Aku keluar dari ruangan itu, kutinggalkan ibu yang memang hanya bisa terbaring. Suasana ramai malam ini semakin mengental dan meyakinkan bahwa aku ini benar-benar berada di rumah sakit, tempat dimana ibuku dirawat. Sembari mencari makanan di luar... perjalananku selangkah demi selangkah dihiasi oleh orang-orang yang sama kondisinya sepertiku, kulihat sesekali tiap menyisiri tiap blok terdapat para keluarga yang menjenguk sanak saudaranya.. mereka terlihat lelah.. terduduk dan ada yang terbaring di pelataran hingga terlelap.. terlihat sepanjang teras ruang perawatan. Lalu tak kalah juga dengan jalanan berlantai tegel keramik yang kutapaki , diramaikan dengan lalu-lalang para suster, pegawai dan tentunya didominasi oleh para penjenguk. Dan aku salah satu dari mereka. Ditambah lagi bahwa ini adalah malam pertama di bulan Ramadhan... lantunan ayat suci ikut mewarnai pendengaran semua orang di sini. Seakan ikut ingin membantu kami dengan mengingatkan bahwa pencipta kami selalu ada dan memperhatikan diamanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisi makhluk ciptaanNYA. Dan akupun menyelipkan doa dalam hati semoga Ibu segera pulih.
Aku membeli makanan seadanya lalu kembali, beberapa potong bacang lengkap dengan gorengannya kubawa guna menemani malam ini. Saat itu aku tak terlalu bernafsu makan. Aku hanya ingin selalu menjaga ibu dengan sisa waktu yang kumiliki. Malam ini kucurahkan semua perhatian kepada sosok malaikat yang membesarkanku.
Aku nikmati makanan yang kubeli tadi sambil berbincang hangat bersama ibu, rasanya tak ada momen bahagia nan indah selain saat ini. Kami berbicara banyak hal, seakan tak terjadi apa-apa. Terkadang ibu menunjukkan senyumnya. Kami larut dalam obrolan di malam ini hingga waktu memberitahu bahwa saatnya untuk ibu terlelap.
"ma.. sekarang tidur ya... udah jam segini.."
"iya nak.. kamu juga ya.."
Kuperhatikan ibu terlelap dengan tenangnya. Telihat jelas kerut kulitnya, kantung matanya, rambutnya yang telah ditumbuhi uban... menandakan betapa keras perjuangan beliau selama ini, perjuangan membesarkan anak-anaknya tanpa seorang suami. Sesekali aku menitikkan air mata, ingin rasanya berbicara dengan sosok ayah. Sosok imam di keluarga yang wajahnya kuingat melalui sebuah poto, karakternya yang kutahu melalui cerita-cerita anggota keluarga serta keuletannya dalam beribadah yang terkadang ibu beritahu dalam keseharianku. Hanya melalui orang lain aku membayangkan sosok ayah, yaa karena aku telah ditinggalnya sejak berusia empat tahun. Bahkan aku sampai lupa bagaimana masa kanak-kanak ketika beliau masih hidup.
"wahai ayah... lihatlah perjuangan istrimu ini.. ibu mengemban semua amanah sebagai kepala keluarga serta ibu rumah tangga.."
"ya Rabb jangan KAU biarkan wanita tangguh ini terbaring tak berdaya di tempat seperti ini... "
Tanpa terasa.. bola mata terasa semakin berat, tubuh ini mulai berontak meminta haknya untuk istirahat.. aku baringkan diri di lantai dengan beralaskan kain di samping ranjang ibuku terbaring. Lantunan ayat suci mengantarkanku melelapkan diri.
29 Juni 2014
"nak.. nak.. bangun.. bangun.."
Sayup-sayup terdengan suara dalam keadaanku antara terlelap setengah sadar hingga perlahan membuka mata, ternyata ibuku..beliau memberitahu bahwa saatnya sahur. Aku membangunkan diri perlahan, mengumpulkan energi. Kuraih sebuah botol berisi air lalu kutenggak.
Sedikit demi sedikit kuhabiskan beberapa potong bacang yang telah dingin yang kusisihkan semalam. Bagiku ini sudah cukup, aku tak terlalu memprioritaskan apa yang kumakan.
"ma.. tidur lagi ya.. makasih udah ngebangunin.. sekarang udah ga papa"
"yaudah.. jangan lupa siap-siap sholat subuh.."
Kuperhatikan ibuku mulai terlelap lagi, dengan kondisi masih dalam keadaan sakit beliau tetap tidak lupa waktu-waktu penting, terutama ibadah. Padahal ini hari pertama puasa, beliau sudah sejauh ini membangunkanku untuk sahur. Aku berpikir tidak semua orang yang sedang sakit memikirkan ini, memikirkan dan mengingatkan orang lain untuk suatu hal, aku rasa orang yang sedang sakit setidaknya berpikir bagaimana agar dirinya sendiri sehat secepat mungkin.
"ma.. aku bangga padamu.." dalam hati.
Kumandang adzan mengiringi langkahku untuk menunaikan sholat. Dalam duduk penuh khusyuk, kupastikan doa terbaik untuk ibu terucap.
Suasana rumah sakit lambat laut mulai semakin ramai, diiringi cahaya mentari dan kokok ayam dari berbagai arah. Aku terduduk disamping tempat ibuku membaringkan diri. Hingga beliau mulai bangun.
"nak.. apa kau hari ini ada suatu acara?"
"......sepertinya ada ma.. sekitar jam delapan.."
"kalau begitu siap-siap pulang saja.. nanti kakakmu yang gantikan jaga disini.."
Aku teringat bahwa hari ini ada suatu acara yang sudah direncanakan, aku bisa sedikit lega karena kakakku pagi ini akan datang. Acara yang akan kuhadiri adalah perkumpulan yang baru aku masuki, sebuah komunitas bisnis. Kebetulan juga pertemuan pertama, kupikir setidaknya aku luangkan waktu untuk mengetahui apakah perkumpulan itu berguna bagiku. Terbesit dalam benak aku ingin membangun sebuah usaha, kelak suatu saat tidak lagi terpenjara waktu didunia kerja, angan-angan yang selama ini aku jaga. Itulah alasan kuat mengapa kulibatkan diri disuatu perkumpulan yang bertemakan bisnis atau usaha, berharap menjadi batu loncatan awal dimana aku bisa memulai sebuah usaha.
Setibanya kakakku di sini, aku pamit untuk pulang berganti pakaian lalu menuju tempat dimana acara itu berlangsung. Kuikuti dengan seksama, hingga pada suatu momen giliranku untuk mengenalkan diri.. tak lupa kuutarakan kepada semua yang hadir disana, aku mohon doa semuanya untuk kesehatan ibuku.
Hingga siang menjelang sore, kuikuti acara itu sampai selesai. Sore hari seusai ashar.. kukabari kakakku bahwa aku hendak kesana. Aku ingin berbuka puasa ditemani ibu.
Setibanya kembali ditempat ibu, aku mulai kembali memeriksa segala sesuatu di ruangan itu. Kucek semua perlengkapan medis yang melekat pada tubuh ibuku. Kupastikan semuanya dalam kondisi baik. Setelah itu aku kembali duduk di samping ibu.
Menjelang berbuka puasa, seseorang datang menghampiriku.
"...mas..nih ada sedikit qurma.. monggo dicoba untuk buka puasa.."
"eeh iya, terimakasih banyak.. mas juga jenguk seseorang?"
"iya.. istri saya kebetulan diwarat di sebelah"
"begitu ya.. semoga lekas sehat ya mas"
"makasih ya dek.." sahut ibuku.
''iya terimakasih.. mas.. bu.."
Kumandang adzan sudah terdengar, mengantarkan aku dan semua orang di tempat ini membatalkan puasa.. puasa pertama di rumah sakit.
Rasanya cepat sekali, besok aku sudah harus kembali bekerja. Malam ini aku pun sudah harus pergi ke tempat dimana aku mengontrak.
Sisanya aku percayakan kepada kakakku untuk menjaga ibu. Dan selanjutnya keseharianku akan diwarnai lagi oleh kekhawatiran mengenai perkembangan ibu, sebuah tanda tanya yang akan terus tertanam sebelum ibuku pulih.
#Bersambung.......
#Bukan Penulis
#Hanya berbagi dengan tulisan
PenAsep.blogspot.com
Aku membeli makanan seadanya lalu kembali, beberapa potong bacang lengkap dengan gorengannya kubawa guna menemani malam ini. Saat itu aku tak terlalu bernafsu makan. Aku hanya ingin selalu menjaga ibu dengan sisa waktu yang kumiliki. Malam ini kucurahkan semua perhatian kepada sosok malaikat yang membesarkanku.
Aku nikmati makanan yang kubeli tadi sambil berbincang hangat bersama ibu, rasanya tak ada momen bahagia nan indah selain saat ini. Kami berbicara banyak hal, seakan tak terjadi apa-apa. Terkadang ibu menunjukkan senyumnya. Kami larut dalam obrolan di malam ini hingga waktu memberitahu bahwa saatnya untuk ibu terlelap.
"ma.. sekarang tidur ya... udah jam segini.."
"iya nak.. kamu juga ya.."
Kuperhatikan ibu terlelap dengan tenangnya. Telihat jelas kerut kulitnya, kantung matanya, rambutnya yang telah ditumbuhi uban... menandakan betapa keras perjuangan beliau selama ini, perjuangan membesarkan anak-anaknya tanpa seorang suami. Sesekali aku menitikkan air mata, ingin rasanya berbicara dengan sosok ayah. Sosok imam di keluarga yang wajahnya kuingat melalui sebuah poto, karakternya yang kutahu melalui cerita-cerita anggota keluarga serta keuletannya dalam beribadah yang terkadang ibu beritahu dalam keseharianku. Hanya melalui orang lain aku membayangkan sosok ayah, yaa karena aku telah ditinggalnya sejak berusia empat tahun. Bahkan aku sampai lupa bagaimana masa kanak-kanak ketika beliau masih hidup.
"wahai ayah... lihatlah perjuangan istrimu ini.. ibu mengemban semua amanah sebagai kepala keluarga serta ibu rumah tangga.."
"ya Rabb jangan KAU biarkan wanita tangguh ini terbaring tak berdaya di tempat seperti ini... "
Tanpa terasa.. bola mata terasa semakin berat, tubuh ini mulai berontak meminta haknya untuk istirahat.. aku baringkan diri di lantai dengan beralaskan kain di samping ranjang ibuku terbaring. Lantunan ayat suci mengantarkanku melelapkan diri.
29 Juni 2014
"nak.. nak.. bangun.. bangun.."
Sayup-sayup terdengan suara dalam keadaanku antara terlelap setengah sadar hingga perlahan membuka mata, ternyata ibuku..beliau memberitahu bahwa saatnya sahur. Aku membangunkan diri perlahan, mengumpulkan energi. Kuraih sebuah botol berisi air lalu kutenggak.
Sedikit demi sedikit kuhabiskan beberapa potong bacang yang telah dingin yang kusisihkan semalam. Bagiku ini sudah cukup, aku tak terlalu memprioritaskan apa yang kumakan.
"ma.. tidur lagi ya.. makasih udah ngebangunin.. sekarang udah ga papa"
"yaudah.. jangan lupa siap-siap sholat subuh.."
Kuperhatikan ibuku mulai terlelap lagi, dengan kondisi masih dalam keadaan sakit beliau tetap tidak lupa waktu-waktu penting, terutama ibadah. Padahal ini hari pertama puasa, beliau sudah sejauh ini membangunkanku untuk sahur. Aku berpikir tidak semua orang yang sedang sakit memikirkan ini, memikirkan dan mengingatkan orang lain untuk suatu hal, aku rasa orang yang sedang sakit setidaknya berpikir bagaimana agar dirinya sendiri sehat secepat mungkin.
"ma.. aku bangga padamu.." dalam hati.
Kumandang adzan mengiringi langkahku untuk menunaikan sholat. Dalam duduk penuh khusyuk, kupastikan doa terbaik untuk ibu terucap.
Suasana rumah sakit lambat laut mulai semakin ramai, diiringi cahaya mentari dan kokok ayam dari berbagai arah. Aku terduduk disamping tempat ibuku membaringkan diri. Hingga beliau mulai bangun.
"nak.. apa kau hari ini ada suatu acara?"
"......sepertinya ada ma.. sekitar jam delapan.."
"kalau begitu siap-siap pulang saja.. nanti kakakmu yang gantikan jaga disini.."
Aku teringat bahwa hari ini ada suatu acara yang sudah direncanakan, aku bisa sedikit lega karena kakakku pagi ini akan datang. Acara yang akan kuhadiri adalah perkumpulan yang baru aku masuki, sebuah komunitas bisnis. Kebetulan juga pertemuan pertama, kupikir setidaknya aku luangkan waktu untuk mengetahui apakah perkumpulan itu berguna bagiku. Terbesit dalam benak aku ingin membangun sebuah usaha, kelak suatu saat tidak lagi terpenjara waktu didunia kerja, angan-angan yang selama ini aku jaga. Itulah alasan kuat mengapa kulibatkan diri disuatu perkumpulan yang bertemakan bisnis atau usaha, berharap menjadi batu loncatan awal dimana aku bisa memulai sebuah usaha.
Setibanya kakakku di sini, aku pamit untuk pulang berganti pakaian lalu menuju tempat dimana acara itu berlangsung. Kuikuti dengan seksama, hingga pada suatu momen giliranku untuk mengenalkan diri.. tak lupa kuutarakan kepada semua yang hadir disana, aku mohon doa semuanya untuk kesehatan ibuku.
Hingga siang menjelang sore, kuikuti acara itu sampai selesai. Sore hari seusai ashar.. kukabari kakakku bahwa aku hendak kesana. Aku ingin berbuka puasa ditemani ibu.
Setibanya kembali ditempat ibu, aku mulai kembali memeriksa segala sesuatu di ruangan itu. Kucek semua perlengkapan medis yang melekat pada tubuh ibuku. Kupastikan semuanya dalam kondisi baik. Setelah itu aku kembali duduk di samping ibu.
Menjelang berbuka puasa, seseorang datang menghampiriku.
"...mas..nih ada sedikit qurma.. monggo dicoba untuk buka puasa.."
"eeh iya, terimakasih banyak.. mas juga jenguk seseorang?"
"iya.. istri saya kebetulan diwarat di sebelah"
"begitu ya.. semoga lekas sehat ya mas"
"makasih ya dek.." sahut ibuku.
''iya terimakasih.. mas.. bu.."
Kumandang adzan sudah terdengar, mengantarkan aku dan semua orang di tempat ini membatalkan puasa.. puasa pertama di rumah sakit.
Rasanya cepat sekali, besok aku sudah harus kembali bekerja. Malam ini aku pun sudah harus pergi ke tempat dimana aku mengontrak.
Sisanya aku percayakan kepada kakakku untuk menjaga ibu. Dan selanjutnya keseharianku akan diwarnai lagi oleh kekhawatiran mengenai perkembangan ibu, sebuah tanda tanya yang akan terus tertanam sebelum ibuku pulih.
#Bersambung.......
#Bukan Penulis
#Hanya berbagi dengan tulisan
PenAsep.blogspot.com




