……
Semua umat Islam diseluruh dunia pasti gembira dan bersuka
cita ketika hendak menjumpai bulan Ramadhan, tak terkecuali aku. Dengan segala
kapasitas dan kuantitas pada bulan itu serta pesonanya adalah alasan mengapa
semua umat islam bergembira menyambut kedatangan bulan penuh Rahmat tersebut.
Akupun demikian, ikut larut dalam euphoria kedatangan bulan
ramadhan khususnya ditahun ini. Tiada rasa syukur yang pantas kupanjatkan
selain rasa syukur karena masih diberi kesempatan merasakan bulan Ramadhan
ditahun ini.
Adalah hal terindah dan sangat bahagia ketika di hari
pertama melaksanakan ibadah puasa dan berbuka puasanya bersama keluarga dirumah. Hampir semua orang
pasti mengutamakan ini.
Dan Dari sinilah kisahku dimulai..
Hingga saat ini momen Ramadhan kemarin masih membekas
dipikiranku dan hal ini takkan kulupa, sungguh takkan kulupa seumur hidupku.
Banyak pelajaran yang kudapat..
Sebenarnya aku sangat bingung harus mulai dari mana.. karena
kisah yang kualami ini terasa secara perlahan demi perlahan. Ibarat dalam
sebuah pilem, aku adalah orang yang disiksa secara perlahan tanpa menyadari
kapan siksaan itu dimulai dan berakhir. Aku sudah berpikir dalam untuk mulai
menulis dari bagian yang mana untuk bisa masuk ke cerita sesungguhnya. Dan aku
akhirnya mendapatkan satu kata untuk memulainya..
kata tersebut ialah “IBU”.
kata tersebut ialah “IBU”.
Membaca dan mendengar kata IBU , aku langsung terbayang
sosok ibu. Beliaulah alasan mengapa dan apa yang kukerjakan hingga detik ini.
Semua karena beliau.
Disaat aku berusia empat tahun hingga saat ini, beliaulah
yang selalu mendidik dan mengurus tanpa menunjukkan betapa luar biasanya
tantangan melakukan hal itu seorang diri, tentunya juga termasuk kakakku yang
lain. Amat banyak yang sudah beliau lakukan untuk masa depan semua anaknya.
Hingga saat ini-pun beliau masih terus selalu memikirkan
semua anaknya diusia yang kubilang “cukup”.
Maka dari segala hal mengenai beliau kujadikan alasan untuk
terus berjuang.
Kembali kecerita…
~~
Jumat 13 Juni…
Dimulai hari itu aku mengetahui bahwa ibu sedang kurang fit,
bisa kudengar dari suara batuknya. Tetapi beliaupun menganggap bahwa hanya
batuk biasa sehingga tak mudah menyerah
hanya karena itu, segala aktifitas harus dihentikan. Memang bisa kulihat dan
kuyakini juga bahwa penyakit kecil bisa hilang kalau dibawa aktifitas fisik
sepanjang hari. Hingga malam untuk waktunya istirahat telah tiba, seisi
rumahpun menutup aktifitasnya.
Dipagi hari semuanya baik-baik saja. Aku pergi bekerja dan
ibu dengan aktifitasnya. Kebetulan aku bekerja setengah hari jadi bisa segera
pulang kerumah untuk mempersiapkan diri serta segala sesuatu untuk berangkat kuliah. Perlu teman-teman
ketahui diakhir pekan adalah jadwalku untuk kuliah.
Setiba dirumah kudapati ibuku tengah berbaring dikamarnya,
yah tentu saja kupikir wajar karena “jam segini” waktu yang pas untuk rehat
sejenak ditengah hari. Sampai akhirnya kakak perempuanku memberitahu bahwa ibu
tengah berbaring sejak tadi pagi, beliau harus menghentikan aktifitasnya karena
keadaan badan yang terasa “gak enak”. Padahal sebelum itu tadi pagi tampak
segar bugar.
Aku kaget lalu menghampiri beliau untuk ngobrol. Kami
mengobrol biasa, ibuku terlihat bahwa tidak sedang sakit, bahkan menunjukkan
senyum yang mencerminkan bahwa tidak ada hal mengkhawatirkan yang sedang
terjadi. Walaupun sekarang kuketahui bahwa senyum itu palsu.
Beliaupun menyuruhku untuk segera pergi kuliah dan aku
iyakan perintahnya.
Hingga petang menuju malam aku habiskan hari itu dikampus,
setidaknya sekitar jam 7 malam aku mendapat telepon dari kakakku. Setelah
menerima telepon, aku langsung beranjat ke parkiran motor dikampus sambil
mengucap salam ke teman-teman disana untuk pulang lalu langsung “kugeber” motor menuju suatu tempat.
Setibanya didepan sebuah Klinik, aku masuk diklinik itu
untuk mencari informasi. Yah , obrolan ditelepon dengan kakakku tadi itu mengenai tempat klinik yang melayani atau
menyediakan perlengkapan USG dan Rontgen, harus kupastikan dapat tempatnya karena
kakakku memberitahu bahwa keadaan ibu makin memburuk sehingga membuat kakakku
langsung berfikir penyakit ibu harus segera diketahui secepatnya. Mendengar hal
itu ditelepon, wajar saja jika aku sontak langsung “geber” motor dari kampus
menuju klinik.
Sempat juga kutelepon teman yang kuanggap punya informasi yang
sedang kucari. Hingga sampai kutanyakan bahwa Rumah Sakit mana yang buka disaat
ini (sabtu malam) atau esoknya.
Setelah kurasa cukup dapat informasi, aku langsung menuju
rumah. Saat itu bisa kuketahui ibu makin parah, terdengar suara keluhan terus
menerus menahan sakit. Reflek dalam hati kuberdoa, “Ya Allah kuatkan, angkat
penyakit ibuku, jaga jiwa raganya, beri kekuatan, lindungi selalu…” tanpa henti
dalam hati.
Kemudian kutemui kakakku dan langsung membahas keadaan ibu.
Inti dari obrolan kami adalah mengenai tempat-tempat mana yang bisa melayani pasien
dihari libur, klinik mana yang sarananya lengkap hingga dokter mana yang bisa
dipanggil kerumah.
Hingga obrolan ini terus berlangsung sambil sesekali menengok ibu dikamarnya untuk terus berkomunikasi. Sampai malam yang larut akhirnya kami harus menghentikan obrolan ini. Aku tidur tak jauh dari kamar ibuku, dimana posisinya bisa memantau keadaan beliau walau kusambil istirahat dilantai berlapis kasur lantai. Malam terus berjalan, suara keluhan demi keluhan ibuku terus terdengar.
Perasaanku kacau, sedih, khawatir, was-was dan sebagainya .
Tentu saja aku terus berucap doa dalam hati untuk kesehatan beliau. Aku meminta
doa semua teman-temanku, kukirimi mereka sms untuk mohon doa, semua media yang
bisa kuakses, aku postingkan berharap doa dari siapa saja yang membaca demi
tujuan kesehatan ibu.
Malam itu kuhabiskan dengan memohon doa kepada teman-temanku. Sampai akhirnya aku tak sadar mulai tertidur kapan.
Malam itu kuhabiskan dengan memohon doa kepada teman-temanku. Sampai akhirnya aku tak sadar mulai tertidur kapan.
#bersambung…



