Pages

Subscribe:

Footer3

Footer2

Footer1

Tuesday, April 14, 2015

Terimakasih Muslimah

Tiba akhirnya untuk kami berempat menuju rumah Muslimah... Kami disambutnya beserta orangtuanya. Suasana saat itu amat santai dan cepat mencair. Diawal-awal kami mengobrol sekedar saling bertanya kabar dan perkembangan aktifitas, dan tentunya menanyakan keadaan adik Muslimah yang akhirnya kami lihat masih terbaring lemah tak berdaya di kamarnya.

Ibunya menceritakan bahwa si adik ini anaknya periang, rajin dan tidak bandel.. kami menyimak cerita beliau bagaimana menggambarkan anak bungsunya itu, sesekali Muslimah ikut menimpali bagaimana hubungan dia dan adiknya itu.

ilustrasi
Setelah selesai menengok di kamar adiknya, kamipun kembali ke ruang tamu lalu melanjutkan pembahasan lain. Perihal kuliah di luar negeri dan aktifitas terkinipun menjadi topik yang kami tanyakan kepada Muslimah. Dengan santai dia memaparkan. Dia menjelaskan bagaimana awal mula mencari-cari jalan untuk memperoleh beasiswa, mencari rekan di negara tujuan, mempersiapkan segala macam yang perlu dipersiapkan. Ia pun sempat menceritakan bagaimana masa-masa karantina bersama peserta lain. Perjalanan penuh hambatan dari rumah menuju tempat karantina pun tak sampai lupa ia paparkan. Kami menyimak ceritanya dengan terkagum-kagum dan kadang sesekali tertawa karena Muslimah sesekali menunjukkan sisi polosnya.

Aku yang salah seorang dari mereka hanya bisa diam dan menyimak jalannya obrolan itu. Tentu saja aku masih dihantui kemelut serta kebingungan plus rasa grogi yang sudah berakar semenjak awal . Hingga akhirnya salah seorang rekan perempuan menyinggungku , "Asep kok diem aja? ngomong dong". Kalimat itu sukses membuat lamunan dalam kebingunganku pecah. Tanpa diperintah atau direncakanan mulutku bicara dengan sendirinya "Saya sedang menyimak nih" mantap keluar dari mulutku sambil mengeluarkan mimik senyum nan percaya diri. Mereka tak tahu sebenarnya bahwa aku tak mempunyai kata-kata untuk dilontarkan.

Sesaat mendengar itu Muslimah pun berkata, "Menjadi pendengar yang baik ya" lengkap dengan senyumnya. Dan akupun hanya bisa tersenyum. Lalu obrolan pun berlanjut hingga sore hari.

Kami pun akhirnya harus menyudahi kunjungan itu, sebelum pamitan tak lupa kami bawakan oleh-oleh untuk si adik Muslimah yang tengah sakit. Lalu kami pun menyampaikan terimakasih dan doa kepada adik Muslimah.

Aku akhirnya bisa bernafas lega telah melewati hari ini dengan lancar, terlebih agenda menjenguk adik Muslimah dan pertemuan dengannya setelah sekian waktu atau setelah obrolan terakhir kami.
Aku sempat melihat mimik tersendiri dari wajahnya saat aku dan yang lain berkunjung, mungkin dia pun menyadari dan memahami sikapku yang lebih memilih banyak diam saat itu. Untunglah tidak terjadi obrolan yang tidak aku dan dia khawatirkan akan terlontar dengan sendirinya.

Entah kenapa malamnya aku menjadi merasa lega, kemelut dan kebimbangan seakan menghilang. Saat itu, aku berfikir tak mau orang seperti dia dan orang-orang lain yang kutemui dalam hidup ini yang meninggalkan kesan berbeda, aku tak ingin melupakan bagaimana hal itu bisa mewarnai perjalanan hidupku. Dan aku memutuskan untuk membuat tulisan. Dan tulisan seperti ini serta sebelumnyalah adalah hasil dari ideku malam itu.

Aku menyutujui bahwa semua orang pasti akan mengingat perjalana hidupnya, tetapi tidak semua orang dapat merekam serta mengemas kisah mereka dengan suatu cara, dan salah satu cara tersebut adalah dengan menorehkannya keadalam bentuk tulisan.

Aku yang mulai menyukai dunia menulis, bisa dikatakan bahwa perkenalan dengan Muslimah adalah salah satu pemicunya.

Terimakasih Muslimah, aku dan teman-teman lainnya terus mendoakan serta mendukung impian-impian hebatmu. Teruslah maju. Percayalah pada kehendak-NYA.. Karena segala sesuatu terjadi berkat kehendak-NYA. Termasuk keajaiban.

Salah satu hal yang bisa menolong keadaan buntu manusia adalah keajaiban.. dan keajaiban berasal dari kehendak-NYA.


4 comments:

Blogroll