kamis 26 Juni 2014...
Aku melewati hari ini dengan tanpa semangat, gimana enggak? Ibu kembali mengeluh kesakitan dan dalam penanganan dokter baru. Sementara aku disini tak bisa berbuat apa-apa sambil terus dihantui kekhawatiran sepanjang hari.
Akupun kembali menghubungi kakak dirumah, ia mengatakan bahwa ibu telah diperiksa dan sudah dibuatkan resep obat oleh dokter di klinik. Ia kembali meminta agar aku tetap bekerja seperti biasa dan akan terus mendampingi ibu. Ibu sudah dirumah lagi.
Aku tak bisa membantah kakakku ini, ia adalah kakak tertua dikeluargaku. Meskipun kini ia telah berkeluarga dan mempunyai dua anak, rasa sayang dan cintanya kepada ibu tetap tertanam. Aku juga menyadari itu bahwa ibu memang sosok pahlawan bagi semua anaknya. Beliau mendidik para anaknya dengan seorang diri. Kami semua amat menyayangi ibu.
Besoknya pun tetap sama, ibu masih menjalani perawatan dirumah dengan mengikuti arahan dokter klinik untuk memastikan bahwa obat yang diberikan harus rutin dikonsumsi.
Tetapi malam harinya muncul lagi hal yang baru, ibu kembali mengeluh ditambah memuntahkan obat yang telah dikonsumsi. Kakakku berinisiatif untuk membawa lagi ke klinik. Kali ini kakakku meminta untuk pemeriksaan pada ibu secara menyeluruh. Semua fasilitas peralatan di klinik itu digunakan. Hasilnya cukup membuat kami terkejut, diagnosa menunjukkan ada masalah di sistem pencernaan pada bagian usus. Pihak klinik merekomendasikan untuk rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang sesuai.
Kakakku memberitahukan hal itu lewat telepon. Kali ini aku memaksa untuk pulang. Ia memahami ini, tetapi memohon aku untuk mengerti bahwa saat itu sudah larut malam. Keluarga dirumah memastikan pendampingan ibu. Juga, kakakku yang lain telah datang. Aku sebagai anak yang paling bungsu harus rela menahan diri lagi. Dihadapkan dengan semua kakak yang sudah ikut ambil bagian dalam perawatan ibu, aku hanya bisa tanya jawab lewat telepon.
Dan malam itupun aku tak bisa tidur, "ahhh gimana mau tidur??!" jeritku dalam hati.
Dan yang bisa kulakukan hanya berdoa memohon agar ibu segera diberi kesehatan.
Sabtu 28 Juni 2014..
Pagi-pagi sekali kutelepon kakak untuk memastikan rencana membawa ibu ke rumah sakit, ia mengatakan bahwa semua ia yang urus dan prioritas utama adalah penanganan ibu secepatnya. Ia akan memberitahu jika ada sesuatu hal yang harus kuketahui. Aku sudah tak sabar ingin mendampingi ibu. Kebetulan hari itu aku bekerja setengah hari, jadi bisa segera menuju rumah sakit.
Kali ini akan kumanfaatkan waktu hanya untuk mengawasi dan mendampingi ibu yang sedang dirawat. Aku tidak masuk kuliah dan untuk hari senin aku minta izin cuti. Dua hari bisa kujadikan totalitas untuk selalu berada disisi ibu.
Setibanya waktu pulang kerja, segera kumenuju rumah tentunya dengan menunaikan sholat dzuhur dahulu serta mendoakan kesehatan ibu.
Rasanya meluap-luap ingin segera bertemu, aku mengendarai motor lebih kencang dari biasanya. Meskipun aku tau bahwa berbahaya, "mau gimana lagi?" rasa rindu sudah tak terbendung. Perjalanan itu tak terasa lama bagiku mungkin Allah memudahkannya. Tujuanku rumah sakit tempat ibu dirawat, kakakku sebelumnya memberitahu dimana lokasi rinci tempat ibu dirawat seperti lokasi kamar, nomor kamar dan rutenya. Kakakku memberitahu itu via sms.
Setibanya di rumah sakit aku langsung menuju kamar tempat ibu berada. Disana sudah ada kakakku. Ibuku tersenyum ketika sesaat melihat kedatanganku.
Ibu: "dek.. tenangkan pikiranmu.. ibu nda apa-apa.. :) "
Saya: "gimana mau tenang? wong sudah di rumah sakit gini terus mesti dirawat, artinya kan ga normal.."
Kakak: "yaudah.. teteh pulang dulu ya, kamu temenin ibu disini.. dari pagi teteh disini.. tuh diatas meja ada surat-surat dari klinik ama surat-surat rumah sakit.." *keluar menuju pintu
Saya: "iya teh.. saya gantiin nemenin ibu disini.."
Ibu : "duduk nak.. tuh ada minuman, kamu belum makan?"
Saya: "gampang ma.."
Akupun akhirnya menemani ibu, kuperiksa surat-surat diatas meja. Semuanya kuteliti dengan seksama, ada beberapa gambar-gambar seperti hasil rontgen. Rupanya itu adalah gambar diagnosa dari klinik beberapa hari lalu mengenai penyakit ibu, banyak istilah medis yang tidak kuketahui dalam keterangan gambar itu. Yang jelas bentuk gambar seperti usus sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa disana letak rasa sakit yang ibu elu-elukan.
Selanjutnya kuperiksa surat-surat yang lain. Ada semacam kartu yang berisi biodata ibuku, lalu ada juga yang berisi seperti kolom-kolom pengecekan harian. Semuanya aku baca. Dengan bermodalkan surat-surat tersebut, aku bisa mengetahui status ibuku disini.
Setelah selesai dengan mempelajari surat-surat tadi, aku mengecek alat-alat medis yang menempel pada ibu. Dimulai dari botol infus, selang infus, ranjang, selimut dan keadaan ruangan.
Melihat tingkahku yang seperti itu, ibuku hanya tersenyum. Setelah aku bisa menguasai kedaan kamar tempat ibu dirawat, kini giliran ruangan informasi yang akan aku datangi. Aku bermaksud memastikan semuanya dalam keadaan baik dan aku harus mengetahui semuanya gambaran penanganan ibu disana.
Setelah dirasa cukup, aku kembali duduk menemani ibu sambil ngobrol ringan.
Ibu : "nak nanti malam kan sudah mulai tarawih... entar kamu pulang, sholat jamaah disana ya, biar kakakmu yang lain gantiin kamu, kamu jangan lupa doain ibu.."
Saya: "iya..ma.. sehabis tarawih, saya kesini lagi. Saya mau tidur disini aja nemenim ma.."
Ibu: "... :) "
Tak terasa, waktu petang sudah datang beriringan dengan kumandang adzan. Aku pun menunaikan sholat maghrib di rumah sakit itu, setelah selesai aku bersiap-siap pulang. Kakakku yang lain telah tiba untuk menggantikanku menemani ibu.
Saya: "Kak.. tuh diatas meja ada surat-surat rumah sakit dan perawatan rutin. Jangan lupa nanti jam tujuh malam jadwalnya ibu dapet makanan, klo ga ada hubungi suster yang ada diruang sebelah. Terus juga pastiin setelah makan, suster perawat untuk mengecek tekanan darah ibu, ngecek infus, semuanya dicek. Terus juga pasttin ibu ngabisin makanan. *sambil pergi menuju pintu
Kakak ke-2 : "Oooh.. iya dek......"
Ibu: "..:)"
Setibanya di rumah, aku lekas mandi dan bersiap-siap berangkat untuk shalat Isya dan Tarawih berjamaah.
Malam bulan Ramadhan yang cukup berbeda bagiku, tahun yang cukup berbeda kali ini. Dimana suasana bulan yang sungguh penuh berkah, diiringi dengan ujian yang menimba ibu dan kami sekeluarga. Biasanya setiap tahun kami dengan semangat sholat tarawih berjamaah, namun tahun ini berbeda ceritanya. Ibu, semua anaknya harus membagi waktu untuk bergantian menemani beliau.
Setidaknya aku memiliki dua hari untuk bisa secara langsung menemani ibu. Disisi lain, melewati dan merasakan malam pertama di bulan yang mulia berdua bersama ibu itu, aku bisa menikmatinya. Kami mengobrol apapun yang ada dibenak diri masing-masing, seakan ibu sedang tidak sakit walaupun kami berada diruangan pasien.
Aku sampai terkantuk-kantuk malam itu, yah baru kuingat bahwa semenjak pagi aku tak memberikan kesempatan pada raga untuk istirahat. Dimulai dari bekerja sampai malam ini, sungguh melelahkan jika dipikirkan. Namun, fokus pikiran yang tertuju pada ibu-lah yang seakan rasa lelah menjadi hilang.
Ibu: "nak..sekarang kamu harus makan, cari makanan diluar sana terus tidur disini."
Saya: "iya ma..nanti sekalian juga beli buat sahur nanti.."
#Bersambung
Esok paginya.. Suasana masih belum pasti, dalam kepalaku masih bercampur aduk. Keadaan ibuku makin parah, kudengar dari kakakku setidaknya sudah pernah mencoba berobat ke dokter beberapa hari sebelum ini tetapi tak ada perubahan. Ibu memang sering sakit-sakitan.
Aku dan kakakku melanjutkan pembicaraan semalam, kami harus memprioritaskan yang utama.
Kakak: "Dek jadi hari ini, pokoknya ibu harus segera dikasih penanganan yang pantes.."
Saya: "Iya.. haduuh gimana sih, kenapa ibu dalam keadaan ini sampe gak makan tiga hari segala..??!"
Kakak : "Kamu tahu sendiri.. ibu itu makannya susah, apalagi pas sakit kaya gini.. bilangnya gak nafsu.."
Saya:"Pokoknya pagi ini harus ada asupan buat ibu.."
Kakak: "Ya.. sekarang kamu berangkat ke rumah dokter itu yang semalem kita omongin.."
Saya: "kalau gitu saya berangkat dulu .."
Kakak: "ya.."
Pagi itu aku berangkat untuk menjemput dokter, kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kawasan tempat tinggalku.
Setibanya disana, kuketuk pintu rumah.
Saya: "Assalamualaykum.."Dokter: "Waalaykumsalam.. ada perlu apa?"Saya: "saya dari RT sebelah.. anak dari Ibu Umi.. mas dokter yang pernah periksa ibu saya?"Dokter: "ooh Ibu Umi itu.. iya sekitar seminggu yang lalu pernah berbobat disini, emang kenapa kang?"
Saya: "Itu, sekarang Ibu saya keadaannya gawat, bisa segera kesana mas ? saya bonceng naik motor.."Dokter: "Iya bisa.."Saya: "mas ada infus kan?"Dokter: "Infus ?! buat apa?"Saya: "Ibu saya sudah tiga hari belum ada asupan makanan...jadi.."Dokter: "Tiga hari?? Oke-oke.. kita berangkat"
Kami pun menuju segera menuju rumah, setelah tiba dirumah, dokter itu langsung memeriksa keadaan ibu.. Hal yang wajar jika beliau terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa ibu saya benar selama tiga hari tak ada asupan makanan.. terlihat dari kondisi ibu yang lemah.
Sambil terus ngobrol dengan ibu dan yang lain, mas dokter memasang infus dengan hati-hati. Tentu saja mataku ikut mengawasi setiap pekerjaan yang beliau lakukan.
Seusai memasang infus, dokter itu menerangkan tata cara mengganti botol infus apabila telah habis isinya. Dokter itu juga berpesan, walaupun sudah terpasang infus, ibu harus tetap ada asupan makanan walaupun sesendok bubur. Aku mengerti maksudnya dan akan memastikan itu.
Dokter: "Oke.. sudah selesai nih, jangan lupa ya ibu tolong utamakan asupan makanan dari mulut, akang juga tolong dampingi.."Saya: "Iya mas, yaudah saya antar kembali ke rumah.."
Selama perjalanan aku terus diingatkan mengenai kondisi ibu juga penanganannya. Dan akupun simak perkataannya.
Saya: "Terimakasih ya mas dokter.. saya bisa sedikit lega.."Dokter: "Iya sama-sama kang.. jangan lupa yang saya sampein tadi"Saya: "Akan saya ingat mas, jadi berapa semuanya?"Dokter: "Infus ya.. terus vitamin, ... ,, ... , jadi sekian kang"Saya: "ya.. boleh saya minta no.hp mas? Jika ada sesuatu yang perlu saya tanyakan gitu"Dokter: "08xxxxxx kalau ada apa-apa telpon aja kang"Saya: "Terimakasih ya mas, kalau gitu saya pamit ya.."Dokter: "iya.. makasih juga udah anter jemput .."
Saya: "sama-sama ya mas.. Assalamulaikum.."Dokter: "Wa'alaikumsalam.."
Setelah beberapa jam berlalu... kondisi ibuku terlihat membaik, sudah bisa duduk walau masih diranjang. Dan sudah mau menerima suapan makanan dari mulut meskipun masih sedikit.
Hingga sore hari, tiba saatnya aku untuk berangkat ke kontrakan. Tak rela rasanya harus pergi dengan kondisi ibu yang belum sehat total, kakakku berjanji untuk selalu mendampingi ibu dan memberitahu bahwa aku harus fokus pada pekerjaan. Jarak tempat bekerja dari rumah yang cukup lumayan itulah yang melatarbelakangi diriku untuk ngontrak.
Sudah tentu kemelut dipikiran masih tergambar jelas meskipun aku sudah menetap kembali dikontrakan serta ketika beraktifitas kerja. Rasa khawatir mengenai kesehatan ibu selalu mendominasi isi kepala.
Senin 23 Juni 2014...
Mau tidak mau inilah aktifitasku, sehari-hari dengan kegiatan yang monoton. Mengabdi sebagai pegawai di perusahaan. Dan akhir pekan diisi dengan belajar di bangku kuliah. Aku berpikir inilah fase yang harus kulalui.
Hari ini semuanya berjalan normal, hanya saja status 'siaga' selalu tertanam didalam kepalaku. Yang kumaksud adalah mengenai ibu di rumah. Perasaan was-was sebagai seorang anak yang ibunya sedang sakit tentu meluap-luap sepanjang hari.
Aku tak tahan lagi, kumanfaatkan waktu istirahat dihari bekerja untuk menelpon kakakku dirumah. Kakakku mengerti dan menenangkan aku bahwa ia selalu mengawasi ibu dan memastikan perawatannya sesuai dengan anjuran dokter. Ia juga terus meyakinkanku untuk tetap fokus bekerja seperti biasanya.
Akupun juga diyakinkan lagi melalui telepon oleh ibuku bahwa beliau baik-baik saja dan kakakku selalu mendampingi disana.
Hingga besoknya keadaan masih sama.. Semuanya sama seperti sebelumnya, aku juga menghubungi lagi kakakku dan menanyakan hal yang sama. Dan hasilnya tetap sama seperti kemarin.
Aku diminta untuk tetap fokus pada pekerjaan seperti biasa.
Hal ini pun sama dengan keesokan harinya. Tetapi menjelang sore hari, kakakku menghubungiku bahwa ibu mengeluh kesakitan dibagian perut. Ia berencana untuk membawa ibu ke sebuah klinik untuk diperiksa mengenai keluhan ibu yang baru tersebut, tetapi kakakku meminta agar aku tak usah repot-repot datang. Semuanya masih dalam pengawasan. Jadi aku tak perlu pulang.
Kamis 26 Juni 2014...
Aku melewati hari ini dengan tanpa semangat, gimana enggak? Ibu kembali mengeluh kesakitan dan dalam penanganan dokter baru. Sementara aku disini tak bisa berbuat apa-apa sambil terus dihantui kekhawatiran sepanjang hari.
Akupun kembali menghubungi kakak dirumah, ia mengatakan bahwa ibu telah diperiksa dan sudah dibuatkan resep obat oleh dokter di klinik. Ia kembali meminta agar aku tetap bekerja seperti biasa dan akan terus mendampingi ibu. Ibu sudah dirumah lagi.
Aku tak bisa membantah kakakku ini, ia adalah kakak tertua dikeluargaku. Meskipun kini ia telah berkeluarga dan mempunyai dua anak, rasa sayang dan cintanya kepada ibu tetap tertanam. Aku juga menyadari itu bahwa ibu memang sosok pahlawan bagi semua anaknya. Beliau mendidik para anaknya dengan seorang diri. Kami semua amat menyayangi ibu.
Besoknya pun tetap sama, ibu masih menjalani perawatan dirumah dengan mengikuti arahan dokter klinik untuk memastikan bahwa obat yang diberikan harus rutin dikonsumsi.
Tetapi malam harinya muncul lagi hal yang baru, ibu kembali mengeluh ditambah memuntahkan obat yang telah dikonsumsi. Kakakku berinisiatif untuk membawa lagi ke klinik. Kali ini kakakku meminta untuk pemeriksaan pada ibu secara menyeluruh. Semua fasilitas peralatan di klinik itu digunakan. Hasilnya cukup membuat kami terkejut, diagnosa menunjukkan ada masalah di sistem pencernaan pada bagian usus. Pihak klinik merekomendasikan untuk rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang sesuai.
Kakakku memberitahukan hal itu lewat telepon. Kali ini aku memaksa untuk pulang. Ia memahami ini, tetapi memohon aku untuk mengerti bahwa saat itu sudah larut malam. Keluarga dirumah memastikan pendampingan ibu. Juga, kakakku yang lain telah datang. Aku sebagai anak yang paling bungsu harus rela menahan diri lagi. Dihadapkan dengan semua kakak yang sudah ikut ambil bagian dalam perawatan ibu, aku hanya bisa tanya jawab lewat telepon.
Dan malam itupun aku tak bisa tidur, "ahhh gimana mau tidur??!" jeritku dalam hati.
Dan yang bisa kulakukan hanya berdoa memohon agar ibu segera diberi kesehatan.
Sabtu 28 Juni 2014..
Pagi-pagi sekali kutelepon kakak untuk memastikan rencana membawa ibu ke rumah sakit, ia mengatakan bahwa semua ia yang urus dan prioritas utama adalah penanganan ibu secepatnya. Ia akan memberitahu jika ada sesuatu hal yang harus kuketahui. Aku sudah tak sabar ingin mendampingi ibu. Kebetulan hari itu aku bekerja setengah hari, jadi bisa segera menuju rumah sakit.
Kali ini akan kumanfaatkan waktu hanya untuk mengawasi dan mendampingi ibu yang sedang dirawat. Aku tidak masuk kuliah dan untuk hari senin aku minta izin cuti. Dua hari bisa kujadikan totalitas untuk selalu berada disisi ibu.
Setibanya waktu pulang kerja, segera kumenuju rumah tentunya dengan menunaikan sholat dzuhur dahulu serta mendoakan kesehatan ibu.
Rasanya meluap-luap ingin segera bertemu, aku mengendarai motor lebih kencang dari biasanya. Meskipun aku tau bahwa berbahaya, "mau gimana lagi?" rasa rindu sudah tak terbendung. Perjalanan itu tak terasa lama bagiku mungkin Allah memudahkannya. Tujuanku rumah sakit tempat ibu dirawat, kakakku sebelumnya memberitahu dimana lokasi rinci tempat ibu dirawat seperti lokasi kamar, nomor kamar dan rutenya. Kakakku memberitahu itu via sms.
Setibanya di rumah sakit aku langsung menuju kamar tempat ibu berada. Disana sudah ada kakakku. Ibuku tersenyum ketika sesaat melihat kedatanganku.
Ibu: "dek.. tenangkan pikiranmu.. ibu nda apa-apa.. :) "
Saya: "gimana mau tenang? wong sudah di rumah sakit gini terus mesti dirawat, artinya kan ga normal.."
Kakak: "yaudah.. teteh pulang dulu ya, kamu temenin ibu disini.. dari pagi teteh disini.. tuh diatas meja ada surat-surat dari klinik ama surat-surat rumah sakit.." *keluar menuju pintu
Saya: "iya teh.. saya gantiin nemenin ibu disini.."
Ibu : "duduk nak.. tuh ada minuman, kamu belum makan?"
Saya: "gampang ma.."
Akupun akhirnya menemani ibu, kuperiksa surat-surat diatas meja. Semuanya kuteliti dengan seksama, ada beberapa gambar-gambar seperti hasil rontgen. Rupanya itu adalah gambar diagnosa dari klinik beberapa hari lalu mengenai penyakit ibu, banyak istilah medis yang tidak kuketahui dalam keterangan gambar itu. Yang jelas bentuk gambar seperti usus sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa disana letak rasa sakit yang ibu elu-elukan.
Selanjutnya kuperiksa surat-surat yang lain. Ada semacam kartu yang berisi biodata ibuku, lalu ada juga yang berisi seperti kolom-kolom pengecekan harian. Semuanya aku baca. Dengan bermodalkan surat-surat tersebut, aku bisa mengetahui status ibuku disini.
Setelah selesai dengan mempelajari surat-surat tadi, aku mengecek alat-alat medis yang menempel pada ibu. Dimulai dari botol infus, selang infus, ranjang, selimut dan keadaan ruangan.
Melihat tingkahku yang seperti itu, ibuku hanya tersenyum. Setelah aku bisa menguasai kedaan kamar tempat ibu dirawat, kini giliran ruangan informasi yang akan aku datangi. Aku bermaksud memastikan semuanya dalam keadaan baik dan aku harus mengetahui semuanya gambaran penanganan ibu disana.
Setelah dirasa cukup, aku kembali duduk menemani ibu sambil ngobrol ringan.
Ibu : "nak nanti malam kan sudah mulai tarawih... entar kamu pulang, sholat jamaah disana ya, biar kakakmu yang lain gantiin kamu, kamu jangan lupa doain ibu.."
Saya: "iya..ma.. sehabis tarawih, saya kesini lagi. Saya mau tidur disini aja nemenim ma.."
Ibu: "... :) "
Tak terasa, waktu petang sudah datang beriringan dengan kumandang adzan. Aku pun menunaikan sholat maghrib di rumah sakit itu, setelah selesai aku bersiap-siap pulang. Kakakku yang lain telah tiba untuk menggantikanku menemani ibu.
Saya: "Kak.. tuh diatas meja ada surat-surat rumah sakit dan perawatan rutin. Jangan lupa nanti jam tujuh malam jadwalnya ibu dapet makanan, klo ga ada hubungi suster yang ada diruang sebelah. Terus juga pastiin setelah makan, suster perawat untuk mengecek tekanan darah ibu, ngecek infus, semuanya dicek. Terus juga pasttin ibu ngabisin makanan. *sambil pergi menuju pintu
Kakak ke-2 : "Oooh.. iya dek......"
Ibu: "..:)"
Setibanya di rumah, aku lekas mandi dan bersiap-siap berangkat untuk shalat Isya dan Tarawih berjamaah.
Malam bulan Ramadhan yang cukup berbeda bagiku, tahun yang cukup berbeda kali ini. Dimana suasana bulan yang sungguh penuh berkah, diiringi dengan ujian yang menimba ibu dan kami sekeluarga. Biasanya setiap tahun kami dengan semangat sholat tarawih berjamaah, namun tahun ini berbeda ceritanya. Ibu, semua anaknya harus membagi waktu untuk bergantian menemani beliau.
Setidaknya aku memiliki dua hari untuk bisa secara langsung menemani ibu. Disisi lain, melewati dan merasakan malam pertama di bulan yang mulia berdua bersama ibu itu, aku bisa menikmatinya. Kami mengobrol apapun yang ada dibenak diri masing-masing, seakan ibu sedang tidak sakit walaupun kami berada diruangan pasien.
Aku sampai terkantuk-kantuk malam itu, yah baru kuingat bahwa semenjak pagi aku tak memberikan kesempatan pada raga untuk istirahat. Dimulai dari bekerja sampai malam ini, sungguh melelahkan jika dipikirkan. Namun, fokus pikiran yang tertuju pada ibu-lah yang seakan rasa lelah menjadi hilang.
Ibu: "nak..sekarang kamu harus makan, cari makanan diluar sana terus tidur disini."
Saya: "iya ma..nanti sekalian juga beli buat sahur nanti.."
#Bersambung






