Aisyah namamu
"Kamu sudah sholat?"
"Belum.."
"Kalau begitu jamaah yuk?"
"He'em"
Kamipun sholat bersama, tak kusangka kau rela menungguku pulang dari bekerja dan tak mau melewatkan beribadah bersama aku suaminya.
Disebuah rumah sederhana, kami mengarungi rumah tangga sebagai pasangan baru. Entah rasa syukur seperti apa yang pantas kuucap, Allah menganugerahkan istri sholehah sepertinya. Yang selalu menyejukkan dikala aku merasa penat, yang selalu mengingatkan dikala aku lupa serta selalu sabar terhadap berbagai masalah dan kekuranganku.
Seperti biasa kami menyempatkan dalam sehari untuk saling bertilawah secara bergantian, satu sama lain saling mengoreksi bacaan. Diantara kami tidak ada yang merasa paling benar, tentunya sebagai seorang imam aku harus memastikan bahwa bacaanku haruslah baik karena aku sadar akan kewajibanku untuk mengajari dan membina. Aku bersyukur setidaknya membaca ayat suci tak menemui kesulitan.
"Terimaksih umi.. terimakasih bapak ustadz a, b, c, ... , " terucap dalam hati ketika momen belajar membaca kalam-NYA semenjak kecil selalu teringat.
Kami sangat menikmati kegiatan yang satu ini, saling mendengarkan, saling mengoreksi dan terkadang dibumbui tawa kecil. Begitu indah ibadah dalam bingkai rahmat dan ridho-NYA.
Kusaksikan saat dia membaca, kuperhatikan bacaannya. Namun kali ini kuperhatikan wajah polosnya, dia terus membaca dan kuterus menatapnya.
"Inilah istriku" gumamku dalam hati.
Entah mengapa sesaat kemudian pandanganku menjadi gelap, wajahnya yang kutatap perlahan mengilang.
"Astaghfirullah..!"
Aku tersentak kaget, Pandanganku kembali jelas sedikit-demi sedikit. Perlahan aku atur nafas, lalu ku senderkan badan pada dinding. Kucoba mencerna, barulah tersadar ternyata aku tertidur dan mengalami mimpi, mimpi yang belum pernah kualami selama ini.
Kulihat waktu menunjukkan hampir tengah malam, kuarahkan pandanganku pada sekeliling. Terlihat ada tumpukan baju, botol air mineral dan sebuah laptop yang masih menyala lengkap dengan tugas akhir kuliahku yang belum selesai. Aku baru ingat, aku mengalami kebuntuan saat mengerjakan tugas itu, lalu mencoba berhenti sejenak dan membuka ponsel. Entah apa yang kulakukan, ternyata terakhir aku telah ngobrol dengan seseorang. Dan akhirnya tertidur.
Orang yang kumaksud adalah dia yang akhir-akhir ini intens berkomunikasi denganku, banyak hal yang membuatku tertarik untuk terus mengobrol dengannya. Cara komunikasinya menurutku yang santun,lewat ketikan demi ketikan berbeda dari orang-orang yang pernah mengobrol denganku. Meskipun kami belum saling mengetahui secara langsung atau bertemu. Rasanya aku menikmati bisa saling membahas suatu hal untuk dibicarakan dengannya.
Cukup lama kami berkomunikasi, hingga pada akhirnya syetan mulai masuk diantara kami. Jalanya komunikasi mulai berubah, terkadang diantara kami ikut terpengaruh dengan sedikit berkata-kata yang seharusnya kami tak semestinya katakan.
Kaupun mulai menjauh dariku, mengurangi komunikasi denganku tak merespon sapaanku.
Hal itu membuatku berpikir, ini memang wajar. Komunikasi antara lawan jenis memang tak seharusnya mengalir tanpa batas. Kau adalah wanita baik-baik, akupun merasa bukan orang yang tak baik.
Aisyah, namamu Aisyah. Sosok yang hadir dalam kehidupan baruku, sosok yang mengisi hari-hariku walau sekedar menjadi teman ngobrol melalui media. Dengan kepolosanku aku berpikir sederhana. Hanya ada satu cara yang benar untuk terus bisa berkomunikasi denganmu bahkan bukan hanya komunikasi.
Satu cara yang entah kupikir nekad atau berani. Setidaknya kepolosanku dalam hal ini berniat baik.
Aisyah, semoga kau menyadari ini. Semua kepolosanku ini akan kuandalkan.
Tak salah jika kunamai kau dengan Aisyah.
#bersambung
"Kamu sudah sholat?"
"Belum.."
"Kalau begitu jamaah yuk?"
"He'em"
Kamipun sholat bersama, tak kusangka kau rela menungguku pulang dari bekerja dan tak mau melewatkan beribadah bersama aku suaminya.
Disebuah rumah sederhana, kami mengarungi rumah tangga sebagai pasangan baru. Entah rasa syukur seperti apa yang pantas kuucap, Allah menganugerahkan istri sholehah sepertinya. Yang selalu menyejukkan dikala aku merasa penat, yang selalu mengingatkan dikala aku lupa serta selalu sabar terhadap berbagai masalah dan kekuranganku.
Seperti biasa kami menyempatkan dalam sehari untuk saling bertilawah secara bergantian, satu sama lain saling mengoreksi bacaan. Diantara kami tidak ada yang merasa paling benar, tentunya sebagai seorang imam aku harus memastikan bahwa bacaanku haruslah baik karena aku sadar akan kewajibanku untuk mengajari dan membina. Aku bersyukur setidaknya membaca ayat suci tak menemui kesulitan.
"Terimaksih umi.. terimakasih bapak ustadz a, b, c, ... , " terucap dalam hati ketika momen belajar membaca kalam-NYA semenjak kecil selalu teringat.
Kami sangat menikmati kegiatan yang satu ini, saling mendengarkan, saling mengoreksi dan terkadang dibumbui tawa kecil. Begitu indah ibadah dalam bingkai rahmat dan ridho-NYA.
Kusaksikan saat dia membaca, kuperhatikan bacaannya. Namun kali ini kuperhatikan wajah polosnya, dia terus membaca dan kuterus menatapnya.
"Inilah istriku" gumamku dalam hati.
Entah mengapa sesaat kemudian pandanganku menjadi gelap, wajahnya yang kutatap perlahan mengilang.
"Astaghfirullah..!"
Aku tersentak kaget, Pandanganku kembali jelas sedikit-demi sedikit. Perlahan aku atur nafas, lalu ku senderkan badan pada dinding. Kucoba mencerna, barulah tersadar ternyata aku tertidur dan mengalami mimpi, mimpi yang belum pernah kualami selama ini.
Kulihat waktu menunjukkan hampir tengah malam, kuarahkan pandanganku pada sekeliling. Terlihat ada tumpukan baju, botol air mineral dan sebuah laptop yang masih menyala lengkap dengan tugas akhir kuliahku yang belum selesai. Aku baru ingat, aku mengalami kebuntuan saat mengerjakan tugas itu, lalu mencoba berhenti sejenak dan membuka ponsel. Entah apa yang kulakukan, ternyata terakhir aku telah ngobrol dengan seseorang. Dan akhirnya tertidur.
Orang yang kumaksud adalah dia yang akhir-akhir ini intens berkomunikasi denganku, banyak hal yang membuatku tertarik untuk terus mengobrol dengannya. Cara komunikasinya menurutku yang santun,lewat ketikan demi ketikan berbeda dari orang-orang yang pernah mengobrol denganku. Meskipun kami belum saling mengetahui secara langsung atau bertemu. Rasanya aku menikmati bisa saling membahas suatu hal untuk dibicarakan dengannya.
Cukup lama kami berkomunikasi, hingga pada akhirnya syetan mulai masuk diantara kami. Jalanya komunikasi mulai berubah, terkadang diantara kami ikut terpengaruh dengan sedikit berkata-kata yang seharusnya kami tak semestinya katakan.
Kaupun mulai menjauh dariku, mengurangi komunikasi denganku tak merespon sapaanku.
Hal itu membuatku berpikir, ini memang wajar. Komunikasi antara lawan jenis memang tak seharusnya mengalir tanpa batas. Kau adalah wanita baik-baik, akupun merasa bukan orang yang tak baik.
Aisyah, namamu Aisyah. Sosok yang hadir dalam kehidupan baruku, sosok yang mengisi hari-hariku walau sekedar menjadi teman ngobrol melalui media. Dengan kepolosanku aku berpikir sederhana. Hanya ada satu cara yang benar untuk terus bisa berkomunikasi denganmu bahkan bukan hanya komunikasi.
Satu cara yang entah kupikir nekad atau berani. Setidaknya kepolosanku dalam hal ini berniat baik.
Aisyah, semoga kau menyadari ini. Semua kepolosanku ini akan kuandalkan.
Tak salah jika kunamai kau dengan Aisyah.
#bersambung




