Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Sunday, November 2, 2014

1435H… terhangat-ku


 
……
Semua umat Islam diseluruh dunia pasti gembira dan bersuka cita ketika hendak menjumpai bulan Ramadhan, tak terkecuali aku. Dengan segala kapasitas dan kuantitas pada bulan itu serta pesonanya adalah alasan mengapa semua umat islam bergembira menyambut kedatangan bulan penuh Rahmat tersebut.
Akupun demikian, ikut larut dalam euphoria kedatangan bulan ramadhan khususnya ditahun ini. Tiada rasa syukur yang pantas kupanjatkan selain rasa syukur karena masih diberi kesempatan merasakan bulan Ramadhan ditahun ini.
Adalah hal terindah dan sangat bahagia ketika di hari pertama melaksanakan ibadah puasa dan berbuka puasanya  bersama keluarga dirumah. Hampir semua orang pasti mengutamakan ini.

Dan Dari sinilah kisahku dimulai..
Hingga saat ini momen Ramadhan kemarin masih membekas dipikiranku dan hal ini takkan kulupa, sungguh takkan kulupa seumur hidupku. Banyak pelajaran yang kudapat..
Sebenarnya aku sangat bingung harus mulai dari mana.. karena kisah yang kualami ini terasa secara perlahan demi perlahan. Ibarat dalam sebuah pilem, aku adalah orang yang disiksa secara perlahan tanpa menyadari kapan siksaan itu dimulai dan berakhir. Aku sudah berpikir dalam untuk mulai menulis dari bagian yang mana untuk bisa masuk ke cerita sesungguhnya. Dan aku akhirnya mendapatkan satu kata untuk memulainya..

kata tersebut ialah “IBU”.
Membaca dan mendengar kata IBU , aku langsung terbayang sosok ibu. Beliaulah alasan mengapa dan apa yang kukerjakan hingga detik ini. Semua karena beliau.

Disaat aku berusia empat tahun hingga saat ini, beliaulah yang selalu mendidik dan mengurus tanpa menunjukkan betapa luar biasanya tantangan melakukan hal itu seorang diri, tentunya juga termasuk kakakku yang lain. Amat banyak yang sudah beliau lakukan untuk masa depan semua anaknya.
Hingga saat ini-pun beliau masih terus selalu memikirkan semua anaknya diusia yang kubilang “cukup”.
Maka dari segala hal mengenai beliau kujadikan alasan untuk terus berjuang.

Kembali kecerita…
~~
Jumat 13 Juni…
Dimulai hari itu aku mengetahui bahwa ibu sedang kurang fit, bisa kudengar dari suara batuknya. Tetapi beliaupun menganggap bahwa hanya batuk biasa sehingga  tak mudah menyerah hanya karena itu, segala aktifitas harus dihentikan. Memang bisa kulihat dan kuyakini juga bahwa penyakit kecil bisa hilang kalau dibawa aktifitas fisik sepanjang hari. Hingga malam untuk waktunya istirahat telah tiba, seisi rumahpun menutup aktifitasnya.

Dipagi hari semuanya baik-baik saja. Aku pergi bekerja dan ibu dengan aktifitasnya. Kebetulan aku bekerja setengah hari jadi bisa segera pulang kerumah untuk mempersiapkan diri serta segala sesuatu  untuk berangkat kuliah. Perlu teman-teman ketahui diakhir pekan adalah jadwalku untuk kuliah.
Setiba dirumah kudapati ibuku tengah berbaring dikamarnya, yah tentu saja kupikir wajar karena “jam segini” waktu yang pas untuk rehat sejenak ditengah hari. Sampai akhirnya kakak perempuanku memberitahu bahwa ibu tengah berbaring sejak tadi pagi, beliau harus menghentikan aktifitasnya karena keadaan badan yang terasa “gak enak”. Padahal sebelum itu tadi pagi tampak segar bugar.
Aku kaget lalu menghampiri beliau untuk ngobrol. Kami mengobrol biasa, ibuku terlihat bahwa tidak sedang sakit, bahkan menunjukkan senyum yang mencerminkan bahwa tidak ada hal mengkhawatirkan yang sedang terjadi. Walaupun sekarang kuketahui bahwa senyum itu palsu.

Beliaupun menyuruhku untuk segera pergi kuliah dan aku iyakan perintahnya.
Hingga petang menuju malam aku habiskan hari itu dikampus, setidaknya sekitar jam 7 malam aku mendapat telepon dari kakakku. Setelah menerima telepon, aku langsung beranjat ke parkiran motor dikampus sambil mengucap salam ke teman-teman disana untuk pulang lalu langsung  “kugeber” motor menuju suatu tempat.
Setibanya didepan sebuah Klinik, aku masuk diklinik itu untuk mencari informasi. Yah , obrolan ditelepon dengan kakakku tadi  itu mengenai tempat klinik yang melayani atau menyediakan perlengkapan USG dan Rontgen, harus kupastikan dapat tempatnya karena kakakku memberitahu bahwa keadaan ibu makin memburuk sehingga membuat kakakku langsung berfikir penyakit ibu harus segera diketahui secepatnya. Mendengar hal itu ditelepon, wajar saja jika aku sontak langsung “geber” motor dari kampus menuju klinik.
Sempat juga kutelepon teman yang kuanggap punya informasi yang sedang kucari. Hingga sampai kutanyakan bahwa Rumah Sakit mana yang buka disaat ini (sabtu malam) atau esoknya.

Setelah kurasa cukup dapat informasi, aku langsung menuju rumah. Saat itu bisa kuketahui ibu makin parah, terdengar suara keluhan terus menerus menahan sakit. Reflek dalam hati kuberdoa, “Ya Allah kuatkan, angkat penyakit ibuku, jaga jiwa raganya, beri kekuatan, lindungi selalu…” tanpa henti dalam hati.
Kemudian kutemui kakakku dan langsung membahas keadaan ibu. Inti dari obrolan kami adalah mengenai tempat-tempat mana yang bisa melayani pasien dihari libur, klinik mana yang sarananya lengkap hingga dokter mana yang bisa dipanggil kerumah.

Hingga obrolan ini terus berlangsung sambil sesekali menengok ibu dikamarnya untuk terus berkomunikasi. Sampai malam yang larut akhirnya kami harus menghentikan obrolan ini. Aku tidur tak jauh dari kamar ibuku, dimana posisinya bisa memantau keadaan beliau walau kusambil istirahat dilantai berlapis kasur lantai. Malam terus berjalan, suara keluhan demi keluhan ibuku terus terdengar.
Perasaanku kacau, sedih, khawatir, was-was dan sebagainya . Tentu saja aku terus berucap doa dalam hati untuk kesehatan beliau. Aku meminta doa semua teman-temanku, kukirimi mereka sms untuk mohon doa, semua media yang bisa kuakses, aku postingkan berharap doa dari siapa saja yang membaca demi tujuan kesehatan ibu.
Malam itu kuhabiskan dengan memohon doa kepada teman-temanku. Sampai akhirnya aku tak sadar mulai tertidur kapan.

#bersambung…

Blogroll