Ketika ibu menjalani masa pemulihan di rumah, banyak kerabat dan saudara yang datang menjenguk. Hampir setiap hari ada saja yang datang, kebanyakan dari mereka mengutarakan keheranan atau bingung, bagaimana mungkin ibuku bisa secara drastis sehat. Jika melihat dari awal ketika sakit, amat terasa lama berjuang untuk melawan penyakit yang diderita. Ibuku hanya bisa berkata kepada setiap pengunjung yang datang bahwa kesabaran dan berpasrah atas segala ujian dan cobaan yang Allah berikan hendaknya selalu ditanamkan dalam diri. Bukan berarti ketika sedang kondisi tak baik, bisa mengurangi kedekatan kepada sang Khalik, justru sebaliknya keadaan semacam itu jadikanlah sebagai momentum untuk lebih mendekat kepada Allah SWT.
Boleh jadi Allah sedang rindu kepada hamba-NYA maka dengan memberikan keadaan semacam itu (sakit) menjadikan hubungan antara sang pencipta dengan ciptaan-NYA semakin dekat. Atau juga sebagai ajang dalam menempuh "kenaikan kelas" dimata-NYA. Itulah kurang lebih apa yang ibuku katakan kepada setiap orang yang menjenguknya.
Aku sendiri melihat apa-apa yang dilontarkan ibu setiap saat hampir semuanya bernilai dakwah, aku sangat sayang dan cinta kepada ibu. Seorang ibu yang terlihat biasa tetapi bukan ibu biasa dimata-NYA kuyakin itu. Sebagai anaknya aku harus mencurahkan segala rasa bakti dan doa kepada ibu. Sosok ibu dari dulu hingga detik ini dan sampai kapanpun telah menjadi motivasi dalam setiap perbuatan yang kulakukan. Sebuah alasan atas dasar berbagai tindakan, karena ibu!
Dalam satu bulan Ramadhan di tahun 1435H sebagian besar perhatian pada kondisi sakitnya ibu serta suka cita atas kesembuhan sang ibu. Aku harap di tahun berikutnya yakni 1436H (tahun ini) kami sekeluarga dapat menikmati bulan suci itu tanpa ada sesuatu yang kurang.
Aku ingin ibu menyaksikan bagaimana diriku menjalani setiap fase kehidupan terutama memulai kehidupan baru. Berbagai bekal dari beliau aku sangat butuhkan. Ketika aku mengalami suatu keadaan begini dan begitu, nasehat dan perkataan ibu seperti apa, yang aku ingin dengar. Tentunya tak mungkin selalu dan selamanya.
Pada akhirnya Alhamdulillah di tahun ini, ibuku dalam keadaan sehat. Tiada rasa syukur yang paling tinggi selain mensyukuri keadaan ibu yang baik.
-selesai-
Boleh jadi Allah sedang rindu kepada hamba-NYA maka dengan memberikan keadaan semacam itu (sakit) menjadikan hubungan antara sang pencipta dengan ciptaan-NYA semakin dekat. Atau juga sebagai ajang dalam menempuh "kenaikan kelas" dimata-NYA. Itulah kurang lebih apa yang ibuku katakan kepada setiap orang yang menjenguknya.
Aku sendiri melihat apa-apa yang dilontarkan ibu setiap saat hampir semuanya bernilai dakwah, aku sangat sayang dan cinta kepada ibu. Seorang ibu yang terlihat biasa tetapi bukan ibu biasa dimata-NYA kuyakin itu. Sebagai anaknya aku harus mencurahkan segala rasa bakti dan doa kepada ibu. Sosok ibu dari dulu hingga detik ini dan sampai kapanpun telah menjadi motivasi dalam setiap perbuatan yang kulakukan. Sebuah alasan atas dasar berbagai tindakan, karena ibu!
Dalam satu bulan Ramadhan di tahun 1435H sebagian besar perhatian pada kondisi sakitnya ibu serta suka cita atas kesembuhan sang ibu. Aku harap di tahun berikutnya yakni 1436H (tahun ini) kami sekeluarga dapat menikmati bulan suci itu tanpa ada sesuatu yang kurang.
Aku ingin ibu menyaksikan bagaimana diriku menjalani setiap fase kehidupan terutama memulai kehidupan baru. Berbagai bekal dari beliau aku sangat butuhkan. Ketika aku mengalami suatu keadaan begini dan begitu, nasehat dan perkataan ibu seperti apa, yang aku ingin dengar. Tentunya tak mungkin selalu dan selamanya.
Pada akhirnya Alhamdulillah di tahun ini, ibuku dalam keadaan sehat. Tiada rasa syukur yang paling tinggi selain mensyukuri keadaan ibu yang baik.
-selesai-





0 comments:
Post a Comment