Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Wednesday, June 17, 2015

1435H Terhangatku ~(-the_last-)~

Ketika ibu menjalani masa pemulihan di rumah, banyak kerabat dan saudara yang datang menjenguk. Hampir setiap hari ada saja yang datang, kebanyakan dari mereka mengutarakan keheranan atau bingung, bagaimana mungkin ibuku bisa secara drastis sehat. Jika melihat dari awal ketika sakit, amat terasa lama berjuang untuk melawan penyakit yang diderita. Ibuku hanya bisa berkata kepada setiap pengunjung yang datang bahwa kesabaran dan berpasrah atas segala ujian dan cobaan yang Allah berikan hendaknya selalu ditanamkan dalam diri. Bukan berarti ketika sedang kondisi tak baik, bisa mengurangi kedekatan kepada sang Khalik,  justru sebaliknya keadaan semacam itu jadikanlah sebagai momentum untuk lebih mendekat kepada Allah SWT.

Boleh jadi Allah sedang rindu kepada hamba-NYA maka dengan memberikan keadaan semacam itu (sakit) menjadikan hubungan antara sang pencipta dengan ciptaan-NYA semakin dekat. Atau juga sebagai ajang dalam menempuh "kenaikan kelas" dimata-NYA. Itulah kurang lebih apa yang ibuku katakan kepada setiap orang yang menjenguknya.

Aku sendiri melihat apa-apa yang dilontarkan ibu setiap saat hampir semuanya bernilai dakwah, aku sangat sayang dan cinta kepada ibu. Seorang ibu yang terlihat biasa tetapi bukan ibu biasa dimata-NYA kuyakin itu. Sebagai anaknya aku harus mencurahkan segala rasa bakti dan doa kepada ibu. Sosok ibu dari dulu hingga detik ini dan sampai kapanpun telah menjadi motivasi dalam setiap perbuatan yang kulakukan. Sebuah alasan atas dasar berbagai tindakan, karena ibu!

Dalam satu bulan Ramadhan di tahun 1435H sebagian besar perhatian pada kondisi sakitnya ibu serta suka cita atas kesembuhan sang ibu. Aku harap di tahun berikutnya yakni  1436H (tahun ini) kami sekeluarga dapat menikmati bulan suci itu tanpa ada sesuatu yang kurang.

Aku ingin ibu menyaksikan bagaimana diriku menjalani setiap fase kehidupan terutama memulai kehidupan baru. Berbagai bekal dari beliau aku sangat butuhkan. Ketika aku mengalami suatu keadaan begini dan begitu, nasehat dan perkataan ibu seperti apa, yang aku ingin dengar. Tentunya tak mungkin selalu dan selamanya.

Pada akhirnya Alhamdulillah di tahun ini, ibuku dalam keadaan sehat. Tiada rasa syukur yang paling tinggi selain mensyukuri keadaan ibu yang baik.


-selesai-

Monday, June 8, 2015

1435H Terhangatku ( Bagian Ke enam)

....

Hari itu adalah hari yang kacau, amat kacau. Menunggu kabar mengenai jalannya operasi yang dilakukan ibuku merupakan hal yang menyiksa. Seharian terasa seperti sepanjang tahun.

ilustration
Hingga sampai aku selesai bekerja dan pulang. Masih saja kakakku belum mengabari, aku akhirnya berencana akan menghubungi langsung ketika nanti sudah tiba di kontrakan. Tapi, ketika aku hubungi pada sore hari, nomor telepon kakakku tak bisa dihubungi. Aku sudah tak tahu harus mengeluarkan ekspresi apa. Aku hanya bisa menunggu, aku hanya bisa berdoa dari sini semoga tidak terjadi apa-apa pada ibu.

Aku terpaksa hanya ditemani gelapnya malam untuk meratapi rasa khawatir dan terlelap dalam doa. Semoga Allah melindungi ibu disana.

Keesokan harinya aku bekerja seperti biasa, aku harus berkhusnudzon mengenai perkara ini. Aku harus memahami bagaimana kakakku mengurus segalanya, karena dia juga anak ibu sekaligus kakak kandungku. Aku tak bisa terus egois dan aku harus percaya.

Tak sampai pada siang hari disela-sela melakukan pekerjaan, ponselku berdering dan kulihat nama kakakku menghubungi. Segera kuangkat.

"Dek..!! dek..! sukses..!! sukses!!"

"Apa yang sukses?!"

"Itu.. operasi ibu, lancaaarr..! hhaa"

"Oowwh.. iyaaa.. (Alhamdulillah) "

"Maaf dek.. baru ngabarin.. kemaren itu sibuk banget ngurus semuanya.. ibu sudah boleh pulang.."

"Iya teh... berarti udah ga apa-apa lagi ya..?"

"Udah plong,, seger.. pokoknya udah jauh beda ibu keliatannya.."

"Syukur Alhamdulillah ... nanti pulang deh"

"Jangan sekarang, pas libur kerja aja.. ga repot lagi kalau di rumah"

"Yasudah , makasih teh.. "


Alhamdulillah Allah masih sayang pada ibuku, doa-doa terijabah dan rasa bingung lepaslah sudah.
Allah masih memberikan kesempatan kepada ibuku untuk mencicipi indahnya Ramadhan melalui berbagai ibadah. Melantunkan kalam-kalam-NYA serta mendengar lantunan aya-ayat-NYA yang terkadang sesambil menjelang tertelap biasa dilakukan. Termasuk mendengarkanku dari jauh lewat pengeras suara sebuah Musholla disetiap malam.


Hari demi hari dalam beraktifitas, aku jalani dengan lebih baik dan penuh semangat.







#bersambung


Blogroll